Menggali Harta Tertimbun LAN untuk Negeri melalui Transmedia Storytelling
Tulisan dari Mohd Febrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lembaga Administrasi Negara (LAN) memiliki peran strategis dalam pengembangan kompetensi ASN, transformasi birokrasi, serta penguatan inovasi sektor publik. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2024, LAN tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pelatihan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan dan laboratorium inovasi pemerintahan.
Salah satu instrumen utama dalam mewujudkan peran tersebut adalah Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I dan Tingkat II yang ditujukan bagi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Madya dan Pratama. Melalui program ini, peserta tidak sekadar memperoleh kompetensi kepemimpinan, tetapi juga dituntut menghasilkan proyek perubahan (project of change) sebagai solusi nyata atas berbagai tantangan pembangunan dan tata kelola pemerintahan.
Berbeda dengan pelatihan yang berorientasi pada transfer pengetahuan, PKN dirancang untuk melahirkan pemimpin perubahan yang mampu mengubah gagasan menjadi aksi nyata. Melalui proyek perubahan, peserta dituntut mengidentifikasi persoalan strategis, membangun kolaborasi, dan menghadirkan inovasi yang berdampak bagi organisasi maupun masyarakat. Namun ironisnya, di tengah melimpahnya inovasi yang lahir setiap tahun, tantangan terbesar bukan lagi menciptakan perubahan, melainkan memastikan perubahan tersebut tetap hidup dan berkelanjutan.
Ketika Inovasi Menjadi “Harta Tertimbun”
Meski negara telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk melahirkan pemimpin perubahan dan inovasi birokrasi, banyak hasil yang belum sepenuhnya bertransformasi menjadi aset institusional yang berkelanjutan. Sejumlah proyek perubahan yang terbukti berhasil justru meredup sebelum mencapai potensi dampak terbaiknya. Bukan karena inovasinya tidak efektif, melainkan karena keberlangsungannya masih terlalu bertumpu pada figur penggagas.
Ketika penggagas dimutasi, dipromosikan, pensiun, atau berpindah unit kerja, inovasi sering kehilangan penggerak utamanya. Dukungan organisasi melemah, pengembangan terhenti, dan manfaat yang telah tercipta perlahan memudar. Di saat yang sama, pengalaman, pembelajaran, dan praktik baik yang terkandung di dalamnya sering tidak terdokumentasi dan terdiseminasi secara memadai. Akibatnya, pengetahuan yang seharusnya dapat diwariskan dan direplikasi justru berhenti di lingkungan organisasi asalnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan birokrasi Indonesia bukan terletak pada kemampuan menciptakan inovasi, melainkan pada kemampuan mendokumentasikan, mengomunikasikan, dan menyebarluaskannya. Banyak inovasi yang terbukti berhasil tetap menjadi pengalaman lokal yang kurang dikenal, sulit diakses, dan tidak menjangkau pihak lain yang dapat mengadopsi maupun mengembangkan manfaatnya. Akibatnya, proyek-proyek perubahan yang bernilai tinggi berubah menjadi “harta tertimbun” birokrasi, kaya manfaat, tetapi minim eksposur dan pemanfaatan. Ini mencerminkan kesenjangan antara penciptaan inovasi (innovation creation) dan penyebaran inovasi (innovation diffusion).
Momentum Baru bagi LAN
Disinilah LAN memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar. Jika selama ini LAN dikenal sebagai lembaga yang menghasilkan inovasi melalui pelatihan kepemimpinan, maka tahap selanjutnya adalah menjadi institusi yang memastikan inovasi tersebut terdokumentasi, dikembangkan, direplikasi, dan dimanfaatkan secara luas.
Peran ini sejalan dengan perkembangan administrasi publik modern yang tidak lagi hanya berfokus pada penciptaan pengetahuan (knowledge creation), tetapi juga pada bagaimana pengetahuan tersebut dikelola, dibagikan, dan dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai publik (knowledge management dan knowledge dissemination) (OECD, 2023; Laihonen, Kork, & Sinervo, 2024).
Di era disrupsi, tantangan birokrasi bukan lagi sekadar menemukan solusi baru, tetapi mempercepat pembelajaran dari solusi yang telah terbukti berhasil. Organisasi yang mampu mengelola dan menyebarkan pengetahuan secara efektif akan beradaptasi lebih cepat dibandingkan organisasi yang terus memulai dari nol. Karena itu, kemampuan mendokumentasikan, menceritakan, dan menyebarluaskan inovasi menjadi kompetensi strategis bagi birokrasi modern.
Dalam lingkungan pemerintahan yang semakin kompleks, kemampuan organisasi untuk menangkap pengalaman, mendokumentasikan praktik baik, serta menyebarluaskan pembelajaran menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kebijakan dan pelayanan publik. Organisasi yang mampu mengelola pengetahuan secara efektif akan lebih adaptif terhadap perubahan, mempercepat proses pembelajaran institusional, menghindari pengulangan kesalahan yang sama, dan memperluas replikasi inovasi yang telah terbukti berhasil.
Dengan aset ribuan proyek perubahan yang telah dihasilkan selama bertahun-tahun, LAN sesungguhnya memiliki “tambang emas” pengetahuan birokrasi yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengangkat kekayaan tersebut ke permukaan sehingga dapat dimanfaatkan oleh seluruh ekosistem pemerintahan Indonesia. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah transmedia storytelling.
Dari Laporan Menjadi Cerita Perubahan
Konsep transmedia storytelling diperkenalkan oleh Henry Jenkins sebagai pendekatan yang menyebarkan satu narasi melalui berbagai media yang saling terhubung. Dalam pendekatan ini, setiap platform memberikan nilai tambah yang berbeda, sehingga audiens memperoleh pengalaman yang lebih kaya dan mendalam.
