Menkes Ungkap Kendala Tangani Korban Gempa NTT: Banyak Warga Pilih Tradisional

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) berdialog dengan pasien di RSUD Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Gecio Viana/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) berdialog dengan pasien di RSUD Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). Foto: Gecio Viana/ANTARA FOTO

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan fokus utama pemerintah dalam penanganan korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah mencegah bertambahnya jumlah korban meninggal dunia.

Budi mengatakan penanganan pasien menjadi prioritas pada satu hingga dua minggu pertama setelah bencana. Pasien dengan kondisi parah harus segera dirujuk ke rumah sakit, sementara pasien dengan kondisi lebih ringan dapat ditangani di puskesmas atau posko pengungsian.

“Fokus kita adalah jangan sampai yang meninggal itu bertambah Bapak Ibu ya. Kita tidak ingin yang meninggal itu bertambah, sehingga para pasien yang luka itu bisa tertangani dengan baik," ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8).

Menurut Budi, pemerintah saat ini terus mengidentifikasi pasien terdampak, terutama mereka yang masuk triase merah dan kuning. Pasien kategori tersebut merupakan kelompok yang harus mendapatkan penanganan lebih cepat karena kondisi mereka tergolong parah.

“Nah data ini bergerak terus tapi sekarang sudah hampir 95 persen lebih saya rasa teridentifikasi jadi yang merah kuning itu ada di mana," ungkap Budi.

Namun, dalam proses penanganan tersebut, Kementerian Kesehatan menemukan sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya adalah masih terbatasnya akses tenaga kesehatan untuk masuk ke sejumlah desa terdampak.

“Masalahnya adalah beberapa fasilitas kesehatan benar-benar nggak bisa operasional, karena SDM-nya nggak ada untuk masuk ke desa-desa. Sehingga ada banyak pasien-pasien yang sebenarnya kategori merah tetapi dirawat mandiri di rumah-rumahnya," ucap Budi.

Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat RSUD Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Kamis (20/8/2026). Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana

Banyak Warga Masih Pilih Pengobatan Tradisional

Selain keterbatasan tenaga kesehatan, Budi menyoroti faktor budaya masyarakat di NTT yang masih mempercayai pengobatan tradisional. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan karena ada pasien yang mengalami cedera serius tetapi memilih tidak mendapatkan layanan medis profesional.

“Ada juga isu kedua budaya di NTT itu mereka masih percaya ke tradisional, jadi banyak sekali yang udah patah itu ya mereka lebih percaya ke perawatan tradisional dibandingkan dengan perawatan medis yang profesional. Ini mirip mungkin dengan saya orang Jawa Barat, saya tahu di Jawa Barat juga ada tuh daerah-daerah seperti ini ya kalau mau diajak ke yang konvensional malah agak sulit ya," jelas Budi.

Ia mengatakan pasien kategori merah dan kuning akan diprioritaskan untuk dirujuk ke rumah sakit. Penanganan tersebut dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan helikopter, kendaraan darat, maupun kapal rumah sakit.

“Nah ini ada contohnya Bapak Ibu yang merah dan kuning itu halaman selanjutnya kita rujuk. Segera kita rujuk dengan segala macam cara ke rumah sakit-rumah sakit dari delapan kabupaten kota yang ada di sana, hanya Flores Timur yang tidak kena jadi tujuh kabupaten itu terkena," tuturnya.

Dari tujuh kabupaten terdampak, Kementerian Kesehatan mengandalkan sejumlah rumah sakit rujukan untuk menangani korban. Dua di antaranya merupakan rumah sakit baru yang telah selesai dibangun, yakni Rumah Sakit Komodo di Manggarai Barat dan rumah sakit di Borong, Manggarai Timur.

Meski demikian, Budi mengatakan posisi Rumah Sakit Komodo di Manggarai Barat relatif jauh dari sejumlah titik yang menjadi pusat bencana. Ia menyebut Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo menjadi wilayah dengan dampak yang cukup besar.

“Memang isunya yang di Manggarai Barat dia agak jauh dari titik pusat bencana yaitu di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan di Nagekeo. Itu yang paling banyak. Untuk itu kita juga kerjasama dengan Rumah Sakit Kapal Airlangga kita bantu agar bisa mendekat ke sana," ujar Budi.

Pasien yang menjalani perawatan beristirahat di tenda darurat RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (16/8/2026). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Pasien Rujukan Didominasi Korban Trauma

Budi menjelaskan pasien yang dirujuk dari wilayah terdampak didominasi korban trauma akibat gempa. Cedera yang ditemukan antara lain trauma kepala, trauma dada, hingga patah tulang pada tangan dan kaki.

“Ini adalah titik-titik rawatan rujukan untuk pasien-pasien yang merah dan memang yang paling banyak adalah trauma. Bisa trauma kepala, trauma dada, banyak juga patah tangan, patah kaki itu banyak sekali karena ini gempa," jelas Budi.

