Konten dari Pengguna

Menyongsong Kemerdekaan: Patungan demi Pers Pribumi Pertama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathur Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IDok: AI
zoom-in-whitePerbesar
IDok: AI

Hampir tidak ada hal di dunia ini yang bisa berjalan tanpa uang. Tidak terkecuali pers. Untuk menerbitkan sebuah surat kabar, dibutuhkan biaya kertas, biaya tinta, biaya percetakan, biaya pengiriman, dan biaya untuk orang-orang yang menuliskan isinya. Sebelum satu kata pun sampai ke tangan pembaca, sudah ada sejumlah uang yang harus dikeluarkan. Ini berlaku hari ini, dan ini juga berlaku lebih dari seratus tahun yang lalu.

Realitas itu terasa lebih berat lagi jika yang ingin mendirikan pers adalah orang yang tidak punya modal besar. Di Hindia Belanda pada awal abad ke-20, kondisi itu persis yang dihadapi oleh kaum bumiputra, yaitu sebutan untuk penduduk asli Indonesia di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Surat kabar yang ada hampir semuanya dimiliki oleh orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Bahasa yang mereka gunakan, kepentingan yang mereka bela, dan pembaca yang mereka layani pun bukan bumiputra.

Lalu datanglah seseorang yang ingin mengubah itu semua. Namanya Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Dan ia membutuhkan uang untuk memulai.

Surat Kabar yang Berbeda dari Semua yang Ada

Tirto sendiri adalah sosok yang menarik. Ia adalah bekas mahasiswa sekolah dokter STOVIA yang tidak pernah menamatkan pendidikannya. Alih-alih menjadi dokter, ia memilih menjadi jurnalis dan organisator. Dengan Medan Prijaji, ia membangun sesuatu yang tidak ada sebelumnya: media yang secara sadar memihak bumiputra dan berani membayar harga untuk itu.

Pada 1 Januari 1907, Medan Prijaji terbit untuk pertama kalinya di Bandung. Nama itu berarti arena para priyayi, merujuk pada golongan bangsawan Jawa terdidik yang menjadi target pembaca utamanya. Tetapi isi surat kabar ini jauh dari sekadar berita untuk kalangan atas.

Tirto mengisi halaman-halamannya dengan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di pers vernakular Hindia Belanda: pembelaan terbuka terhadap nasib orang kecil, kritik terhadap pejabat yang korup, dan ajakan kepada bumiputra untuk mulai berpikir tentang nasib bersama mereka.

Tidak ada surat kabar lain yang berani melakukan itu, karena hampir semua surat kabar lain bergantung pada iklan pengusaha Eropa yang tidak mau kehilangan pelanggan akibat konten yang terlalu politis (Adam, 1995, hlm. 152).

Dari Mana Uangnya Berasal?

Inilah pertanyaan yang paling menarik sekaligus paling jarang dibahas. Medan Prijaji tidak lahir dari kantong seorang pengusaha kaya. Ia tidak didirikan oleh perusahaan besar yang punya kepentingan bisnis jangka panjang. Ia tidak dimodali oleh pemerintah kolonial yang ingin membeli kesetiaan pers bumiputra, seperti yang pernah terjadi pada beberapa surat kabar lain.

Tirto memulai Medan Prijaji dengan modal awal sebesar fl.3.500. Jumlah itu tidak kecil untuk ukuran saat itu, tetapi juga tidak besar jika dibandingkan dengan kebutuhan nyata yang harus dipenuhi. Biaya operasional surat kabar itu ternyata mencapai fl.7.500 setiap tahun, sehingga sejak hari pertama, Medan Prijaji sudah berjalan dengan kekurangan dana sekitar fl.4.000 per tahun (Adam, 1995, hlm. 149). Dengan kata lain, surat kabar ini lahir dalam kondisi defisit.

Yang luar biasa bukan soal berapa banyak uangnya, melainkan dari mana uang itu datang.

Modal pertama sebesar fl.1.000 datang dari Raden Mas Temenggoeng Pandji Arjodinoto, seorang Kepala Jaksa yang bertugas di Cirebon. Ia bukan investor yang menghitung untung rugi. Ia adalah seorang priyayi yang percaya bahwa bumiputra perlu memiliki suaranya sendiri, dan ia mau mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri untuk mewujudkan itu.