Selama ini, proyek perubahan PKN umumnya terdokumentasi dalam bentuk laporan, presentasi seminar, video, dan dokumen pendukung. Format tersebut penting sebagai bukti akademik dan administratif, tetapi sering kurang menarik bagi masyarakat luas. Akibatnya, nilai, dampak, dan pembelajaran dari inovasi tersebut tidak tersampaikan secara optimal. Padahal setiap proyek perubahan menyimpan cerita yang kuat.
Ada kisah tentang upaya menurunkan angka stunting di wilayah terpencil. Ada cerita tentang digitalisasi layanan yang memangkas waktu pelayanan dari berhari-hari menjadi hitungan menit. Ada pula inovasi kesehatan yang mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini terabaikan. Ironisnya, cerita-cerita tersebut sering terkubur dalam laporan yang jarang dibaca publik.
Melalui transmedia storytelling, fokus komunikasi bergeser dari sekadar menjelaskan program menjadi menceritakan perjalanan perubahan. Publik tidak hanya mengetahui apa yang dilakukan, tetapi juga memahami mengapa inovasi itu lahir, tantangan yang dihadapi, siapa yang merasakan manfaatnya, dan bagaimana perubahan dapat diwujudkan. Dengan demikian, inovasi tidak lagi tampil sebagai dokumen birokrasi yang kaku, melainkan sebagai kisah transformasi yang inspiratif, relevan, dan mudah dipahami.
Model Implementasi Transmedia Storytelling di LAN
LAN memiliki berbagai platform digital yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan transmedia storytelling secara terintegrasi. YouTube dapat menjadi pusat narasi melalui dokumenter inovasi, podcast alumni, webinar bersama pakar, dan kisah mendalam tentang perjalanan perubahan. Instagram berfungsi sebagai ruang edukasi visual yang menyajikan infografik, carousel, data dampak, dan ringkasan inovasi yang mudah dipahami publik. TikTok dapat menghadirkan sisi yang lebih personal melalui testimoni penerima manfaat, cerita lapangan, dan visualisasi perubahan yang dirasakan masyarakat. Sementara itu, situs resmi LAN dapat berperan sebagai knowledge hub yang terintegrasi dengan basis data proyek perubahan, menyediakan dokumentasi, praktik baik, serta referensi inovasi yang dapat diakses, dipelajari, dan direplikasi oleh berbagai instansi pemerintah.
Sebagai contoh, sebuah proyek perubahan tentang digitalisasi layanan perizinan dapat dihidupkan melalui berbagai kanal yang saling terhubung. YouTube menyajikan dokumenter yang mengisahkan perjalanan perubahan, mulai dari persoalan yang dihadapi, tantangan implementasi, hingga dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Instagram menerjemahkan capaian tersebut ke dalam infografik dan carousel yang ringkas, menarik, dan mudah dipahami publik. TikTok menampilkan suara para penerima manfaat, memperlihatkan bagaimana inovasi tersebut mengubah pengalaman mereka dalam mengakses layanan pemerintah. Seluruh narasi kemudian bermuara pada situs resmi LAN sebagai knowledge hub yang menyimpan dokumentasi lengkap, praktik baik, dan panduan replikasi. Dengan pendekatan ini, sebuah proyek perubahan tidak lagi berhenti sebagai laporan pelatihan, melainkan bertransformasi menjadi sumber inspirasi, pembelajaran, dan inovasi yang dapat direplikasi secara luas di seluruh Indonesia.
Dari Diseminasi Menuju Difusi Inovasi
Tujuan pendekatan ini bukan sekadar meningkatkan visibilitas program, melainkan mempercepat difusi inovasi di seluruh ekosistem pemerintahan. Dengan demikian, inovasi yang lahir di satu daerah tidak hanya menyelesaikan masalah lokal, tetapi juga menjadi inspirasi dan rujukan bagi daerah lain hingga berkembang menjadi praktik nasional. Dalam perspektif Rogers (2003), nilai sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh keberhasilannya diciptakan, tetapi juga oleh kemampuannya untuk dikomunikasikan, diadopsi, dan direplikasi oleh pengguna lain.
Dalam konteks ini, transmedia storytelling menjadi jembatan antara pencipta dan pengguna inovasi. Narasi yang kuat tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga mendorong pembelajaran, adopsi, dan kolaborasi. Dengan demikian, cerita bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen strategis penyebaran inovasi.
Di sinilah LAN dapat memainkan peran yang lebih strategis, tidak hanya melahirkan pemimpin perubahan, tetapi juga memastikan inovasi yang dihasilkan tetap hidup, berkembang, dan menyebar melampaui penggagasnya. Sebab tantangan birokrasi saat ini bukanlah kekurangan inovasi, melainkan bagaimana menemukan, menceritakan, dan menyebarluaskan inovasi terbaik agar tidak hilang dalam arsip organisasi. Dengan peran tersebut, LAN berpeluang mengubah “harta tertimbun” birokrasi menjadi kekuatan kolektif bagi kemajuan negeri.
Daftar Pustaka
Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia. (2024). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2024 tentang Lembaga Administrasi Negara.
Republik Indonesia. (2022). Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Struktural Kepemimpinan.
Referensi
Jenkins, H. (2007). Transmedia storytelling 101. Confessions of an Aca-Fan. http://henryjenkins.org/2007/03/transmedia_storytelling_101.html
Laihonen, H., Kork, A.-A., & Sinervo, L.-M. (2024). Advancing public sector knowledge management: Towards an understanding of knowledge formation in public administration. Knowledge Management Research & Practice, 22(3), 223–233. https://doi.org/10.1080/14778238.2023.2187719
OECD. (2023). Government at a glance 2023. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/3d5c5d31-en
Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). Free Press.

