Mengenal Danudirja Setiabudi: Bule Belanda yang Rela Melawan Bangsanya Sendiri

Master Student in Tourism Indonesia University of Education
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Hikmal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah lewat di Jalan Setiabudi? Nahh, Tokoh yang namanya disematkan ini nama aslinya adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, atau yang kelak lebih akrab kita kenal sebagai Danudirja Setiabudi. Beliau lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879. Latar belakang keluarganya ini menarik banget; ayahnya (Auguste) orang Belanda keturunan Jerman yang kerja jadi agen bank, sedangkan ibunya (Louisa) perempuan Indo dengan darah keturunan Jawa. Yang bikin tambah spesial, Ernest ini ternyata keponakan cucu dari Eduard Douwes Dekker, si penulis novel legendaris Max Havelaar yang pakai nama pena Multatuli itu.
Nah, karena dia lahir dari keluarga kelas menengah atas, wawasannya sangat luas. Sejak kecil, dia udah melihat langsung ketimpangan sosial dan perlakuan diskriminatif pemerintah kolonial terhadap warga Bumiputra dan kaum Indo. Semangat kritisnya mulai terbentuk di sini. Lulus dari HBS, dia nggak langsung berpolitik, kawan. Dia justru kerja dulu di perkebunan kopi di Malang dan pabrik gula di Pasuruan. Di sana, dia sering banget pasang badan membela para buruh lokal yang ditindas, sampai-sampai dia sering cekcok dengan pihak manajemen. Konflik inilah yang akhirnya bikin dia banting setir jadi jurnalis.
Waktu umurnya baru 20 tahun (sekitar 1899), jiwa pemberontaknya memanggil. Dia bareng dua saudaranya, Guido dan Julius, nekat berangkat ke Afrika Selatan buat ikut Perang Boer ngebela keturunan Belanda di sana yang lagi digempur sama imperialisme Inggris. Saking beraninya di medan perang, dia sampai dikasih kewarganegaraan Republik Transvaal! Sayangnya, dia tertangkap pasukan Inggris dan dibuang ke kamp tawanan di Ceylon (Sri Lanka).
Tapi, justru di kamp tawanan inilah "sekolahnya" yang sesungguhnya. Dia banyak ngobrol sama tawanan lain, mendalami politik, jurnalistik, dan sejarah bangsa terjajah. Dia jadi makin yakin: penjajahan di belahan bumi mana pun harus dihancurkan.
Tahun 1902, dia balik ke Hindia Belanda dan menjadikan jalur pers sebagai senjata utamanya. Dia gabung ke koran De Locomotief di Semarang, nulis tajuk rencana yang super tajam buat membongkar eksploitasi ekonomi kolonial. Waktu pindah ke Batavia, tulisannya makin berani membela hak-hak warga lokal. Saking inspiratifnya, rumah dia tuh sampai jadi tongkrongan anak-anak muda terpelajar, termasuk para pendiri Budi Utomo.
Lalu di tahun 1911, dia bikin majalah sendiri bernama Het Tijdschrift, dan puncaknya di 1912 dia mendirikan harian De Express. Nah, De Express ini yang paling fenomenal. Di sinilah tulisan-tulisan radikal dari Tiga Serangkai dimuat, termasuk artikel legendaris Ki Hajar Dewantara, "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda).
Dari pemikiran di media itu, akhirnya pada 25 Desember 1912 di Bandung, berdirilah Indische Partij (IP). Dia mendirikannya bareng Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Kenapa partai ini penting banget? Karena inilah organisasi politik pertama yang dengan sangat tegas punya tujuan: Indonesia harus merdeka!
Latar belakang lahirnya IP ini karena diskriminasi rasial yang parah banget, dan fakta bahwa kaum Indo saat itu terpecah (banyak yang malah dukung Belanda). Ernest mau menyatukan kaum Indo dengan Bumiputra. Konsep andalannya adalah "Indie voor Indiers" (Hindia untuk orang Hindia)—artinya, tanah ini milik semua orang yang menganggapnya sebagai tanah air, nggak peduli rasnya apa. Mereka bertiga sampai keliling kota di Jawa buat nyebarin propaganda ini.
Tentu saja, Belanda ketar-ketir. Di tahun 1913, status badan hukum IP ditolak mentah-mentah karena dianggap terlalu radikal. Puncaknya, gara-gara tulisan Ki Hajar Dewantara yang bikin panas kuping kolonial, Tiga Serangkai ditangkap dan dibuang ke Belanda. Tanpa mereka, IP akhirnya perlahan lumpuh. Tapi, meski umurnya singkat, IP sukses mengubah arah pergerakan kita dari yang tadinya cuma urusan kedaerahan, berubah jadi gerakan politik untuk merdeka.
Bicara soal karya tulisan, Ernest ini super produktif. Beberapa karya pentingnya:
Het Boek van Siman den Javaan (1908): Ngritik penderitaan petani Jawa di bawah sistem perkebunan.
Hoe kankert het reglement van orde op de Indische scholen? (1910): Membongkar kebobrokan dan rasisme di sekolah-sekolah kolonial.
Pamflet-pamflet politik Indische Partij, sampai buku pelajaran sejarah dan geografi buat siswa pribumi di tahun 1920-an.
Lompat ke masa Revolusi Kemerdekaan (1945–1949), kesetiaan beliau nggak pernah luntur biarpun usianya udah tua dan kesehatannya menurun. Sebelumnya, dia sempat dibuang Belanda ke Suriname (1941–1946). Setelah bebas, dia nekat menyusup balik ke Indonesia pakai nama samaran "Kadoor" dan sampai di Yogyakarta awal 1947.
Presiden Sukarno yang sangat menghormatinya menyambutnya dengan hangat. Karena Ernest pengen membuang identitas Belandanya, Bung Karno memberinya nama keren dari bahasa Sanskerta dan Jawa kuno: Danudirja Setiabudi. Danudirja artinya pribadi yang kuat dan tangguh, sementara Setiabudi artinya seseorang yang setia pada kebaikan dan loyal pada tanah airnya. Pas banget, kan? Beliau bahkan sempat diangkat jadi menteri dan penasihat presiden.
Di tahun 1948 pas Agresi Militer Belanda II, beliau yang lagi sakit di rumah sempat ditangkap lagi sama Belanda, tapi akhirnya dibebaskan karena sudah sepuh dan lemah fisiknya. Beliau kemudian menghabiskan masa tuanya di Bandung, memimpin lembaga pendidikan Ksatrian Instituut (yang dulu dia dirikan tahun 1924) sambil terus menulis, sampai akhirnya wafat pada 28 Agustus 1950. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Bangsa kita sangat menghormati beliau. Bayangin, orang yang harusnya bisa hidup mewah pakai fasilitas kolonial kelas atas, justru berani membuang semua hak istimewanya demi melawan bangsanya sendiri. Dia keluar masuk penjara, jadi pelopor nasionalisme modern yang mematahkan sekat etnis, dan membangun pendidikan buat pribumi. Makanya di tahun 1961 beliau resmi ditetapkan jadi Pahlawan Nasional. Namanya sekarang diabadikan jadi nama jalan-jalan protokol besar di Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, sampai jadi nama kecamatan di Jakarta Selatan.
