Mengenang Rencana Megaproyek Era Kolonial: Kereta Gantung Padang–Sitinjau Lauik

Suka sejarah dan sepak bola. Kalau sedang tidak mengulik sejarah dan sepak bola, mengabdi untuk negara dan bangsa di salah satu anak usaha BUMN.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hermawan Ardiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebelum megaproyek Flyover Sitinjau Lauik di era modern, pemerintah kolonial telah berencana membangun kawasan berhawa sejuk di pinggiran kota Padang.
Jika hari ini kita melintas di jalur legendaris Sitinjau Lauik, bayangan kita kerap tertuju pada tikungan tajam dan tanjakan curam yang menantang. Kawasan ini penuh dengan jalur ekstrem yang menantang adrenalin siapa pun yang melintasinya. Tak heran sekelompok kreator konten lokal atau sering disebut para Youtuber Sitinjau Lauik, menjadikan kawasan ini, terutama di satu tikungan tajamnya yang dikenal dengan nama Panorama 1, sebagai hotspot area pembuatan konten mereka.
Para kreator konten sering kali menjadikan aktivitas relawan PKJR (Pos Kamling Jalan Raya) Sitinjau Lauik sebagai POI (Point of Interest) konten mereka yang menampilkan interaksi para relawan di tikungan ekstrem tersebut. Aktivitas relawan yang terdiri dari para pemuda lokal mengatur lalu lintas kendaraan, membantu kendaraan yang mengalami kendala di tanjakan, mengganjal ban, dll., menarik ribuan, bahkan jutaan tayangan di berbagai platform media sosial. Namun, dibalik itu, kawasan ini sangat rawan kecelakaan yang sering kali mengakibatkan jatuhnya korban.
Tingginya tingkat kecelakaan di Kawasan Sitinjau Lauik inilah yang membuat berbagai elemen masyarakat mendorong pemerintah agar segera memikirkan solusinya. Alhamdulillah, megaproyek Flyover Sitinjau Lauik akhirnya telah disetujui pemerintah dengan anggaran fantastis untuk tahap Panorama I senilai Rp2,79 triliun dan dimulai pelaksanaannya di tanggal 3 Mei 2025 dengan estimasi durasi pengerjaan 2,5 tahun. Namun, tahukah Anda bahwa jauh sebelum wacana jalan tol dan flyover di era modern ini mengemuka, kawasan ini pernah menyimpan impian megaproyek yang sangat ambisius pada era kolonial Hindia Belanda?
Jejak Literatur Sejarah: Menyingkap Arsip Surat Kabar Kolonial 1939
Pada awal abad ke-20, kawasan pesisir barat Sumatra—khususnya Padang—pernah dirancang untuk memiliki jalur transportasi umum modern berupa kereta gantung (cable car). Setelah beroperasinya lori gantung (aerial ropeway) milik NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (PT Semen Padang) pada tahun 1911, kota Padang kembali mempunyai rencana pembangunan kereta gantung, namun kali ini sebagai sarana transportasi umum yang tentu jauh lebih kompleks dari sekadar lori pabrik yang hanya mengangkut material bahan baku dan hasil produksi pabrik. Kereta gantung ini digagas sebagai jalur transportasi umum untuk menghubungkan pusat Kota Padang dengan Kawasan Kalorama, Soebang Pas (yang sekarang kita kenal dengan nama Panorama, Sitinjau Lauik). Kisah ambisius pembangunan kereta gantung ini bukan sekadar cerita mulut ke mulut, melainkan tercatat secara eksplisit dalam dokumen pers era kolonial Hindia Belanda. Salah satu bukti otentik mengenai gagasan megaproyek ini termuat dalam pemberitaan surat kabar koran harian De Kourier edisi Selasa, 11 April 1939 (No. 7).
Dalam artikel tersebut yang bertajuk "DE SOEBANG PAS – Plannen voor een Kabelbaan" (Rencana untuk Kereta Gantung), dipaparkan detail teknis dan pertimbangan strategis dibalik proyek tersebut:
Latar Belakang & Daya Tarik "Soebang Pas"
Hunian Sejuk untuk Warga Komuter Eropa: Pada masa itu, di era kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1939, Kota Padang dikenal dengan cuaca pesisirnya yang relatif hangat. Pada era tersebut, Kota Padang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh berkembangnya berbagai sektor industri, perkebunan, dan pertambangan di pesisir barat Sumatra. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di sektor industri, perkebunan dan pertambangan ini mengundang cukup banyak pekerja ahli dari Eropa yang membanjiri Kota Padang dan sekitarnya. Potensi inilah yang ditangkap oleh penggagas rencana Pembangunan Kawasan Kalorama di Soebang Pas dengan menawarkan alternatif hunian bagi orang-orang Eropa.
