Menikmati Hantu Globalisasi

Dosen Psikologi Sosial di Departemen Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sartana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekitar dua hingga tiga dekade lalu, ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, globalisasi merupakan salah satu tema yang paling sering dibicarakan. Ia muncul dalam pidato pejabat, pelajaran di sekolah, seminar, diskusi publik, hingga pengantar berbagai proposal penelitian. Globalisasi dipahami sebagai penanda perubahan besar dunia, tetapi sekaligus menghadirkan kegelisahan tentang masa depan.
Pada masa itu, globalisasi hampir selalu dibayangkan sebagai kekuatan yang datang dari luar. Arus perdagangan, investasi, teknologi, dan budaya bergerak melampaui batas negara, seolah membawa perubahan yang sulit dikendalikan oleh masyarakat maupun pemerintah. Karena itu, globalisasi kerap dipandang sebagai ancaman terhadap identitas bangsa, budaya lokal, bahkan kedaulatan negara.
Tidak mengherankan jika globalisasi kemudian tampil sebagai semacam "hantu". Ia tidak selalu tampak, tetapi diyakini memiliki pengaruh yang sangat besar. Perdebatan tentang globalisasi pada masa itu banyak diwarnai pertanyaan tentang bagaimana masyarakat harus melindungi diri dari dampak yang mungkin ditimbulkannya.
Tiga dekade kemudian, cara kita memandang globalisasi berubah secara mendasar. Globalisasi tidak lagi tampil sebagai gagasan yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia telah menjadi bagian dari rutinitas yang kita jalani hampir tanpa disadari.
Perubahan itu terutama didorong oleh perkembangan teknologi digital. Melalui telepon genggam, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang di berbagai negara, mengikuti perkuliahan dari universitas di luar negeri, menikmati film dan musik dari berbagai belahan dunia, bekerja dalam jaringan lintas negara, hingga membeli barang yang diproduksi ribuan kilometer dari tempat tinggalnya. Aktivitas semacam itu tidak lagi dipandang sebagai praktik globalisasi, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang biasa.
Sesungguhnya, di situlah globalisasi bekerja. Ia tidak lagi terutama eksis melalui perundingan perdagangan internasional, ekspansi perusahaan multinasional, atau kebijakan ekonomi negara-negara besar. Globalisasi berlangsung melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan jutaan orang setiap hari. Membuka media sosial, menggunakan mesin pencari, memesan makanan melalui aplikasi, melakukan pembayaran digital, atau mengunggah video ke platform global merupakan bagian dari proses yang sama.
Sosiolog Larry Ray (2007) menyebut perubahan ini sebagai everyday globalization. Globalisasi tidak lagi dipahami sebagai proses besar yang berada di luar kehidupan masyarakat, melainkan sebagai sesuatu yang terus diciptakan dan dipelihara melalui praktik-praktik keseharian. Dengan kata lain, globalisasi bukan hanya memengaruhi kehidupan sosial, tetapi hidup melalui tindakan sosial itu sendiri.
Pandangan tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam posisi masyarakat. Dahulu masyarakat lebih sering dipahami sebagai pihak yang menerima dampak globalisasi. Kini batas itu semakin kabur. Ketika seseorang membuat konten yang ditonton oleh pengguna di berbagai negara, mengikuti tren yang berkembang di ruang digital, atau bekerja melalui platform yang menghubungkan berbagai belahan dunia, ia tidak hanya mengalami globalisasi. Ia juga menjadi bagian dari proses yang membuat globalisasi terus berlangsung.
Perubahan ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak menghapus yang lokal sebagaimana banyak dikhawatirkan pada masa lalu. Sebaliknya, kehidupan lokal justru semakin terhubung dengan berbagai proses yang berlangsung pada tingkat global. Pilihan yang tampak sangat pribadi, mulai dari cara memperoleh informasi, menikmati hiburan, berbelanja, hingga bekerja, sesungguhnya dibentuk oleh jaringan yang melampaui batas-batas geografis.
Di sinilah letak ironi globalisasi. Sesuatu yang dahulu dipandang sebagai ancaman terhadap kehidupan lokal kini justru menopang kehidupan lokal itu sendiri. Banyak aktivitas ekonomi, pendidikan, komunikasi, bahkan hubungan keluarga bergantung pada infrastruktur digital yang dibangun melalui jaringan global. Yang dahulu ditakuti sebagai kekuatan dari luar kini menjadi bagian dari cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, perubahan ini tidak berarti persoalan globalisasi telah berakhir. Justru karena hadir melalui kenyamanan, globalisasi menjadi semakin sulit dikenali. Kemudahan memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mengakses berbagai layanan digital sering membuat kita lupa bahwa di balik semua itu berlangsung perubahan yang tidak sederhana. Platform digital membentuk cara kita memperoleh pengetahuan, membangun selera, berinteraksi dengan orang lain, bahkan memahami diri sendiri. Globalisasi tidak lagi bekerja terutama melalui paksaan, melainkan melalui kebiasaan.
Karena itulah, tantangan terbesar pada masa sekarang bukan lagi menghadapi globalisasi sebagai kekuatan yang datang dari luar. Tantangan yang lebih penting adalah memahami bagaimana globalisasi bekerja melalui tindakan-tindakan yang kita anggap paling biasa. Semakin akrab ia dengan kehidupan sehari-hari, semakin kecil kemungkinan kita menyadari pengaruhnya.
Hantu globalisasi ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah. Dahulu ia tampak asing sehingga mudah dikenali. Kini ia hadir dalam bentuk yang terasa akrab dan nyaman sehingga nyaris tidak lagi terlihat. Mungkin di situlah paradoks globalisasi dewasa ini. Ketika globalisasi masih dipandang sebagai ancaman, kita sibuk membicarakannya. Ketika ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kita justru berhenti menyadari bahwa kita sedang hidup di dalamnya.
Sartana, M.A.
Dosen Psikologi Sosial di Universitas Andalas
