Mengabdi sebagai ASN: Catatan Pelayanan Publik dari Tanah Wawonii
Tulisan dari La Ode Muhammad Ichwan Sjachrawy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) membawa saya pada perjalanan yang ternyata jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan pekerjaan pemerintahan. Sejak mulai mengabdi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Konawe Kepulauan pada 2019, saya perlahan memahami bahwa bekerja di pemerintahan bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, mengikuti prosedur, atau memenuhi target pekerjaan. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang kita kerjakan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Konawe Kepulauan, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Pulau Wawonii, menjadi tempat saya banyak belajar tentang arti pengabdian. Sebagai wilayah kepulauan, pembangunan di daerah ini memiliki tantangan yang tidak sedikit. Kondisi geografis, jarak antarwilayah, akses transportasi, keterbatasan infrastruktur, hingga kemampuan fiskal daerah membuat banyak pekerjaan membutuhkan proses yang panjang dan tidak selalu sederhana. Namun, dari berbagai keterbatasan itulah saya justru belajar melihat pembangunan dengan cara yang berbeda: bukan hanya dari apa yang berhasil dibangun, tetapi dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Belajar dari Lapangan
Pada awal menjadi ASN, saya menjalankan tugas sebagai staf di Dinas Pekerjaan Umum. Masa itu menjadi bagian penting dalam perjalanan saya karena hampir setiap hari selalu ada hal baru yang harus dipelajari. Mulai dari administrasi pemerintahan, perencanaan, pelaksanaan kegiatan, koordinasi, hingga menghadapi berbagai persoalan yang muncul langsung di lapangan.
Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pembangunan tidak cukup dinilai dari berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa meter jaringan perpipaan yang terpasang, atau berapa banyak infrastruktur yang berhasil diselesaikan. Angka-angka itu tentu penting sebagai ukuran kinerja. Namun, di balik setiap pekerjaan pemerintah selalu ada masyarakat yang menunggu manfaatnya.
Sebuah jalan menjadi berarti ketika petani lebih mudah membawa hasil kebunnya ke pasar. Jaringan air minum menjadi berarti ketika sebuah keluarga tidak lagi kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari. Begitu pula dengan berbagai fasilitas publik lainnya. Nilai sesungguhnya bukan hanya terletak pada bangunan fisiknya, tetapi pada perubahan yang dirasakan setelah infrastruktur itu hadir.
Lapangan juga mengajarkan bahwa apa yang tertulis dalam laporan tidak selalu mampu menggambarkan seluruh keadaan. Ada persoalan yang baru benar-benar dipahami ketika kita datang langsung ke lokasi, melihat kondisi yang sebenarnya, berbicara dengan masyarakat, dan mendengarkan pengalaman petugas yang setiap hari berhadapan dengan persoalan tersebut. Dari situlah saya belajar bahwa banyak pelajaran terbaik tentang pelayanan publik justru ditemukan di luar ruang kerja.
Ketika Air Menjadi Tanggung Jawab
PPerjalanan sebagai ASN kemudian membawa saya pada amanah baru sebagai Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Sistem Penyediaan Air Minum (UPTD SPAM) Kabupaten Konawe Kepulauan. Bagi saya, amanah tersebut bukan sekadar perubahan jabatan. Tanggung jawabnya terasa berbeda karena yang dikelola adalah salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia: air.
Ketika air mengalir dengan baik, mungkin keberadaannya terasa biasa. Namun, ketika aliran berhenti, tekanan menurun, pipa bocor, atau sumber air mengalami gangguan, persoalan itu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa pelayanan air minum tidak semata-mata berbicara tentang pipa, pompa, reservoir, jaringan distribusi, atau sambungan rumah.
Di balik satu sambungan air ada kehidupan sebuah keluarga. Ada kebutuhan untuk memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah, dan berbagai aktivitas lainnya. Ada anak-anak yang membutuhkan air sebelum berangkat sekolah. Ada pula usaha kecil yang sangat bergantung pada ketersediaan air agar aktivitas usahanya tetap berjalan.
