Mengapa Game Love and Deepspace Jadi Tempat Pulang Mahasiswa Keperawatan?

Mahasiswa keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nabila Syiffa Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugas yang menumpuk, laporan praktikum yang belum selesai, waktu deadline yang semakin sempit, serta tuntutan untuk tetap fokus memahami materi merupakan makanan sehari-hari bagi mahasiswa keperawatan. Di sela-sela itu, tubuh mulai terasa lelah, tetapi sering kali diabaikan. Sebagai mahasiswa keperawatan, ada tuntutan tidak tertulis untuk tetap kuat, tetap mampu, dan tetap terlihat baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.
Di tengah kelelahan itu, tidak jarang seseorang mencari “tempat pulang” yaitu ruang kecil yang memberikan rasa nyaman, meskipun hanya sementara. Bagi sebagian mahasiswa, ruang itu bisa berupa hal sederhana, seperti membuka permainan di ponsel. Salah satunya adalah game Love and Deepspace, sebuah game interaktif yang menghadirkan pengalaman emosional melalui karakter yang responsif dan penuh perhatian. Tanpa disadari, interaksi sederhana dalam game tersebut mampu memberikan rasa didengar dan dipahami.
Game Sebagai Tempat Pelarian Mahasiswa Keperawatan Ketika Burnout
Fenomena ini terjadi bukan tanpa alasan. Menurut World Health Organization (2020), burnout merupakan sindrom akibat stres kronis yang tidak terkelola dengan baik. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022) menjelaskan di Indonesia sendiri, masalah kesehatan mental juga masih menjadi perhatian, dengan meningkatnya kasus gangguan mental emosional di masyarakat. Mahasiswa keperawatan termasuk kelompok yang rentan mengalami kondisi ini karena beban akademik yang tinggi, tuntutan praktik klinik, serta tekanan emosional saat berhadapan dengan kondisi pasien. Penelitian yang dilakukan Rahayu & Widodo (2022) juga menunjukkan bahwa stres akademik pada mahasiswa keperawatan dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis secara signifikan.
Dalam situasi tersebut, manusia secara alami akan mencari mekanisme koping. American Psychological Association (2023) menjelaskan bahwa individu cenderung mencari cara untuk mengurangi stres, baik melalui aktivitas relaksasi maupun distraksi. Dalam konteks ini, permainan digital dapat berperan sebagai salah satu bentuk coping yang membantu mengalihkan pikiran dari tekanan yang dirasakan. Bahkan, studi oleh Granic et al (2020) menunjukkan bahwa video game dapat memberikan manfaat dalam regulasi emosi dan mengurangi tingkat stres.
Mengapa Hal Ini Dapat Terjadi?
Ada hal yang menarik untuk direnungkan dalam fenomena ini. Mengapa interaksi dalam sebuah game bisa terasa begitu menenangkan? Mungkin jawabannya terletak pada kebutuhan emosional yang sering kali tidak terpenuhi di dunia nyata. Mahasiswa keperawatan terbiasa belajar untuk memberikan empati, perhatian, dan perawatan kepada orang lain. Akan tetapi, dalam proses tersebut, mereka terkadang lupa bahwa diri mereka sendiri juga membutuhkan hal yang sama.
Di sinilah letak ironi yang tidak selalu disadari. Di balik seragam putih mahasiswa keperawatan yang identik dengan ketenangan dan ketangguhan, terdapat individu yang juga bisa lelah, cemas, dan membutuhkan dukungan. Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi, maka hal-hal sederhana seperti game bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan rasa nyaman, meskipun hanya bersifat sementara.
Dampak Bermain Game Sebagai Mekanisme Koping
Meski demikian, penting untuk memahami bahwa penggunaan game sebagai coping mechanism memiliki dua sisi. Di satu sisi, game dapat membantu mengurangi stres dan memberikan jeda dari tekanan yang ada. Namun di sisi lain, jika digunakan secara berlebihan, hal ini dapat menjadi bentuk pelarian yang justru menghindarkan individu dari penyelesaian masalah yang sebenarnya. Oleh karena itu, keseimbangan dalam hal ini menjadi kunci utama.
Sebagai mahasiswa keperawatan, penting untuk mulai menyadari bahwa merawat diri sendiri bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional. Bagaimana seseorang dapat memberikan perawatan yang optimal kepada pasien, jika dirinya sendiri berada dalam kondisi kelelahan yang tidak tertangani?
Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan hanya sekadar pelarian, tetapi ruang yang aman untuk merasa didengar dan dipahami. Karena di balik semua tuntutan dan tekanan, mahasiswa keperawatan tetaplah manusia yang tidak hanya belajar merawat orang lain, tetapi juga perlu belajar untuk merawat dirinya sendiri.
