Konten dari Pengguna

Mereka Katakan Kami Bodoh, Lalu Kami Terbang ke Korea

Rahmi Wati

Rahmi Wati

ASN Pemda Provinsi Bengkulu

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmi Wati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

International Hortikultura Korea (IHK) Tahun 2014. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
International Hortikultura Korea (IHK) Tahun 2014. Dok. Istimewa

Saya belajar tentang integritas tidak hanya melalui buku atau kegiatan seminar, atau dari suatu kasus pelanggaran hukum. Saya mempelajari dan memahaminya melalui pekerjaan yang dilakukan sepenuh hati. Pada awal tahun 2014, tim peneliti dari Korea dan LIPI datang untuk mengambil bunga Rafflesia arnoldii dari hutan Bengkulu. Kemudian, mereka melakukan kegiatan pengeringan bunga dan membawanya ke Korea. Kantor kami mendukung pelaksanaan proses pengambilan bunga Rafflesia arnoldii dari salah satu kabupaten di Bengkulu hingga proses pengeringan selesai. Saya bersama seorang rekan kerja (ASN) mendampingi dan mengikuti seluruh tahapan proses tersebut.

Terkadang kami membantu memegang hair dryer untuk mengeringkan bunga, pada waktu lain kami membelikan makan siang, atau pada kesempatan tertentu saya mengantar peneliti Korea ke hotel dengan sepeda motor. Rutinitas tersebut kami jalani hampir dua minggu dan aktivitas itu terlihat sepele serta buang-buang waktu oleh sebagian rekan kami karena tidak ada uang lembur. Ironisnya, beberapa rekan kerja saat itu malah mengejek kami. Mereka menganggap kami bodoh karena ingin membantu meski tidak ada bayaran atau imbalan.

Ucapan beberapa rekan itu sebenarnya sederhana, tetapi kemudian tertanam cukup lama di benak. Jika pekerjaan selalu dinilai dari hasil, mungkin benar kami tidak memperoleh apa-apa. Namun saat itu saya dan rekan saya memiliki alasan yang cukup sederhana, yakni kami hanya berusaha melaksanakan sebagian dari tugas kami untuk mendukung suatu kegiatan yang difasilitasi oleh pemerintah daerah. Saya merasa kami juga memiliki peluang untuk memperoleh pengetahuan yang mungkin tidak akan kami temui dalam rutinitas harian di kantor. Dan yang tidak kalah pentingnya, saat itu ada tamu dari negara lain yang mengunjungi daerah kami. Perlakuan kami terhadap tamu juga mencerminkan cara kami menjaga reputasi institusi dan daerah. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk memberikan bantuan tanpa perhitungan matematis terhadap semua pekerjaan tersebut. Semua kami lakukan apa adanya, selayaknya tuan rumah menyambut dan memperlakukan tamu serta selayaknya seorang ASN melaksanakan tugasnya di bidang penelitian.

Pada saat itu, saya belum menyadari bahwa pilihan sederhana tersebut sebenarnya sedang mengantarkan kami pada makna etika dan integritas sebagai ASN. Kita sering kali membicarakan etika dan integritas dengan menggunakan bahasa yang tinggi, misalnya menolak korupsi, tidak menyalahgunakan kekuasaan, mematuhi peraturan, dan sebagainya. Semua itu memang penting, tetapi dalam praktik birokrasi sehari-hari, integritas sering kali muncul dalam bentuk yang lebih sederhana dan hampir tak terlihat. Ia hadir ketika seseorang tetap menjalankan tugasnya dengan baik walaupun tidak ada yang mengawasi atau memperhatikan. Ia juga datang ketika seseorang melayani dengan baik meskipun tidak pernah menerima penghargaan atau pujian. Atau bisa jadi, itu terjadi saat seorang ASN bersedia memberi bantuan tanpa memikirkan keuntungan yang akan diperoleh. Bagi saya, etika bukan hanya sekadar mengetahui aturan tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang, tetapi juga berkaitan dengan sikap kita ketika tidak ada aturan yang secara khusus mengharuskan kita untuk peduli. Banyak hal yang secara administratif mungkin bukan fokus utama pekerjaan kita, namun dari segi kemanusiaan sangat pantas untuk kita dilakukan.

Hampir dua minggu telah berlalu, proses pengeringan bunga pun akhirnya rampung. Peneliti dari Korea kembali ke negaranya dengan membawa Rafflesia arnoldii yang sudah dikeringkan. Bunga tersebut akan menjadi salah satu gambaran wajah flora Indonesia dan menjadi salah satu flora utama yang akan ditampilkan dalam pameran internasional hortikultura di Korea. Kemudian, sekitar dua bulan setelah itu, sebuah berita tiba-tiba datang tanpa kami duga. Saya dan rekan ASN yang saat itu menemani proses pengeringan bunga Rafflesia arnoldii menerima undangan untuk mengikuti acara internasional hortikultura di Korea. Perjalanan itu sepenuhnya didanai oleh pemerintah Korea. Kami akan berangkat bersama tim dari Indonesia, yang terdiri dari peneliti LIPI dan perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Kepahiang sebagai lokasi pengambilan bunga Rafflesia arnoldii tersebut. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana perasaan saya ketika mengetahui kabar itu. Ada perasaan ragu, bahagia, namun juga ada perasaan haru yang susah diungkapkan. Bukan hanya karena saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya, tetapi juga karena teringat ucapan yang pernah disampaikan rekan kerja kepada kami: “Kalian bodoh mau repot-repot membantu, memangnya kalian dapat apa?”.

Rafflesia arnoldii dari hutan Bengkulu mewakili flora Indonesia yang ditampilkan pada International Hortikultura Korea Tahun 2014. Dok. Istimewa

Saya tidak ingin menganggap pengalaman itu hanya sebagai balasan atas kebaikan, karena bagi saya, apa yang terjadi akhirnya saya pahami sebagai pengingat diri sendiri bahwa setiap kebaikan pasti meninggalkan jejaknya masing-masing. Kita tidak pernah mengetahui siapa yang akan melihat hasil kerja kita, siapa yang akan mengingat pertolongan kita, atau ke mana akhir dari suatu pekerjaan kecil akan membawa nama kita serta institusi tempat kita bekerja.

Oleh karena itu, saya menjadikan semuanya sebagai pengingat diri dan berusaha mengajak semua ASN untuk menyadari bahwa mungkin saat ini masih banyak di antara kita yang merasa kerja kerasnya tidak diperhatikan, bantuan dan pengorbanannya tidak diakui, atau kebaikannya tidak dihargai. Percayalah bahwa hal-hal baik tidak akan pernah menjadi sia-sia. Mungkin hari ini kita tidak mendapatkan apa pun, tetapi tanpa kita ketahui dan sadari, mungkin ada seseorang yang sedang memperhatikan cara kita bekerja, melayani, atau memperlakukan orang lain. Kita tidak pernah mengetahui ke mana jejak kecil itu akan membawa kita. Seperti halnya kami yang sebelumnya hanya membantu memegang sebuah hair dryer untuk mengeringkan bunga Rafflesia arnoldii, kemudian dianggap “bodoh” oleh sebagian rekan kerja, lalu dua bulan setelah itu kami mendapatkan visa dan memegang paspor untuk terbang ke Korea. Demikianlah kira-kira kebaikan pernah bekerja dalam hidup saya, dan sungguh, kita tidak pernah tahu kapan dan bagaimana kebaikan itu bekerja dalam hidup kita.