Menolak Jadi Wadah Kosong di Ruang Kelas

Mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Haichal Faresh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda merenungi, untuk apa sebenarnya kita sekolah selama 12 tahun? Dari sekian banyak pelajaran, dapatkah Anda mengingat sebagian besar dari apa yang telah Anda pelajari? Mungkin beberapa ada yang masih menyangkut di kepala, tetapi sebagian besar dari kita mungkin juga sudah lupa tentang materi yang kita pelajari saat duduk di bangku sekolah. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang wajar karena tidak semua materi pelajaran yang kita pelajari di sekolah kita gunakan di kehidupan nyata.
Use It or Lose It
Otak kita memiliki cara kerja yang sangat efisien. Memori yang tidak digunakan akan memudar dan perlahan akan menghilang serta sulit untuk diingat. Inilah mengapa sebagian besar dari kita lupa akan apa yang dipelajari di sekolah selama 12 tahun. Selama di sekolah, kita selalu diminta untuk mengingat materi yang nantinya akan diuji dalam ujian yang biasanya berbasis pilihan ganda. Jauh-jauh hari, gaya pembelajaran seperti ini sudah dikritisi oleh pemikir pendidikan Paulo Freire melalui bukunya Pendidikan Kaum Tertindas. Paulo Freire menolak gaya pendidikan banking concept of education, di mana siswa dianggap sebagai wadah kosong yang akan diisi. Gaya pendidikan ini memiliki karakteristik guru yang aktif mendikte dan berceramah (teacher-centered learning yang terlalu berlebihan), serta siswa yang pasif yang diharapkan untuk menghafal dan patuh. Hal ini dapat merugikan siswa; mereka belajar dan tahu banyak hal, tetapi tidak memahami alur berpikirnya, seakan-akan mereka didoktrinasi.
Pedagogy of the Oppressed
Cara belajar yang seperti itu dapat menghambat siswa untuk menjadi insan yang kreatif dan kritis dalam menghadapi permasalahan dalam hidupnya. Dalam sudut pandang Paulo Freire, mereka seakan-akan dibelenggu dengan diberikan pendidikan yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar menjadi manusia yang terampil, tetapi patuh kepada status quo. Hal ini sebenarnya sejalan dengan teori Bowles dan Gintis soal sekolah sebagai pabrik pekerja semata siswa dilatih untuk menjadi patuh, tetapi tidak dengan pemikiran kritisnya. Siswa yang hanya dilatih hafalannya mungkin akan menjadi siswa yang pintar dan tahu akan banyak hal. Namun, saat dia sudah lulus sekolah dan tidak menggunakan materi pelajaran yang diingatnya itu, yang tersisa hanyalah budaya kepatuhan, tiada pemikiran kritis yang membekalinya jika semasa sekolah dia hanya sibuk menghafal.
Alternatif Gaya Pendidikan
Paulo Freire menawarkan gaya pendidikan alternatif di mana realitas kehidupan siswa dijadikan objek pembelajaran, sehingga siswa benar-benar mempelajari apa yang sebenarnya dekat dengan dirinya. Guru mengajarkan cara berpikir kritis yang selalu mempertanyakan hal di sekitar diri siswa, yang oleh Paulo Freire disebut conscientização. Secara tidak langsung, alternatif yang ditawarkan Paulo Freire juga sejalan dengan pemikiran John Dewey soal learning by doing, di mana siswa baru benar-benar "belajar" saat mereka mempraktikkan dan melakukan hal itu di dunia nyata.
"Pendidikan Seharusnya Membebaskan Manusia"
Pada akhirnya, tidak ingatnya kita pada materi pelajaran di sekolah selama 12 tahun bukan sekadar permasalahan malas atau tidaknya kita, melainkan jauh lebih besar dari itu, suatu sistem yang harus dibenahi dari akar-akarnya.
