Mengapa Orang Suka Pamer Kekayaan? Teori Veblen Menjelaskannya
Tulisan dari Amelda chronicles tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jauh sebelum media sosial membuat orang bisa memamerkan mobil, jam tangan, liburan, atau barang bermerek kepada jutaan orang, seorang ekonom pada akhir abad ke-19 sudah mencoba menjelaskan mengapa manusia senang menunjukkan kekayaannya. Namanya Thorstein Veblen. Melalui bukunya The Theory of the Leisure Class yang terbit pada 1899, Veblen memperkenalkan konsep conspicuous consumption atau konsumsi mencolok, yaitu perilaku mengonsumsi barang bukan semata-mata karena kegunaannya, tetapi juga untuk memperoleh pengakuan, prestise, dan status sosial.
Siapa Thorstein Veblen?
Thorstein Bunde Veblen lahir pada 30 Juli 1857 di Wisconsin, Amerika Serikat, dari keluarga imigran Norwegia. Ia memperoleh gelar sarjana dari Carleton College pada 1880 dan doktor filsafat dari Yale University pada 1884. Meski memiliki pendidikan tinggi, perjalanan akademiknya tidak mudah. Ia kemudian mengajar ekonomi politik di University of Chicago dan di sanalah ia menulis karya yang membuat namanya dikenal luas, The Theory of the Leisure Class, yang diterbitkan pada 1899.
Veblen berbeda dari ekonom konvensional pada zamannya. Ia tidak melihat perilaku ekonomi hanya dari angka, harga, dan pasar, tetapi menghubungkannya dengan sosiologi, sejarah, antropologi, dan psikologi. Baginya, keputusan seseorang untuk membeli dan menggunakan suatu barang juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Pendekatan inilah yang membuat pemikirannya terasa sangat relevan ketika kita melihat budaya konsumsi masa kini.
Ketika Kekayaan Mulai Menjadi Simbol
Pemikiran Veblen muncul pada akhir abad ke-19, ketika Amerika Serikat mengalami industrialisasi yang pesat. Produksi massal berkembang, kota-kota tumbuh, dan kekayaan semakin terkonsentrasi pada kelompok pengusaha serta pemilik modal. Pada saat yang sama, kesenjangan antara kelompok kaya dan pekerja semakin terlihat. Rumah besar, pakaian mahal, pesta, kendaraan, dan berbagai bentuk kemewahan kemudian tidak hanya menunjukkan kemampuan seseorang untuk membeli sesuatu, tetapi juga dapat menjadi tanda kedudukan sosial.
Veblen melihat bahwa sebagian orang kaya menggunakan kekayaan sebagai alat komunikasi sosial. Sebuah rumah yang sangat besar, pakaian mahal, pesta mewah, atau waktu luang yang panjang dapat menyampaikan pesan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun: bahwa seseorang memiliki sumber daya dan berada dalam posisi sosial tertentu. Dengan demikian, konsumsi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan.
Lahirnya Istilah “Conspicuous Consumption”
Dari pengamatannya tersebut, Veblen memperkenalkan istilah conspicuous consumption, atau konsumsi mencolok. Konsep ini menggambarkan konsumsi yang dilakukan bukan semata-mata karena manfaat praktis suatu barang, tetapi juga karena barang tersebut dapat menunjukkan kekayaan, prestise, atau status sosial pemiliknya.
Bayangkan seseorang membeli jam tangan yang harganya berkali-kali lipat dari jam biasa, meskipun keduanya sama-sama dapat menunjukkan waktu. Dalam perspektif Veblen, perbedaannya tidak berhenti pada fungsi. Merek, harga, kelangkaan, dan kemampuan untuk memilikinya dapat memberikan nilai simbolik. Karena itu, pertanyaan konsumen bukan lagi hanya “Apa manfaat barang ini?”, tetapi juga “Apa yang barang ini katakan tentang saya?”
Bukan Hanya Barang, Waktu Luang Juga Bisa Dipamerkan
Veblen memiliki gagasan lain yang tak kalah menarik, yaitu conspicuous leisure atau waktu luang yang mencolok. Menurutnya, kemampuan untuk tidak melakukan pekerjaan produktif juga dapat menjadi simbol kekayaan. Seseorang yang mampu menghabiskan waktu untuk perjalanan panjang, olahraga mahal, rekreasi eksklusif, atau hobi yang membutuhkan banyak waktu menunjukkan bahwa ia memiliki sumber daya yang cukup untuk tidak bergantung pada pekerjaan rutin.
