Mengintip Geliat Warga Telukjambe Sulap Sampah Jadi Berkah Lewat Budidaya Maggot

Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Aktif meneliti dan berfokus pada bidang kimia terapan, pengelolaan limbah, dan teknologi tepat guna.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fitri Yuliasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
KARAWANG – Pagi itu, suasana di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Telukjambe, Karawang, sudah terlihat sibuk. Tempat ini kini bukan lagi sekadar titik akhir pembuangan sampah rumah tangga. Di tangan warga pengelola seperti Sardi dan Kardi, tumpukan sampah organik warga perlahan diubah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
Ditemani oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) yang diketuai oleh Fitri Yuliasari, S.Si., M.Si., warga bahu-membahu menyortir maggot (larva lalat tentara hitam) yang sudah siap panen.

Kolaborasi warga dan akademisi ini berfokus pada proses hilirisasi. Maggot yang telah dipanen tidak langsung dijual mentah, melainkan diproses menggunakan mesin roaster agar kadar airnya berkurang. Ketelatenan menjadi kunci di tahap ini. Sardi mengungkapkan bahwa dari mulai pemilahan hingga proses roasting, semuanya harus dilakukan dengan hati-hati agar maggot bisa kering sempurna dan awet disimpan lebih lama.
Selain maggot kering, sisa kotoran dari proses budidaya ini juga tidak terbuang sia-sia. Sisa-sisa tersebut dicacah dan diolah menjadi pupuk kasgot (bekas maggot) organik.
Untuk memastikan produksi warga semakin optimal dan berkelanjutan, tim Unsika tidak hanya memberikan pendampingan, tetapi juga menghibahkan dua mesin utama kepada pihak pengurus TPS3R. Bantuan alat berupa mesin roaster (pengering maggot) dan mesin pencacah kasgot ini diserahkan langsung kepada warga sebagai modal kemandirian mereka.
Bagi para pengurus TPS3R, inisiatif dan dukungan alat ini membawa dampak yang jauh lebih besar dari sekadar mencari keuntungan finansial.
"Sebenarnya ini bukan cuma soal jualan. Maggot kering ini kan' juga bisa dipakai sendiri buat pakan lele dan unggas yang kami budidayakan di TPS. Jadi ada siklus ekonomi yang muter di sini," tutur Kardi dengan antusias.
Kini, dengan pendampingan langsung yang tidak canggung saling mengoreksi antara akademisi dan warga, rasa memiliki terhadap fasilitas TPS3R semakin menguat. Sampah tak lagi dilihat sebagai masalah, melainkan berkah yang memberdayakan.
Kehadiran para akademisi di TPS3R Telukjambe ini bukanlah tanpa alasan. Pendampingan ini merupakan wujud nyata dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi kampus. Lewat pendanaan dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendiktisaintek RI Tahun Anggaran 2026 (sesuai Kontrak Nomor: 190/C3/DT.05.00/PM/2026), program ini didesain agar akademisi tidak hanya diam di kampus, tetapi turun langsung membawa solusi. Melalui sinergi inilah, inovasi pengolahan sampah dan kemandirian ekonomi warga bisa benar-benar terwujud.
