Menyalakan Harapan dari Sampah di Kampung Nelayan Belawan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Program Ecoeducare dalam pemberdayaan masyarakat. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Program Ecoeducare dalam pemberdayaan masyarakat. Foto: Dok. Pribadi

Di bawah rumah-rumah panggung yang berdiri di atas perairan Belawan, sampah menumpuk hingga menyerupai daratan. Kondisi itu telah lama menjadi pemandangan biasa bagi warga.

Namun bagi Silvia Decmerry Natalia Gea (23), tumpukan sampah tersebut menyimpan dua persoalan sekaligus yakni lingkungan yang terancam dan potensi ekonomi yang belum tergarap.

Ia bersama timnya melakukan pemberdayaan masyarakat di Kampung Nelayan Seberang Berdaya, Belawan, Kota Medan, melalui program Ecoeducare yang berfokus pada pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.

Program tersebut berdiri pada 10 Februari 2024 dan merupakan hasil dari penelitian skripsinya. Program Ecoeducare dijalankan oleh tim yang beranggotakan 16 orang. Ratusan relawan telah bergabung dalam kegiatan ini.

Awalnya, kata Silvia, masyarakat di sana masih banyak yang belum mengetahui jenis-jenis sampah dan cara pengelolaannya. Karena itu, ia bersama timnya melakukan sosialisasi secara langsung di kampung terapung tersebut.

Silvia membentuk bank sampah di kampung terapung yang diberi nama Bank Sampah Horas Bah (Hayuk Olah Sampah Menjadi Berkah).

"Jadi geografisnya itu kampung terapung dan di bawahnya itu sudah penuh sampah, bahkan sudah seperti tanah bisa diinjak. Jadi, case-case-nya seperti itu dan kami menyelesaikan masalah itu. Karena berdampak pada lingkungan masyarakat yang menjadi kotor dan bau lalu menimbulkan bibit-bibit penyakit dan juga membuat masyarakat tidak nyaman," kata Silvia saat berbincang dengan kumparan, Sabtu (6/6).

Silvia Decmerry Natalia Gea, founder komunitas lingkungan di Medan. Foto: Dok. Pribadi

Tak hanya fokus pada pengelolaan sampah, masyarakat juga mendapatkan keterampilan baru untuk menghasilkan pendapatan dari sampah yang mereka kumpulkan.

"Kami ingin masyarakat itu tidak hanya dapat nilai lingkungan bersih, tapi nilai ekonomi juga. Jadi, perputaran ekonomi sirkular dengan benefit lainnya, masyarakat dapat skill baru. Mereka bisa mengolah sampah dan menghasilkan uang," ujar Silvia.

Produk yang berhasil dikembangkan bersama masyarakat berupa kerajinan tangan seperti keranjang dan celemek yang terbuat dari sampah plastik.

Program Ecoeducare dalam pemberdayaan masyarakat. Foto: Dok. Pribadi

Konsep Green Hotel

Selain sampah di Kampung Nelayan, Silvia juga ingin menampung sampah-sampah dari hotel di sekitar. Konsepnya sampah-sampah dari hotel yang terkumpul nantinya akan dijual ke bank sampah dan hasilnya digunakan kembali untuk menjalankan program pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, pengelolaan dan pemilahan sampah pada sektor industri, seperti hotel ini merupakan bagian dari upaya menuju konsep Green Hotel.

"Kami mau buat pilot project. Jadi hotel itu menuju Green Hotel, mereka harus punya pengelolaan sampah yang jelas dan output-nya juga. Jadi kami bakalan atur gimana pengelolaan sampahnya. Lalu sampahnya dijual ke bank sampah. Hasil dari itu, kami buat program lagi, program pemberdayaan masyarakat," ucap Silvia.

Program Ecoeducare dalam pemberdayaan masyarakat. Foto: Dok. Pribadi

Budidaya Magot dan Produksi Lilin

Tak hanya itu, Silvia juga mengembangkan budidaya maggot yang berfungsi mengurai sampah organik. Selanjutnya, maggot tersebut dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan beberapa jenis ikan.

Selain itu, Silvia juga membuat produk dari minyak jelantah atau minyak goreng bekas yang diolah menjadi lilin. Sebab, di kampung tersebut sering terjadi pemadaman listrik yang menyulitkan warga mendapatkan penerangan pada malam hari.

"Jadi, limbah minyak jelantah itu kami buat jadi lilin. Kebetulan case-nya lagi di kampung itu kalau misalnya mati lampu, lampu itu bisa padam berhari-hari. Nah, jadi kami pilah buat lilin itu. Selain menambah pengetahuan bisa nerangin mereka juga," imbuh Silvia.

Pelatihan budidaya Maggot sebagai alternatif pengurangan sampah. Lalu, Maggot akan dijadikan makanan unggas. Foto: Dok. Pribadi

Bukan hanya sampah dan minyak jelantah, Silvia bersama timnya juga menanam 38.000 bibit mangrove di Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Upaya tersebut dilakukan untuk melindungi kawasan pantai, mencegah abrasi, dan mengurangi emisi karbon sepanjang 2024 hingga 2025.

Perjalanan Silvia mungkin berawal dari sebuah penelitian skripsi. Namun kini, gagasan itu telah tumbuh menjadi gerakan yang melibatkan ratusan relawan dan memberi manfaat bagi masyarakat pesisir. Di tengah tumpukan sampah yang dulu dianggap masalah, Silvia dan timnya membuktikan bahwa perubahan bisa lahir dari kepedulian dan kemauan untuk turun langsung ke lapangan.