Ketika Tirto kemudian merencanakan terbitan kedua bernama Soeloeh Keadilan, kembali seorang priyayi senior yang turun tangan. Kali ini Raden Adipati Aria Prawiradiningrat yang memberikan fl.1.000 untuk membiayai dua terbitan sekaligus.

Tidak ada kontrak bisnis di sini. Tidak ada perjanjian bagi hasil yang mengikat. Tidak ada jaminan bahwa uang itu akan kembali. Yang ada hanyalah keyakinan bersama bahwa kaum bumiputra sudah terlalu lama tidak punya suara, dan sudah saatnya itu berubah.

Masuknya Pedagang Muslim sebagai Mitra

Solidaritas priyayi memang memberi Tirto modal awal untuk memulai, tetapi itu tidak cukup untuk menjaga Medan Prijaji tetap berjalan dalam jangka panjang. Tirto kemudian melangkah lebih jauh dengan mencari mitra dari kalangan yang berbeda.

Pada Agustus 1907, Haji Mohd. Arsad, seorang pedagang Muslim dari Batavia, bergabung sebagai mitra bisnis Tirto. Ini adalah perluasan basis pendukung yang penting: bukan hanya priyayi Jawa, tetapi juga pedagang Muslim yang memiliki jaringan dan sumber daya yang berbeda. Kolaborasi antara Tirto dan Arsad mencerminkan kesadaran bahwa untuk menghidupi pers bumiputra, dibutuhkan lebih dari satu kelompok pendukung.

Setahun kemudian, pada Desember 1908, Tirto mengambil langkah yang lebih formal. Ia mendirikan sebuah perusahaan terbatas dengan nama yang panjang: N.V. Javansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji.

Dalam bahasa sederhana, ini adalah perusahaan penerbitan dan percetakan resmi pertama yang didirikan oleh seorang bumiputra. Target modalnya ditetapkan sebesar fl.75.000, dibagi menjadi 3.000 lembar saham seharga fl.25 per lembar.

Sebagian saham perusahaan itu kemudian dijual kepada pihak luar, termasuk orang Tionghoa dan Eropa. Tirto sadar bahwa untuk bertahan, ia tidak bisa hanya mengandalkan solidaritas bumiputera. Ia perlu menarik modal dari mana saja yang bisa ia jangkau, selama kepentingan editorial surat kabarnya tidak ikut tergadai.

Patungan, Bukan Bisnis

Jika kita mundur dan melihat gambar besarnya, ada sesuatu yang sangat khas dari cara Medan Prijaji didirikan dan dipertahankan. Hampir tidak ada unsur bisnis dalam arti sebenarnya di balik berdirinya surat kabar ini. Tidak ada investor yang menghitung imbal hasil. Tidak ada analisis pasar yang mendahului pendirian. Tidak ada jaminan bahwa uang yang dikeluarkan akan kembali dalam bentuk keuntungan.

Yang ada adalah sesuatu yang jauh lebih tua dari semua itu, kepercayaan dan kerelaan berbagi di antara orang-orang yang merasa senasib. Pandji Arjodinoto menyumbang karena ia percaya bahwa bumiputra perlu bersuara. Pedagang Muslim seperti Haji Arsad ikut terlibat karena ia melihat bahwa perjuangan Tirto adalah perjuangan yang lebih besar dari sekadar urusan bisnis.

Ribuan pelanggan membayar uang langganan bukan hanya karena mereka butuh informasi, tetapi karena mereka merasa Medan Prijaji adalah milik mereka, bagian dari identitas yang sedang mereka bangun bersama.

Pers pertama milik bumiputera tidak lahir dari modal kapital. Ia lahir dari modal sosial yaitu jaringan kepercayaan, rasa solidaritas, dan keyakinan bersama bahwa sebuah bangsa yang tidak punya suara adalah bangsa yang tidak sepenuhnya ada. Tirto dan orang-orang di sekelilingnya tidak menunggu ada yang membiayai mereka. Mereka patungan, dengan apa yang mereka punya, untuk membeli suara bagi bangsanya sendiri.

Dan itulah mungkin pelajaran paling berharga dari kisah Medan Prijaji, bahwa di saat semua pintu modal tertutup, jalan lain masih terbuka, yaitu jalan yang dibangun dari kepercayaan satu sama lain.