Karena itu, ketika pelayanan mengalami gangguan, yang kita hadapi sebenarnya bukan hanya masalah teknis. Di dalamnya ada kebutuhan, harapan, dan kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran pemerintah.
Tidak Semua Persoalan Selesai dari Balik Meja
Mengelola pelayanan publik di wilayah kepulauan semakin meyakinkan saya bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dari balik meja. Ada waktunya kita harus turun melihat sumber air, memeriksa jaringan, mendengarkan laporan petugas, berdialog dengan pelanggan, dan menerima langsung keluhan masyarakat.
Tidak semua keluhan mudah didengar. Kritik terkadang disampaikan dengan bahasa yang keras, terlebih ketika menyangkut kebutuhan dasar seperti air. Namun, saya mencoba melihatnya sebagai bagian dari proses pelayanan.
Ketika masyarakat mengeluh, pada dasarnya mereka sedang menyampaikan bahwa ada pelayanan yang mereka butuhkan. Karena itu, tugas pemerintah bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mencari kemungkinan terbaik untuk memperbaikinya.
Tentu tidak semua persoalan dapat selesai dalam waktu singkat. Ada keterbatasan anggaran, kondisi jaringan, ketersediaan sumber air baku, tantangan geografis, hingga keterbatasan sumber daya manusia. Semua itu merupakan kenyataan yang harus dihadapi. Namun, keterbatasan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti mencari jalan keluar.
Saya percaya masyarakat dapat memahami bahwa pemerintah memiliki keterbatasan. Namun, yang lebih sulit diterima adalah ketika persoalan sudah diketahui tetapi tidak ada upaya untuk menanganinya. Karena itu, pelayanan membutuhkan komunikasi yang terbuka, respons yang jelas, dan kemauan untuk terus melakukan perbaikan.
Jabatan Bukan Tentang Siapa yang Lebih Tinggi
emakin lama menjalani kehidupan sebagai ASN, saya semakin memahami bahwa jabatan bukan tentang siapa yang lebih tinggi. Jabatan pada dasarnya adalah pembagian tanggung jawab. Ketika seseorang dipercaya memimpin sebuah unit pelayanan, tanggung jawabnya justru menjadi lebih besar.
Ada pekerjaan yang harus dipastikan berjalan, ada petugas yang perlu dikoordinasikan, ada pelayanan yang harus dijaga, dan ada masyarakat yang menunggu hasil kerja pemerintah. Semua itu tentu tidak mungkin dikerjakan seorang diri.
Pelayanan yang berjalan baik selalu merupakan hasil kerja banyak orang. Ada petugas teknis yang bekerja di lapangan, pencatat meter yang berhadapan langsung dengan pelanggan, staf administrasi yang mengelola data, hingga dukungan pimpinan dan perangkat daerah lainnya. Sebagian besar pekerjaan mereka mungkin tidak pernah terlihat oleh masyarakat.
Ketika terjadi kebocoran pipa, misalnya, masyarakat mungkin hanya mengetahui bahwa air tidak mengalir. Mereka tidak selalu melihat bagaimana petugas mencari titik kerusakan, membawa peralatan ke lokasi, memperbaiki jaringan, dan memastikan aliran kembali normal.
Pengalaman-pengalaman sederhana seperti itu membuat saya memahami bahwa kepemimpinan dalam pelayanan publik bukan hanya tentang memberi arahan. Kepemimpinan juga tentang bekerja bersama, membangun kepercayaan, dan menghargai setiap orang yang ikut memastikan pelayanan tetap berjalan.
Tentang Ikhlas dan Arti Rezeki
Perjalanan sebagai ASN juga perlahan mengubah cara saya memahami arti rezeki. Saya belajar bahwa rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk materi.