Keunggulan Iklim dan Pemandangan Indah: Berada di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), Soebang Pas menawarkan iklim pegunungan yang lebih sejuk serta potensi pemandangan indah yang luar biasa dari atas perbukitan hijau. Karena itu, kawasan ini dilirik sebagai area hunian ideal bagi para pekerja komuter Eropa yang ingin tinggal di kawasan dengan pemandangan indah dan udara sejuk seperti di Eropa.
Kerjasama Rekayasa Teknik asal Swiss
Konsultasi Pakar Dunia: Langkah untuk mewujudkan impian ini tidak main-main. Pihak berwenang di Padang telah menjalin diskusi intensif dengan perusahaan ternama asal Lucerne, Swiss “Die Schweizerische Drahtbahn Bau G.m.b.H.” yang ahli dalam rancang bangun sistem kereta gantung. Berdasarkan laporan Sumatra Bode, peluang realisasi proyek ini saat itu dinilai sangat tinggi.
Rute Lintasan: Lintasan dirancang membentang dari jalan lama Pelabuhan Emmahaven (sekitar Jl. Bypass menuju Pelabuhan Teluk Bayur sekarang) hingga menara pandang di atas kawasan Kalorama.
Kinerja & Kecepatan: Jarak garis lurus rute ini hanya sekitar 10 kilometer. Dengan mengadopsi standar teknologi trek ganda berkecepatan 60 km/jam khas Swiss, perjalanan dari Padang menuju Soebang Pas diperkirakan dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 10 menit.
Efisiensi Struktur: Seluruh bentangan 10 km tersebut hanya memerlukan 22 tiang penyangga dengan rata-rata jarak 500 meter antar-tiang.
Menerobos Tantangan Lahan dan Jalur Pabrik Semen Indarung
Kebutuhan Lahan dan Standardisasi Keamanan: Meski terdengar mulus di atas kertas, rencana teknis proyek ini sempat menemui titik krusial. Salah satunya adalah kebutuhan pembebasan lahan selebar tiga meter di sepanjang rute demi standar keselamatan operasional.
Persilangan Jalur Pabrik Semen Indarung: Tantangan teknis lainnya muncul tatkala rute kereta gantung yang dirancang harus bersilangan dengan jalur lori gantung (aerial ropeway) milik NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (PT Semen Padang) yang sudah lebih dahulu beroperasi mengangkut bahan baku batu kapur, batu bara dan semen dengan rute dari Bukit Karang Putih ke area pabrik Indarung dan dari pabrik Indarung ke Pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur). Para insinyur Swiss berhasil memecahkan persoalan ini dengan merancang elevasi lintasan kereta gantung yang melintas setengah meter lebih tinggi tepat di atas jalur lori.
Solusi Bencana Alam: Selain menghemat waktu perjalanan, solusi kereta gantung ini dinilai sangat krusial karena mengeliminasi risiko bencana tanah longsor yang kerap melumpuhkan jalur darat biasa. Untuk merealisasikan ide tersebut, sebuah terobosan dinilai sangat mendesak. Mengandalkan jalur darat biasa bukan hanya memakan waktu, melainkan juga dibayangi risiko alam yang mematikan, seperti tanah longsor di perbukitan. Apalagi mengingat kawasan tersebut memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga perjalanan melalui jalur darat biasa akan sangat terdampak dengan iklim yang basah di area tersebut. Kereta gantung pun hadir sebagai solusi futuristik pada zamannya: hemat waktu sekaligus minim risiko bencana.
Draf dan cetak biru proyek ini kemudian diteruskan oleh insinyur senior dari Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda ke Bandung untuk ditinjau, dimodifikasi, dan disetujui. Pemberitaan dalam koran edisi 1939 ini ditutup dengan informasi bahwa otoritas di Padang saat itu tengah aktif mendata calon penghuni dan investor yang berminat menjadikan kawasan Kalorama, Soebang Pas sebagai tempat tinggal baru mereka.
Jejak Impian yang Melintasi Zaman
Kendati rencana ambisius di Kalorama, Soebang Pas ini akhirnya mengendap menjadi catatan sejarah dan arsip kolonial, visi di baliknya masih tetap relevan hingga hari ini. Keinginan untuk menghubungkan Kota Padang dengan kawasan perbukitan Sitinjau Lauik melalui moda transportasi yang efisien dan aman dari longsor telah menjadi perhatian sejak satu abad lalu. Membaca kembali lembaran sejarah kereta gantung Soebang Pas memberikan kita perspektif baru: Sitinjau Lauik tidak hanya menyimpan cerita tentang keindahan lanskap dan tantangan geografisnya, tetapi juga kisah ide-ide besar yang mendahului zamannya.
