Menkes Soroti Ketimpangan Penghasilan Dokter RI: Ada Miliaran, Ada Ratusan Ribu

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti besarnya ketimpangan penghasilan di kalangan dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia. Menurutnya, perbedaan pendapatan antara dokter dengan penghasilan tertinggi dan terendah saat ini sudah terlalu lebar sehingga perlu ditata.
Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/6), Budi mengungkapkan bahwa persoalan penghasilan menjadi salah satu dari empat isu utama yang tengah dibenahi pemerintah dalam penguatan SDM kesehatan.
"Memang terdapat variasi besaran penghasilan yang jauh, Bapak-Ibu. Jauh," tegas Budi.
Ia menggambarkan bahwa di Jakarta saja terdapat dokter yang memperoleh pendapatan hingga miliaran rupiah per bulan, sementara sebagian dokter lainnya hanya memperoleh penghasilan yang sangat rendah.
"Ada yang dapatnya sebulan miliaran, ada kita sering dengar tuh, apakah seperti tukang parkir yang ratusan ribu," ujarnya.
Menurut Budi, kesenjangan tersebut bahkan bisa mencapai ribuan kali lipat antara kelompok dengan pendapatan tertinggi dan terendah.
"Ini adalah salah satu bidang di mana gap-nya tinggi sekali. Mungkin bisa ribuan kali, Pak, antara yang paling atas dan paling bawah," kata Budi.
Selain pendapatan praktik, ketimpangan juga terlihat dari besaran tunjangan yang diterima dokter di berbagai daerah. Budi mencontohkan dokter spesialis di Kabupaten Bone hanya menerima tunjangan Rp 3 juta, sementara dokter spesialis di Kabupaten Mahakam Ulu memperoleh tunjangan hingga Rp 80 juta per bulan.
"Teman-teman dokter spesialis yang sama, lulusan yang sama, lihat gini kan dia pasti akan sedih, kan. Kok teman saya di sana bisa dapat Rp 80 juta, saya Rp 3 juta," ujarnya.
Perbedaan serupa juga terjadi pada dokter gigi. Menurut data yang dipaparkan Kementerian Kesehatan, tunjangan dokter gigi di Indragiri hanya sekitar Rp 1 juta, sedangkan di Cianjur mencapai Rp 30 juta.
"Ada dokter gigi di Indragiri Riau 1 juta, di Cianjur Jawa Barat 30 juta tunjangannya," kata Budi.
Budi menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan rendahnya pendapatan dokter, tetapi juga distribusi kesempatan kerja yang belum merata. Ia menyinggung masih adanya dokter yang memegang izin praktik di beberapa fasilitas kesehatan sekaligus, sementara dokter muda kesulitan memperoleh tempat praktik.
"Penghasilannya ini memang bukan hanya masalah yang rendah, tapi gap-nya besar sekali, dan ada unsur-unsur yang mungkin di profesi lain itu lebih lebih diratakan. Ini seperti ada monopoli yang tinggi itu sangat tinggi, yang rendah itu sangat rendah," tegasnya.
