Konten dari Pengguna

Mengapa Birokrasi Kita Sibuk, tetapi Tidak Selalu Berdampak?

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari bambangirawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menulis surat. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menulis surat. Foto: Shutter Stock

Birokrasi kita tidak pernah sepi dari aktivitas, rapat terus berlangsung, surat-surat ditandatangani, anggaran dibelanjakan untuk setiap program yang dijalankan, banyak laporan diselesaikan, dan berbagai aplikasi terus dikembangkan. Kita tahu dan menyadari bahwa birokrasi bekerja, namun ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu kita tanyakan yaitu setelah semua kesibukan itu, apa yang benar-benar berubah bagi masyarakat? Pertanyaan ini penting karena organisasi publik tidak dibentuk sekadar untuk bekerja, namun hadir untuk menyelesaikan persoalan publik dan menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Di sinilah kita perlu membedakan aktivitas dan dampak, di mana aktivitas adalah apa yang dilakukan organisasi sementara dampak adalah apa yang berubah karena organisasi bekerja.

Ketika Aktivitas Menjadi Tujuan

Dalam keseharian birokrasi, kita terbiasa bertanya mengenai berapa program sudah dilaksanakan, berapa persen anggaran terserap, berapa banyak kegiatan dilakukan, berapa dokumen telah dihasilkan, atau bahkan sudah berapa aplikasi berhasil dibangun. Semua ukuran itu penting, namun persoalannya muncul ketika aktivitas dan output berubah menjadi tujuan akhir. Kita sering menilai bahwa pelatihan dianggap berhasil karena diikuti seratus peserta, program dianggap selesai karena seluruh kegiatan terlaksana, begitu juga dengan inovasi dianggap berhasil ketika aplikasi diluncurkan.

Padahal pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelahnya yaitu apakah peserta pelatihan bekerja lebih baik? Apakah program berhasil mengurangi masalah? Apakah aplikasi membuat pelayanan lebih sederhana dan mudah digunakan? Apakah anggaran yang dibelanjakan menghasilkan manfaat bagi masyarakat?

Pertanyaan seperti inilah yang membawa kita dari sekadar mengelola aktivitas menuju mengelola dampak.

Birokrasi Kita Sedang Bergerak

Kita harus mengakui bahwa birokrasi Indonesia terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun hasil evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP) 2025 menunjukkan nilai 73,61 untuk kementerian/lembaga, 69,05 untuk pemerintah provinsi, dan 64,89 untuk pemerintah kabupaten/kota. Transformasi digital juga berkembang, dengan Indeks SPBE nasional mencapai 3,12 dari skala 5 dan berada dalam kategori baik.

Kemajuan ini penting, akan tetapi justru setelah sistem semakin baik, muncul pertanyaan berikutnya yaitu apakah kemajuan administratif tersebut sudah menghasilkan perubahan yang sama kuatnya bagi masyarakat? Menurut saya, di sinilah manajemen publik kita perlu naik kelas, bahkan tantangannya bukan lagi sekadar memastikan pemerintah memiliki program, anggaran, indikator, laporan, dan teknologi. Namun jauh lebih penting memastikan bahwa semua instrumen tersebut benar-benar menghasilkan manfaat bagi publik.

Tidak Berhenti pada Output

Dalam manajemen publik kita mengenal alur sederhana yang dimulai dari Input → ActivityOutputOutcomeImpact. Kita menggunakan anggaran, pegawai, kewenangan, dan teknologi untuk menjalankan kegiatan. Kegiatan kemudian menghasilkan layanan, program, infrastruktur, atau berbagai produk organisasi lainnya. Namun tetapi pekerjaan organisasi publik tidak boleh berhenti pada output. Sebagai contoh bayangkan pemerintah menambah armada pengangkut sampah dan di sini armada adalah output. Masyarakat sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih jauh sampah lebih cepat terangkut, lingkungan lebih bersih, risiko kesehatan berkurang, dan kota menjadi lebih nyaman dan itulah outcome dan impact yang diharapkan.

Kita mungkin sudah cukup terlatih mengelola input, aktivitas, dan output, namun saat ini yang menjadi tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh energi organisasi bergerak sampai kepada dampak yang bermanfaat bagi publik.

Masalah Masyarakat Tidak Mengenal Kotak Organisasi

Tantangannya semakin besar karena persoalan publik semakin kompleks, kemiskinan tidak hanya menjadi urusan dinas sosial, begitu juga dengan masalah stunting tidak hanya menjadi urusan dinas Kesehatan, bahkan masalah banjir tidak hanya menjadi urusan pekerjaan umum begitu juga transformasi digital juga tidak cukup menjadi urusan unit yang menangani teknologi. Masalah publik semakin horizontal, sementara organisasi pemerintah masih banyak bekerja secara vertikal. Oleh karenanya organisasi publik tidak cukup hanya bekerja baik di dalam batas organisasinya sendiri, namun harus mampu berkolaborasi, berbagi data, mengintegrasikan pelayanan, dan membangun tujuan bersama.

Mengubah Pertanyaan

Mungkin perubahan menuju birokrasi yang lebih berdampak bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana yaitu mengubah pertanyaan di dalam organisasi. Jangan hanya bertanya, apa program kita tahun ini? Tanyakan juga, masalah apa yang ingin kita selesaikan? Jangan berhenti pada, berapa kegiatan sudah dilaksanakan? Tanyakan, apa yang berubah setelah kegiatan dilakukan? Tidak puas dengan pertanyaan berapa persen anggaran sudah terserap? Tanyakan, berapa besar manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat? Begitu juga dengan pertanyaan apa tugas organisasi saya saat ini? Ketika persoalannya kompleks, pertanyaannya harus berubah menjadi dengan siapa kita harus bekerja agar masalah ini benar-benar selesai?

Pada akhirnya yang harus kita sadari bersama bahwa masyarakat tidak datang kepada pemerintah untuk mencari indikator kinerja, namun mereka datang membawa persoalan. Semua orang tua ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik, begitu juga dengan pasien ingin pelayanan kesehatan yang mudah diakses dan memberikan pelayanan terbaik. Sementara itu juga para pelaku usaha menginginkan pelayanan perizinan yang sederhana. Mereka semua ingin merasakan bahwa pemerintah hadir. Karenanya yang menjadi ukuran kualitas organisasi publik bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan, tetapi seberapa berarti perubahan yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut.

Birokrasi kita tidak kekurangan aktivitas, namun tantangan nyata yang dihadapi adalah memastikan bahwa setiap aktivitas mempunyai arti serta memiliki dampak positif bagi publik.