Karena jenis bencana menentukan jenis cedera dan penyakit yang berpotensi muncul, Kementerian Kesehatan juga menyesuaikan tenaga medis yang diterjunkan ke lokasi.

“Kalau bencana gempa bumi kira-kira dokternya yang datang itu ortopedi sama dokter bedah dulu. Misalnya gempanya banjir, misal yang datang adalah spesialis penyakit dalam sama infeksi gitu ya. Kalau gempanya misalnya tanah longsor itu beda lagi karena memang masing-masing bencana itu membutuhkan profil layanan kesehatan yang berbeda sehingga profil SDM kesehatannya juga berbeda ya," ucap Budi.

Selain menyiapkan rumah sakit rujukan, Kementerian Kesehatan juga mengaktifkan rumah sakit lapangan setelah mengetahui terdapat fasilitas kesehatan yang berhenti beroperasi total.

“Nah dari tujuh rumah sakit di tujuh kabupaten terdampak, dua itu berhenti operasi total yaitu satu di Nagekeo, satu lagi yang ada di Manggarai. Nah itu adalah dua rumah sakit yang kita amati tidak bisa beroperasi," ungkapnya.

Kementerian Kesehatan kemudian memutuskan mengirimkan rumah sakit lapangan untuk memastikan layanan kesehatan rujukan tetap berjalan.

“Di hari kedua kita sudah tahu, jadi 16 kita sudah tahu sehingga kita putuskan untuk mengirimkan rumah sakit lapangan. Tanggal 17 dikirim tanggal 18 malam sudah beroperasi yang di Ruteng yang di Nagekeo sebelumnya jadi dalam kurang waktu satu minggu sudah mulai bisa beroperasi penuh layanan kesehatan rujukan untuk pasien yang triasenya merah dan kuning," jelasnya.

Untuk menjangkau pasien di desa-desa yang sulit diakses, Kementerian Kesehatan juga berkoordinasi dengan Basarnas dalam proses evakuasi.

“Kementerian kesehatan juga sekarang sudah jauh lebih bagus koordinasinya sebenarnya paling banyak dengan Basarnas jadi kita dapat helikopter oranye itu banyak sekali untuk bisa mengevakuasi pasien. Perginya kita bawa tenaga kesehatan. Jadi supaya efisien perginya kita kirim SDM kesehatan supaya bisa masuk ke desa-desa mengidentifikasi yang triase merah kuning pulangnya diangkut pasiennya," jelasnya.

Budi menyebut sejumlah pasien terutama diarahkan menuju rumah sakit di Borong dan Komodo. Manggarai Barat juga menjadi salah satu pusat komando penanganan bencana.

Selain menggunakan helikopter, evakuasi pasien juga dilakukan melalui jalur darat. Kendaraan digunakan untuk membawa pasien dari wilayah terdampak menuju rumah sakit rujukan.

Sementara untuk masyarakat di wilayah pesisir utara, Kementerian Kesehatan juga memanfaatkan Rumah Sakit Kapal Airlangga sebagai salah satu fasilitas kesehatan rujukan yang dapat mendekati lokasi terdampak.

Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat RSUD Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Kamis (20/8/2026). Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana

Tahapan Atasi Masalah Kesehatan Imbas Bencana di NTT

Budi menegaskan penanganan pada tahap awal menjadi prioritas agar pasien yang mengalami luka tidak terlambat mendapatkan pertolongan.

“Fokus kita pertama kali adalah memastikan agar pasien yang terkena itu dirawat dulu. Jadi di minggu pertama, minggu kedua kita ingin pastikan semua pasien yang terdampak bisa kita identifikasi kemudian kita rawat. Kalau yang bisa diselesaikan di Puskesmas, diselesaikan di Puskesmas, kalau tidak harus kita rujuk," ungkapnya.

Setelah penanganan pasien, tahap berikutnya adalah mengaktifkan kembali fasilitas kesehatan yang terdampak. Sementara pemulihan dan pembangunan kembali fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan berat menjadi tahap selanjutnya.

“Sesudah itu baru yang tahap keduanya kita mulai mengaktifkan kembali, ya seluruh faskes kesehatan yang terdampak oleh bencana. Sedangkan tahap ketiganya yang nanti baru akan kita lakukan kemudian adalah bagaimana memulihkan kembali faskes-faskes yang rusak," katanya.

“Tugas yang kita berikan adalah ke seluruh fasilitas kesehatan yang ada Rumah Sakit dan Puskesmas untuk melakukan triase awal secara cepat. Sehingga kita tahu pasien yang kondisinya yang parah yang mana. Yang merah dan kuning ini yang harus kita segera tangani, kalau yang hijau biarkan itu di-handle di Puskesmas atau posko pengungsian sehingga tidak memberikan beban ke layanan kesehatan rujukan di atasnya. Nah ini adalah prioritas kita di dua minggu pertama," kata dia.