Konten dari Pengguna

Menjaga Inflasi, Menjaga Kestabilan Ekonomi

Ircham Andrianto Taufick

Ircham Andrianto Taufick

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tingkat inflasi yang Terjaga (Foto generated by AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tingkat inflasi yang Terjaga (Foto generated by AI)

Di pasar tradisional, stabilitas harga tidak hadir dalam bentuk grafik maupun laporan. Stabilitas harga hadir dalam bentuk sederhana dalam percakapan penjual dan pembeli. “Cabainya harga berapa sekarang, Bu?” tanya pembeli. “Sekarang Rp50.000/kg, bu. naik Rp5.000 dibanding minggu lalu karena pasokannya terbatas” jawab si pedagang.

Bagi masyarakat, kestabilan harga bukan tentang angka tapi tentang aman. Rasa aman ketika seorang ibu masih bisa membeli beras, minyak goreng, cabai, dan ikan tanpa menghitung ulang isi dompetnya. Ketika pedagang gorengan bisa menjaga harga jual tanpa mengurangi ukuran tempe. Saat seorang pemilik warung makan masih bisa mempertahankan harga nasi dan lauknya.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia untuk periode Mei 2026 sebesar 3,08% (yoy). Secara makro, angka itu menunjukkan harga relatif masih terkendali. Angka ini masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional yaitu 2,5% ± 1 %.

Namun kabar baik itu tetap menyimpan paradoks. Inflasi terkendali tetapi sebagian masyarakat masih merasa hidup semakin mahal. Statistik menunjukkan suhu ekonomi belum demam, tetapi rumah tangga mulai mengalami kenaikan beberapa kebutuhan pokok seperti panas yang membuat tidur tidak nyenyak.

Paradoks ini bukan berarti kesalahan data. Justru kita yang perlu membaca inflasi dengan lebih jernih. Inflasi adalah rata-rata pergerakan harga banyak barang dan jasa. Sementara pengalaman belanja masyarakat sangat spesifik: beras yang dibeli hari ini, cabai yang naik minggu ini, minyak goreng yang habis pagi ini, atau biaya transportasi yang dibayar setiap hari.

Masyarakat tidak hidup dari angka rata-rata. Mereka hidup dari barang yang paling sering mereka beli. Ketika satu-dua komoditas pangan bergerak naik, rasa mahal muncul lebih cepat daripada perubahan angka inflasi nasional. Bagi rumah tangga berpendapatan tetap, selisih kecil harga pangan dapat berarti pengurangan lauk. Bagi pelaku UMKM, kenaikan bahan baku dapat berarti pilihan sulit: menaikkan harga, mengecilkan porsi, atau mendapat margin yang lebih tipis.

Dalam teori ekonomi, inflasi bukan hanya soal harga hari ini melainkan juga soal ekspektasi harga besok. Jika masyarakat percaya harga akan terus naik, perilaku ekonomi ikut berubah. Konsumen mempercepat belanja, pedagang menaikkan harga lebih awal, produsen menahan stok, dan pasar menjadi lebih mudah gelisah. Ekspektasi yang tidak dikelola dapat membuat api kecil inflasi menjalar lebih luas.

Di titik inilah peran Bank Indonesia menjadi penting. BI tidak hanya menjaga angka inflasi tetapi menjaga jangkar kepercayaan. Pada Mei 2026 BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global sekaligus sebagai langkah pre-emptive agar inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran.

Kebijakan suku bunga ini selalu membawa konsekuensi. Ia seperti rem di jalan menurun: dibutuhkan agar kendaraan tidak kehilangan kendali, tetapi jika diinjak terlalu keras maka laju kendaraan akan melambat. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menjaga nilai tukar, menahan ekspektasi inflasi, dan memperkuat kepercayaan pasar. Tetapi pada saat yang sama, biaya dana akan naik. Cicilan kredit terasa lebih berat. Pelaku usaha lebih berhati-hati mengambil pinjaman. UMKM yang bergantung pada modal kerja bisa menunda ekspansi. Rumah tangga menunda pembelian barang tahan lama. Perbankan pun menjadi lebih selektif menyalurkan kredit.

Di sisi lain BI memahami bahwa pengendalian inflasi tidak cukup hanya dengan suku bunga. Harga cabai tidak otomatis turun karena BI-Rate naik. Harga ikan tidak menjadi stabil oleh kebijakan moneter. Harga beras tidak ditentukan oleh rapat kebijakan. Ada faktor musim panen, cuaca, kapal, pelabuhan, gudang, rantai pasok, dan distribusi yang mempengaruhi harga di pasar.

Oleh karena itu pendekatan pengendalian inflasi perlu bergerak seperti orkestra. Kebijakan moneter menjaga ekspektasi agar ekonomi tidak tumbang. Pemerintah menjaga pasokan dan kebijakan pangan. Pemerintah daerah memastikan distribusi sampai ke pasar. Pelaku usaha menjaga kelancaran rantai pasok. Sementara masyarakat melakukan belanja bijak dan tidak ikut terseret kepanikan harga.

Launching Program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera . Foto: Departemen Komunikasi - Bank Indonesia

Program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) menjadi relevan. GPIPS memperkuat program pengendalian inflasi pangan melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Fokusnya tidak hanya meredam harga sesaat, tetapi juga memperkuat produktivitas pangan, distribusi, kerja sama antardaerah, dan pembiayaan sektor pertanian, terutama pascapanen.

Di berbagai wilayah seperti Sulawesi Utara, strategi 4K bukan sekadar istilah kebijakan. Harga pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh laut yang bersahabat, kapal yang berangkat tepat waktu, solar yang tersedia, dan distribusi antardaerah yang lancar. Adanya gangguan cuaca bisa menjadi biaya tambahan. Satu keterlambatan kapal bisa membuat harga bergerak.

Di sinilah peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi strategis. Kegiatan seperti operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, pemantauan harga harian, kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi, dan penguatan produksi lokal bukan hanya agenda administratif. Semua itu adalah strategi menerjemahkan stabilitas makro menjadi ketenangan mikro.

Sisi positifnya inflasi Mei 2026 menunjukkan fondasi stabilitas masih terjaga. Hal ini penting di tengah tekanan global, volatilitas nilai tukar, dan risiko harga pangan yang mudah berubah. Stabilitas ini memberi ruang bagi rumah tangga untuk merencanakan pengeluaran, bagi pelaku usaha untuk menjaga produksi, dan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pasokan sebelum tekanan harga meningkat.

Tetapi keberhasilan ini tidak boleh membuat kita semua lengah. Inflasi yang terkendali adalah fondasi, bukan garis akhir. Tugas berikutnya adalah memastikan angka stabil itu berubah menjadi pengalaman belanja yang lebih tenang. Stabilitas harga yang ideal bukan terlihat dalam grafik melainkan terasa di pasar, warung, dapur, dan meja makan masyarakat.

Pada akhirnya, pengendalian inflasi bukan hanya tentang menjaga angka agar tetap dalam sasaran. Ia adalah ikhtiar menjaga harapan agar masyarakat percaya bahwa hari esok tidak lebih mahal dibanding hari ini. Pertanyaannya: setelah inflasi berhasil dijaga dalam sasaran, apakah kita sudah memastikan bahwa stabilitas harga telah sampai ke dapur masyarakat yang paling rentan atau hanya sampai di laporan publikasi saja?