Mengapa Banyak Niat Baik Berhenti di Ruang Lokakarya?

Guru SD Hikmah Teladan Cimahi. Pengurus PP IGI dan BMPS Kota Cimahi. Menulis tentang pendidikan, murid, guru, pembelajaran inklusif, dan refleksi dunia sekolah.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali sebuah lokakarya guru berakhir, suasananya hampir selalu sama. Guru-guru pulang dengan wajah penuh semangat. Ide-ide baru memenuhi buku catatan. Diskusi berlangsung hangat. Semua sepakat bahwa pembelajaran harus lebih bermakna, murid harus lebih aktif, dan sekolah harus terus berubah mengikuti kebutuhan zaman.
Namun, beberapa minggu kemudian, suasana itu perlahan menghilang. Rutinitas kembali mengambil alih. Cara mengajar kembali seperti semula. Buku catatan hasil lokakarya tersimpan rapi di lemari. Semangat yang semula menyala berubah menjadi kenangan.
Mengapa hal seperti ini begitu sering terjadi?
Jawabannya mungkin bukan karena pelatihannya kurang baik. Bukan pula karena guru tidak ingin berubah. Yang sering hilang justru adalah mata rantai yang menghubungkan kesadaran dengan tindakan, yaitu komitmen.
Pada artikel sebelumnya saya menulis bahwa perubahan selalu dimulai dari kesadaran. Guru perlu terlebih dahulu menyadari apa yang perlu diperbaiki dalam dirinya. Namun kesadaran hanyalah titik awal. Ia belum menghasilkan perubahan apa pun sampai seseorang mengambil keputusan untuk bertindak.
Di sinilah komitmen menemukan maknanya.
Komitmen bukanlah kalimat indah yang diucapkan pada penutupan pelatihan. Komitmen adalah keputusan yang tetap dipegang ketika semangat sudah tidak lagi sebesar hari pertama.
Banyak orang mengira perubahan lahir dari motivasi. Padahal motivasi bersifat sementara. Hari ini seseorang bisa sangat bersemangat, besok semangat itu menurun karena kesibukan, kelelahan, atau tekanan pekerjaan. Yang menjaga perubahan bukan motivasi, melainkan komitmen.
James Clear dalam Atomic Habits menjelaskan bahwa perubahan besar hampir tidak pernah dimulai dari tindakan besar. Perubahan lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Gagasan ini sangat relevan bagi dunia pendidikan. Guru tidak perlu mengubah seluruh strategi mengajarnya dalam satu semester. Yang jauh lebih penting adalah menentukan satu atau dua perubahan yang benar-benar akan diwujudkan.
Misalnya, seorang guru berkomitmen memberikan waktu lima menit di akhir pelajaran untuk mendengar pertanyaan murid. Guru lain berkomitmen memanggil setiap murid dengan namanya setiap pagi. Ada pula yang memutuskan mengurangi ceramah dan memberi lebih banyak kesempatan kepada murid untuk berdiskusi.
Perubahan-perubahan kecil seperti itu mungkin tidak langsung mengubah wajah sekolah. Namun justru kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari itulah yang perlahan mengubah kualitas pembelajaran.
Sayangnya, banyak refleksi berhenti pada kalimat, "Saya harus lebih baik." Kalimat itu terdengar positif, tetapi terlalu umum. Ia tidak memberi arah tindakan. Komitmen yang baik selalu spesifik dan dapat diamati.
Daripada berkata, "Saya akan menjadi guru yang lebih baik," akan lebih kuat jika seorang guru berkata, "Mulai besok saya akan memberi kesempatan kepada minimal tiga murid untuk menyampaikan pendapatnya dalam setiap pelajaran."
Komitmen yang spesifik membuat perubahan lebih mudah dijalankan dan dievaluasi.
Pengalaman di SD dan SMP Hikmah Teladan memberi pelajaran yang menarik. Setelah proses evaluasi kinerja dan refleksi semester dilakukan, guru tidak berhenti pada pembahasan hasil penilaian. Mereka diajak menentukan satu atau dua komitmen nyata yang akan diwujudkan pada semester berikutnya. Ada yang ingin lebih banyak melibatkan murid dalam pembelajaran. Ada yang ingin memperbaiki komunikasi dengan orang tua. Ada pula yang ingin lebih disiplin memberikan umpan balik kepada murid.
Komitmen tersebut kemudian tidak dibiarkan mengendap menjadi dokumen. Ia dibawa ke forum-forum guru, didiskusikan, diingatkan, dan ditinjau kembali. Dengan cara itu, refleksi tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi mulai menjadi perubahan perilaku.
Inilah yang sering luput dari pengembangan profesional guru. Kita terlalu banyak menginvestasikan waktu untuk pelatihan, tetapi terlalu sedikit memberi perhatian pada proses mengawal komitmen setelah pelatihan selesai.
Padahal menurut pakar perubahan organisasi John P. Kotter, perubahan akan gagal apabila tidak diikuti langkah-langkah yang menjaga momentum. Dalam konteks sekolah, momentum itu dijaga melalui budaya saling mengingatkan, kepemimpinan yang memberi teladan, dan ruang refleksi yang dilakukan secara berkala.
Komitmen juga tidak boleh dipahami sebagai beban tambahan. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap profesi. Guru yang berkomitmen bukan guru yang tidak pernah salah, melainkan guru yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.
Pada akhirnya, kualitas sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pelatihan yang diselenggarakan atau program yang dirancang. Kualitas sekolah ditentukan oleh berapa banyak guru yang pulang dari ruang refleksi dengan satu keputusan sederhana: ada satu hal yang akan saya lakukan lebih baik mulai besok.
Sebab perubahan besar dalam pendidikan tidak lahir dari satu gebrakan yang spektakuler. Ia lahir dari ribuan komitmen kecil yang dipelihara setiap hari oleh guru-guru yang percaya bahwa belajar tidak berhenti ketika seseorang menjadi pendidik.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam menjadi guru. Bukan merasa sudah selesai belajar karena telah mengajar, tetapi terus belajar karena ingin mengajar dengan lebih baik. Sebab murid tidak membutuhkan guru yang sempurna. Mereka membutuhkan guru yang setiap hari bersedia bertumbuh.