Kesehatan adalah rezeki. Masih diberikan kemampuan untuk bekerja dan menjalankan amanah setiap hari juga merupakan rezeki. Keluarga adalah rezeki. Memiliki pasangan yang mendukung, orang tua yang mendoakan, serta tempat untuk kembali setelah menjalani aktivitas adalah hal-hal yang nilainya tidak selalu dapat dihitung dengan angka.
Kesempatan untuk terus belajar juga merupakan rezeki. Bertemu dengan orang-orang baik, memperoleh pengalaman baru, mendapatkan kepercayaan, bahkan kesempatan untuk membantu menyelesaikan persoalan orang lain, bagi saya semuanya merupakan bagian dari rezeki.
Pemahaman itu membuat saya mencoba menjalani pekerjaan dengan lebih sederhana: kerjakan apa yang menjadi tanggung jawab, lakukan sebaik yang kita mampu, dan jangan terlalu sibuk memikirkan apakah setiap pekerjaan akan mendapatkan pujian atau pengakuan.
Sebab, pelayanan publik bukanlah panggung untuk menonjolkan diri. Ukuran terpentingnya adalah seberapa jauh pekerjaan yang kita lakukan dapat memberi manfaat kepada orang lain.
BerAKHLAK Harus Terlihat dalam Pelayanan
Sebagai ASN, kita mengenal nilai dasar BerAKHLAK: Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Bagi saya, nilai-nilai tersebut baru benar-benar memiliki arti ketika hadir dalam pekerjaan sehari-hari. BerAKHLAK tidak cukup menjadi tulisan di dinding kantor, slogan dalam spanduk, atau kalimat yang disampaikan dalam kegiatan formal.
Berorientasi Pelayanan harus terlihat dari bagaimana kita merespons kebutuhan masyarakat. Akuntabel tercermin dari keberanian mempertanggungjawabkan pekerjaan dan menjaga kepercayaan yang diberikan. Kompeten berarti terus belajar dan memperbaiki kemampuan, sekalipun sudah memegang sebuah jabatan.
Harmonis berarti mampu menghargai dan bekerja bersama orang lain. Loyal berarti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh sesuai tanggung jawab. Adaptif mengajarkan kita untuk tidak takut terhadap perubahan dan terus mencari cara kerja yang lebih baik. Sementara Kolaboratif mengingatkan bahwa hampir tidak ada persoalan pembangunan yang dapat diselesaikan seorang diri.
Justru ketika menghadapi persoalan yang sulit, nilai-nilai tersebut diuji : apakah hanya menjadi slogan atau benar-benar menjadi cara kita bekerja.
Pengabdian yang Terus Mengalir
Perjalanan saya sebagai ASN di Konawe Kepulauan tentu masih panjang. Masih banyak hal yang perlu saya pelajari, pelayanan yang harus diperbaiki, infrastruktur yang perlu dibenahi, serta harapan masyarakat yang belum seluruhnya dapat diwujudkan.
Saya pun tidak pernah merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Saya hanya mencoba memegang satu pemahaman sederhana: ketika negara memberikan amanah kepada kita untuk melayani masyarakat, maka sebisa mungkin amanah tersebut harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak akan mengingat apa jabatan kita. Mereka mungkin tidak mengetahui berapa banyak rapat yang kita ikuti, berapa laporan yang kita susun, atau berapa banyak persoalan administratif yang berhasil kita selesaikan.
Tetapi masyarakat akan merasakan apakah kehadiran pemerintah pernah membantu kehidupan mereka.
Bagi saya, di situlah pengabdian menemukan maknanya.
Seperti air yang terus mengalir, pengabdian tidak perlu terlalu banyak berbicara tentang dirinya sendiri. Ia cukup hadir, bekerja, dan memberikan manfaat bagi kehidupan yang dilewatinya.
Dan dari tanah Wawonii, perjalanan pengabdian itu masih terus mengalir.

