Konten dari Pengguna

Menjadi Tua Tanpa Menuakan Pikiran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Usia 56 tahun bukan alasan untuk mengurangi rasa ingin tahu; justru bisa menjadi alasan untuk semakin rajin menggunakan pikiran. Membaca membuat kita berjumpa dengan gagasan yang belum pernah kita pikirkan, menulis memaksa kita merapikan pikiran, memotret melatih mata untuk memperhatikan hal-hal kecil, sementara berdiskusi mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari kepala sendiri. Belajar hal baru juga bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menjaga pikiran tetap lentur. Orang yang terus belajar memberi kesempatan kepada dirinya untuk berubah tanpa kehilangan jati diri. Sebab yang membuat seseorang tua bukan semata-mata bertambahnya angka pada usia, melainkan ketika ia berhenti penasaran dan merasa sudah mengetahui segalanya.

Karena itu, memilih teman dan lingkungan juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan pikiran. Bergaul dengan orang-orang yang sehat secara emosional membuat kita lebih mudah bertumbuh, sementara terlalu lama berada dalam lingkungan yang penuh sinisme, drama, dan intrik dapat membuat kita tanpa sadar ikut mengadopsi cara berpikir yang sama. Mendekat kepada alam pun dapat menjadi bentuk syukur sekaligus latihan kesadaran: berjalan pagi, memotret cahaya matahari di antara pepohonan, memperhatikan burung, atau sekadar duduk tanpa tergesa-gesa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi kompetisi. Tetap bersosial dan menebar kebaikan penting, tetapi kedewasaan juga berarti mampu memilih lingkungan yang membuat kita pulang dengan pikiran lebih jernih, bukan hati yang semakin keruh.

Saya tidak takut menjadi tua. Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika kemampuan berpikir ikut menua: ketika kita semakin cepat menghakimi, semakin malas mendengar, dan semakin mudah melontarkan kata-kata yang merendahkan orang lain hanya karena berbeda pandangan. Menyebut seseorang “goblok” mungkin membutuhkan waktu satu detik, tetapi menahan diri untuk memahami mengapa orang itu berpikir demikian membutuhkan kedewasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya sederhana: ketika membaca pendapat yang tidak kita setujui di media sosial, kita bisa langsung membalas dengan hinaan, atau berhenti sejenak, membaca ulang, memeriksa konteks, lalu memilih kata yang lebih bermartabat. Kemampuan untuk berhenti sebelum bereaksi itulah salah satu bentuk kecerdasan yang layak dipelihara ketika usia bertambah.

Menjadi tua tanpa menuakan pikiran

Pada akhirnya, saya tidak sedang berlomba membuktikan bahwa saya lebih pintar daripada orang lain. Saya hanya ingin menjadi versi diri yang sedikit lebih baik daripada kemarin: lebih banyak membaca daripada menghakimi, lebih banyak mendengar daripada menyela, lebih banyak belajar daripada merasa paling tahu, dan lebih banyak bersyukur daripada mengeluh. Saya ingin hidup lebih tenang, bebas dari kebutuhan untuk selalu dipuji, dan tidak terseret dalam drama atau intrik yang sebenarnya tidak menambah kualitas kehidupan. Jika kelak usia terus bertambah, semoga yang ikut tumbuh bukan hanya keriput dan uban, tetapi juga kebijaksanaan, empati, kemampuan menimbang kata-kata, dan kesediaan untuk terus belajar. Sebab bagi saya, menua adalah keniscayaan; tetapi membiarkan pikiran menjadi sempit adalah pilihan.

Dan semua pikiran saya tentang hari tua, insya Allah akan direfleksikan di Kopi Pensiunan di kawasan Puncak 2 Sukamakmur. Tempat ngopinya pensiunan dan pekerja lelah!

Biar tua tetap membaca