Konten dari Pengguna

Mengapa Sebagian Orang Berubah Setelah Memiliki Jabatan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Haivan Fikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepemimpinan bukan tentang dihormati karena jabatan, melainkan dihargai karena akhlak dan keteladanan. (Ilustrasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Kepemimpinan bukan tentang dihormati karena jabatan, melainkan dihargai karena akhlak dan keteladanan. (Ilustrasi dibuat oleh AI)

"Jabatan seharusnya mengajarkan kerendahan hati. Namun, tidak sedikit yang justru kehilangan itu setelah memilikinya."

Tidak ada yang salah dengan memiliki jabatan. Sejak di bangku sekolah, kita diajarkan untuk berorganisasi, memimpin rapat, mengelola program kerja, hingga mengambil keputusan bersama. Semua itu merupakan proses belajar menjadi pemimpin yang baik.

Namun, ada satu fenomena yang sering kali luput dari perhatian. Sebagian orang tampak berubah setelah memperoleh jabatan. Mereka yang dahulu mudah menyapa menjadi lebih menjaga jarak. Mereka yang dahulu terbuka terhadap kritik mulai sulit menerima masukan. Bahkan, tidak sedikit yang perlahan merasa dirinya lebih tinggi daripada orang-orang yang dahulu berjalan bersamanya.

Lalu muncul pertanyaan, apakah jabatan benar-benar mengubah seseorang?

Boleh jadi tidak.

Yang berubah bukanlah jabatannya, melainkan cara seseorang memandang dirinya sendiri setelah menerima jabatan tersebut.

Dalam psikologi, kekuasaan dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa posisi yang lebih tinggi dapat membuat seseorang lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, tetapi jika tidak diimbangi dengan pengendalian diri, rasa percaya diri itu dapat bergeser menjadi superioritas. Kritik dianggap ancaman, nasihat dianggap gangguan, dan perbedaan pendapat dipandang sebagai bentuk perlawanan.

Padahal, jabatan bukanlah bukti bahwa seseorang lebih mulia. Jabatan hanyalah amanah yang dipercayakan untuk sementara waktu.

Ironisnya, fenomena seperti ini justru terkadang terlihat di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya keteladanan, termasuk organisasi yang membawa nama-nama baik, organisasi yang mengajarkan nilai agama, atau komunitas yang menjunjung tinggi akhlak.

Masyarakat tidak mengenal sebuah organisasi hanya melalui logo, seragam, atau slogan yang mereka pasang. Masyarakat mengenalnya melalui perilaku orang-orang yang memimpinnya.

Karena itu, seorang pemimpin organisasi keagamaan sesungguhnya memikul tanggung jawab yang lebih besar. Ia memang bukan manusia yang sempurna. Ia tetap memiliki kekurangan dan bisa melakukan kesalahan. Namun, setiap ucapan, sikap, dan caranya memperlakukan orang lain akan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai yang dibawa organisasinya.

Ketika seorang pemimpin mudah merendahkan orang lain, enggan menerima kritik, atau menunjukkan sikap yang jauh dari akhlak yang diajarkannya, maka yang dipertanyakan bukan hanya dirinya, tetapi juga marwah organisasi yang dipimpinnya.

Islam sendiri memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai kesombongan.

Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

"Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 83)

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar persoalan etika, tetapi juga persoalan hati. Bahkan ketika seseorang memiliki ilmu, prestasi, atau jabatan, semuanya tidak menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Sayangnya, pada era media sosial saat ini, jabatan sering kali dipahami sebagai simbol status. Gelar kepengurusan dicantumkan di berbagai platform, foto pelantikan dibagikan dengan bangga, tetapi semangat melayani justru semakin memudar. Yang sibuk dijaga adalah citra jabatan, bukan kualitas pengabdian.

Padahal, kepemimpinan tidak pernah diukur dari seberapa sering seseorang dihormati. Kepemimpinan justru terlihat dari bagaimana ia menghormati orang lain, terutama mereka yang tidak memiliki jabatan apa pun.

Sejarah Islam memberikan teladan yang berbeda. Umar bin Khattab, seorang khalifah yang memimpin wilayah sangat luas, masih bersedia memikul sendiri karung gandum untuk rakyatnya. Rasulullah SAW, manusia paling mulia, tetap duduk bersama para sahabat tanpa membedakan kedudukan. Mereka tidak kehilangan wibawa karena rendah hati. Justru kerendahan hati itulah yang membuat mereka dihormati hingga hari ini.

Barangkali, itulah pelajaran yang sering terlupakan oleh sebagian pemimpin masa kini.

Jabatan tidak akan membuat seseorang dikenang karena namanya tercatat dalam struktur organisasi. Masa kepengurusan akan berakhir, seragam akan dilepas, dan jabatan akan diberikan kepada orang lain.

Namun, cara seseorang memperlakukan orang lain akan tinggal lebih lama dalam ingatan.

Pada akhirnya, orang mungkin lupa siapa yang pernah menjadi ketua. Tetapi mereka akan selalu mengingat apakah pemimpin itu membuat mereka merasa dihargai, atau justru merasa direndahkan.

Sebab, jabatan adalah titipan, sedangkan akhlak adalah warisan.