Menko PM Cak Imin Dorong Madrasah dan Pesantren Cetak Lulusan Siap Kerja

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mendorong madrasah dan pesantren, khususnya pada jenjang Madrasah Aliyah (MA), untuk menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja maupun menjadi pelaku usaha.

Hal itu disampaikan Cak Imin usai rapat koordinasi bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10).

Cak Imin mengatakan pemerintah ingin memperkuat konsep pemberdayaan dalam ekosistem pendidikan. Salah satunya dengan memasukkan kurikulum berbasis kompetensi yang membekali siswa dan santri dengan keterampilan praktis.

“Pengalaman menunjukkan melalui kurikulum berbasis kompetensi yang selama ini sifatnya hanya tambahan. Tambahan keterampilan tertentu, tambahan skill tertentu, tambahan paket kajian tertentu atau kurikulum tertentu,” terang Cak Imin.

Menurutnya, keterampilan yang diberikan selama ini cenderung menjadi tambahan dalam kurikulum pendidikan. Karena itu ke depan, unsur pemberdayaan diharapkan menjadi bagian yang lebih terintegrasi dalam proses pendidikan.

Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock

“Jadi kita akan dorong terus agar baik madrasah maupun pesantren di level aliyah juga dipersiapkan menjadi lulusan yang siap kerja maupun siap mandiri,” lanjutnya.

Menurutnya, lulusan siap kerja berarti memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja pada tingkat pendidikan menengah. Sementara itu, lulusan yang siap mandiri diharapkan mampu membangun usaha sendiri.

“Siap berusaha, diharapkan meskipun lulusan sekolah menengah atau aliyah atau sejajar di level pesantren, itu juga memasukkan unsur-unsur pemberdayaan dan kemandirian sehingga lulusannya bisa siap menjadi pelaku usaha,” tuturnya.

Selain penguatan kurikulum, Cak Imin turut mendorong pengembangan pesantren sebagai ekosistem pemberdayaan ekonomi.

Kata dia, sejumlah pesantren telah berhasil membangun kegiatan ekonomi produktif yang tidak hanya menopang kebutuhan internal lembaga, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Novian Fazli/Shutterstock

“Ada anggaran-anggaran untuk membantu ekosistem pesantren yang sudah tumbuh. Banyak sekali pesantren-pesantren yang sudah mandiri menjadi ekosistem ekonomi yang sangat produktif,” katanya

Dia mencontohkan Pesantren Al-Ittifaq di Bandung yang mengembangkan kegiatan agribisnis. Model tersebut dinilai menunjukkan potensi pesantren untuk menjadi penggerak kegiatan ekonomi di lingkungannya.

“Yang akhirnya bisa tidak saja menghidupi pesantrennya, tetapi juga menghidupi masyarakat dan lingkup pesantren lainnya,” tutur Cak Imin.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, pemerintah berharap pengembangan pesantren mendapat dukungan dari Kementerian Agama, kementerian lain, serta program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Sebab, Cak Imin menilai pesantren memiliki potensi untuk mengembangkan kegiatan ekonomi karena didukung keberadaan pasar, konsumen, dan bahan baku.

“Ini mendapatkan perhatian khusus dalam memberikan pemberdayaan berbasis ekosistem pesantren yang sudah sangat kuat, yaitu ekosistem ekonomi. Pasarnya ada, konsumennya ada, bahan bakunya juga ada,” ujarnya.

Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar usai rapat koordinasi di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Dalam kesempatan itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan terdapat sekitar 80 ribu madrasah dan 42 ribu pondok pesantren di bawah Kementerian Agama yang mayoritas peserta didik di lembaga tersebut berasal dari kelompok desil 1 sampai 4.

“Dengan demikian, alumni kami itu insyaallah umumnya tidak manja dan siap untuk berkeringat. Dan terbukti ya, betul-betul memberikan penguatan pemberdayaan masyarakat terutama di perdesaan,” kata Nasaruddin.