Mengapa Mahasiswa Tetap Memilih Menari di Tengah Tuntutan Akademik?

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi - Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fitri Fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Di tengah padatnya tuntutan akademik, sebagian mahasiswa tetap menyempatkan diri untuk berlatih tari. Pilihan itu sering dianggap sekadar hobi, padahal bagi mereka, menari menjadi cara menjaga keseimbangan di tengah kehidupan kampus yang penuh target dan pencapaian.”

Prestasi Penting, tetapi Tekanan Akademik Juga Nyata
IPK tinggi, organisasi, kepanitiaan, sertifikat, hingga pengalaman magang seolah menjadi “paket lengkap” yang harus dimiliki mahasiswa. Persaingan terasa semakin ketat, sementara waktu yang dimiliki tetap sama. Di tengah rutinitas tersebut, masih ada mahasiswa yang rela pulang larut malam karena latihan menari, lalu kembali mengikuti perkuliahan keesokan harinya.
Fenomena ini bukan muncul tanpa alasan. Penelitian Zamroni (2015) menunjukkan bahwa 70,5% mahasiswa berada pada kategori stres akademik sedang, 16,2% pada kategori tinggi, dan hanya 13,3% yang berada pada kategori rendah. Angka tersebut menggambarkan bahwa tekanan akademik telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa.
Menurut saya, yang melelahkan bukan semata-mata banyaknya tugas. Ada dorongan lain yang sering kali tidak disadari, yaitu keinginan untuk terus terlihat berprestasi. Mahasiswa berlomba mengumpulkan pengalaman, mempercantik CV, dan menyiapkan diri menghadapi dunia kerja. Lambat laun, pencapaian akademik menjadi faktor utama dalam menilai keberhasilan seseorang.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi, saya melihat kondisi ini ikut membentuk cara pandang mahasiswa terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Mahasiswa yang memiliki banyak pencapaian lebih mudah dianggap berhasil, sedangkan kemampuan di luar ranah akademik sering kali kurang mendapat ruang untuk dihargai.
Di saat seperti itulah sebagian mahasiswa mulai mencari aktivitas yang tidak selalu berkaitan dengan kompetisi. Bagi sebagian orang, ruang tersebut ditemukan melalui menari.
Menari sebagai Cara Menjaga Identitas
Saya melihat menari memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan sisi dirinya yang mungkin tidak pernah terlihat di ruang kelas.
Seorang mahasiswa tentu ingin memperoleh nilai yang baik. Namun, banyak dari mereka juga ingin dikenal karena bakat, kreativitas, atau karya yang dimiliki. Di ruang latihan, identitas sebagai penari, seniman, atau performer memperoleh ruang yang sama berharganya dengan identitas sebagai mahasiswa.
Menurut saya, kampus seharusnya menjadi tempat yang memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai potensi. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai yang baik, tetapi juga individu yang mengenal kemampuan, minat, dan jati dirinya.
Karena itu, saya tidak heran jika banyak mahasiswa tetap datang latihan meskipun tugas kuliah sedang menumpuk. Bagi mereka, menari bukan aktivitas yang mengganggu kuliah, melainkan bagian dari proses mengenal dan mengembangkan diri.
Komunitas yang Membuat Mahasiswa Bertahan
Ada alasan lain yang sering terabaikan, yaitu peran komunitas.
Di berbagai perguruan tinggi, UKM tari lebih dari sekadar tempat menyusun koreografi. Tempat ini menjadi ruang untuk bertukar cerita, saling memberi semangat, bahkan berbagi keresahan tentang kehidupan perkuliahan. Rasa memiliki terhadap komunitas membuat mahasiswa merasa tidak menghadapi tekanan akademik seorang diri.
Dalam perspektif sosiologi, komunitas memiliki fungsi yang penting karena menjadi ruang bagi individu untuk membangun relasi, belajar bekerja sama, dan memperoleh dukungan sosial. Pengalaman seperti inilah yang sering kali tidak ditemukan di ruang kelas.
Saya melihat bahwa lingkungan yang suportif menjadi salah satu alasan mengapa banyak mahasiswa tetap bertahan menari, meskipun jadwal latihan sering berbenturan dengan kesibukan kuliah.
Menari sebagai Cara Mengelola Tekanan
Penelitian mengenai budaya healing menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki cara yang beragam dalam menghadapi stres akademik. Ada yang memilih bepergian, berolahraga, ataupun melakukan kegiatan seni.
Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian mengenai intervensi seni berbasis craft yang menunjukkan bahwa aktivitas seni dapat membantu menurunkan tingkat stres. Kajian mengenai Dance Movement Therapy pun menjelaskan bahwa aktivitas menari berkaitan dengan pengelolaan emosi, peningkatan kesadaran diri, serta interaksi sosial.
Bagi saya, hasil penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa menari tetap dipilih oleh sebagian mahasiswa. Menari bukan bentuk pelarian dari tanggung jawab akademik. Justru melalui aktivitas itu mereka mengisi ulang energi sehingga lebih siap menghadapi tuntutan perkuliahan.
Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, seni memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Seni menjadi salah satu media yang membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan kampus, membangun hubungan sosial, serta menjaga keseimbangan diri di tengah budaya kompetisi yang semakin kuat.
Pendidikan Perlu Memberi Ruang bagi Mahasiswa
Kampus tentu mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi. Namun, proses pendidikan semestinya juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang sebagai individu, bukan sekadar mengejar nilai dan pencapaian.
Ruang seni merupakan bagian dari proses pendidikan. Melalui menari, mahasiswa belajar disiplin, bekerja sama, berkomunikasi, mengelola emosi, serta bertanggung jawab terhadap kelompoknya. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang sama pentingnya ketika mereka terjun ke masyarakat.
Bagi saya, keberhasilan mahasiswa tidak seharusnya diukur dari IPK atau banyaknya sertifikat semata. Pendidikan yang baik juga mampu membentuk manusia yang mengenal dirinya, mampu beradaptasi dengan lingkungannya, serta memiliki kepekaan sosial.
Mungkin sudah saatnya menari tidak lagi dipandang sebatas hobi. Bagi sebagian mahasiswa, lantai latihan bukan tempat untuk menghindari dunia akademik. Justru dari sanalah mereka mengumpulkan kembali semangat sebelum menghadapi berbagai tuntutan yang menunggu di ruang kelas.