Dalam konteks ini, waktu ternyata juga bisa menjadi simbol status. Bagi seseorang yang harus bekerja setiap hari untuk memperoleh pendapatan, waktu adalah sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, kemampuan untuk menghabiskan banyak waktu tanpa menghasilkan pendapatan langsung dapat menunjukkan adanya kekayaan yang memungkinkan seseorang hidup tanpa pekerjaan produktif secara langsung.
Ketika Pemborosan Justru Menjadi Simbol
Veblen bahkan menggunakan istilah conspicuous waste, atau pemborosan mencolok. Ini merujuk pada penggunaan sumber daya yang sebenarnya tidak diperlukan secara fungsional, tetapi dilakukan untuk menciptakan kesan mewah. Misalnya, membeli barang baru meskipun barang lama masih berfungsi, memiliki rumah yang jauh lebih besar daripada kebutuhan, atau mengadakan pesta dengan pengeluaran yang sangat besar.
Yang menarik, pemborosan dalam konsep Veblen bukan berarti barang tersebut sama sekali tidak memiliki manfaat. Masalahnya adalah ketika biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar daripada manfaat praktisnya, sementara pengeluaran tersebut justru memberikan keuntungan simbolik berupa gengsi atau pengakuan sosial.
Mengapa Orang Mengikuti Gaya Hidup Orang Kaya?
Veblen juga memperkenalkan konsep pecuniary emulation, yaitu kecenderungan seseorang untuk meniru pola konsumsi kelompok yang memiliki status ekonomi lebih tinggi. Seseorang dapat membeli barang bermerek, mengikuti tren mahal, atau meningkatkan gaya hidup bukan karena kebutuhan sebenarnya, tetapi karena ingin mendekati standar konsumsi kelompok yang dianggap lebih tinggi.
Fenomena ini membuat konsumsi dapat berubah menjadi sebuah perlombaan. Ketika seseorang melihat gaya hidup orang lain, standar yang dianggap “cukup” dapat ikut berubah. Akibatnya, seseorang mungkin mengeluarkan uang bukan karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan, tetapi karena tidak ingin terlihat tertinggal dari lingkungannya.
Veblen dan Budaya “Flexing” Hari Ini
Jika teori Veblen dibawa ke masa kini, kita dapat melihat banyak bentuk konsumsi yang memiliki kemiripan dengan konsep tersebut. Mobil mewah, jam tangan mahal, tas bermerek, perjalanan eksklusif, restoran premium, hingga produk edisi terbatas dapat menjadi simbol status. Media sosial kemudian memungkinkan simbol tersebut ditampilkan kepada audiens yang jauh lebih luas.
Bahkan, media sosial menciptakan sesuatu yang dapat disebut sebagai “panggung konsumsi”. Seseorang bukan hanya membeli sebuah barang, tetapi juga memilih bagaimana barang tersebut ditampilkan, difoto, dan dilihat oleh orang lain. Dalam konteks ini, konsumsi menjadi semakin performatif karena dapat menghasilkan perhatian, komentar, pengikut, dan pengakuan sosial.
Tidak Semua Kemewahan Adalah Flexing
Meski teori Veblen sangat menarik, tidak berarti setiap pembelian mahal merupakan bentuk pamer kekayaan. Seseorang dapat membeli barang mahal karena kualitas, kenyamanan, keamanan, daya tahan, nilai emosional, atau alasan lainnya. Begitu pula dengan konsumen yang justru memilih barang mahal yang tidak memiliki logo mencolok karena lebih menghargai kualitas atau privasi.
Selain itu, teori Veblen lahir dari pengamatan terhadap masyarakat Amerika pada akhir abad ke-19. Struktur sosial dan budaya konsumsi saat ini jauh lebih kompleks. Konsumsi modern tidak hanya berkaitan dengan hierarki sosial, tetapi juga dapat digunakan untuk mengekspresikan identitas, nilai, komunitas, selera, bahkan pandangan seseorang.

