Mesin yang Menjawab Tanpa Mengetahui (Onto-Espi-Aksio AI:Bagian II)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Esai kedua dari tiga serial: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi AI
Ada teka-teki tua di jantung fisika modern. Namanya masalah pengukuran kuantum. Sebelum diukur, sebuah partikel tidak berada di satu tempat. Ia berada dalam kabut kemungkinan, sedikit di sini, sedikit di sana, semuanya sekaligus. Begitu diukur, kabut itu runtuh. Partikel tiba-tiba "memilih" satu posisi. Para fisikawan menyebutnya kolaps fungsi gelombang. Hampir seratus tahun mereka berdebat, apa sebenarnya yang terjadi saat kolaps itu.
Wolfgang Smith menawarkan jawaban yang mengejutkan karena datang dari masa lampau. Dalam bukunya The Quantum Enigma, ia berkata bahwa Aristoteles dan Thomas Aquinas sudah menyediakan kuncinya tujuh abad lalu. Kuncinya adalah pasangan konsep potensi dan aktus. Kabut kuantum itu adalah potensi, kemungkinan murni yang belum menjadi apa-apa. Pengukuran adalah momen ketika potensi menjadi aktus, ketika yang mungkin menjadi yang nyata. Dunia fisikal yang digambarkan persamaan Schrödinger hanyalah gudang kemungkinan. Realitas aktual lahir ketika kemungkinan itu menyentuh dunia korporeal, dunia pengalaman.
Perhatikan konsekuensinya bagi teori pengetahuan. Dalam kerangka Smith, mengetahui adalah peristiwa aktualisasi. Ada yang diketahui, dan ada yang mengetahui. Pengetahuan tidak pernah mengambang sendirian. Ia selalu pengetahuan milik seseorang.
Sekarang mari kita uji AI dengan kerangka ini. Ketika Anda bertanya kepada ChatGPT dan ia menjawab dengan fasih, apakah ia mengetahui jawabannya?
Cara kerja model bahasa besar sebenarnya bisa dijelaskan dalam satu kalimat. Ia menebak kata berikutnya. Itu saja, diulang miliaran kali dengan matematika yang sangat rumit. Model dilatih dengan triliunan kata dari internet, lalu belajar pola statistik. Setelah kata "ibu kota Indonesia adalah", kata yang paling mungkin muncul adalah "Jakarta". Model tidak tahu apa itu Jakarta. Ia tidak pernah melihat kemacetannya, tidak pernah mencium aroma hujannya. Ia hanya tahu bahwa deretan huruf itu sering muncul setelah deretan huruf yang lain.
Inilah sebabnya AI berhalusinasi. Ia bisa mengarang judul buku yang tidak pernah ditulis, lengkap dengan nama penerbit dan tahun terbit. Bukan karena ia berbohong. Berbohong butuh niat, dan niat butuh kesadaran. AI berhalusinasi karena bagi dia, kalimat benar dan kalimat salah sama-sama hanya pola. Keduanya sama mulusnya di lidah statistik.
Dalam bahasa Smith, AI adalah potensi yang tidak pernah menjadi aktus pengetahuan. Ia gudang kemungkinan kalimat, kabut jawaban yang belum runtuh. Yang membuatnya runtuh menjadi pengetahuan sejati adalah Anda, pembacanya. Andalah yang memeriksa, memahami, meragukan, lalu meyakini. Momen "mengerti" terjadi di dalam diri Anda, bukan di dalam server.
Seyyed Hossein Nasr, filsuf kelahiran Teheran yang mengajar di George Washington University, memperdalam soal ini dari arah lain. Nasr mewarisi tradisi yang membedakan dua wajah akal. Yang pertama ratio, akal yang menghitung, menganalisis, menyusun argumen selangkah demi selangkah. Yang kedua intellectus, dalam khazanah Islam disebut 'aql atau bahkan qalb, mata batin yang menangkap kebenaran secara langsung. Ratio bergerak seperti orang berjalan. Intellectus melihat seperti orang memandang dari puncak gunung.
Sains modern, kata Nasr, hanya memelihara ratio dan menelantarkan intellectus. AI adalah puncak dari penelantaran itu. Ia ratio yang dimurnikan sepenuhnya dari intellectus. Ia bisa menyusun sepuluh ribu argumen tentang keadilan tanpa sekali pun merasakan getar ketika melihat ketidakadilan. Nasr menyebut hierarki pengetahuan, dari pengetahuan indrawi, pengetahuan rasional, hingga scientia sacra, pengetahuan tentang Yang Suci. AI berhenti di lantai dasar, bahkan sesungguhnya belum masuk gedung. Sebab pengetahuan indrawi pun butuh yang mengindra.
Apakah ini berarti AI tidak berguna bagi ilmu? Sama sekali tidak. Justru sebaliknya. Teleskop tidak melihat, tetapi ia memperluas penglihatan Galileo. Mikroskop tidak takjub, tetapi ia menghantar Leeuwenhoek pada ketakjuban. AI adalah teleskop untuk bahasa dan pengetahuan manusia. Ia bisa merangkum seribu makalah dalam semenit, menemukan pola yang luput dari mata kita, menerjemahkan gagasan lintas bahasa. Sebagai alat, ia luar biasa.
Bahayanya satu saja. Bahayanya adalah ketika kita menyerahkan momen aktualisasi itu kepada mesin. Ketika mahasiswa menyalin jawaban AI tanpa memahaminya, tidak ada pengetahuan yang lahir di mana pun. Server tidak mengerti, mahasiswa juga tidak. Kabut kemungkinan berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah runtuh menjadi kebenaran yang dihayati. Kita akan punya peradaban yang penuh jawaban tetapi kosong dari pemahaman.
Para epistemolog menyebut pengetahuan sebagai keyakinan benar yang terjustifikasi. Ketiga unsurnya butuh subjek. Yang meyakini, yang memeriksa kebenaran, yang menimbang justifikasi. Hilangkan subjeknya, maka yang tersisa hanya teks. Dan teks, sepandai apa pun tersusun, belum menjadi ilmu.
Maka nasihat epistemologis saya sederhana. Pakailah AI sebagaimana Anda memakai teleskop. Arahkan ia ke langit pengetahuan, biarkan ia memperbesar apa yang samar. Tetapi mata yang memandang haruslah tetap mata Anda. Keraguan haruslah keraguan Anda. Dan ketika pemahaman itu akhirnya datang, momen ketika kabut runtuh dan kebenaran berdiri terang di hadapan Anda, nikmatilah. Itu peristiwa yang tidak akan pernah terjadi di dalam mesin mana pun.
Para sufi menyebut ilmu sebagai cahaya. Cahaya butuh cermin yang hidup untuk memantul. AI menyimpan miliaran kata tentang cahaya. Tetapi hanya hati manusia yang bisa menyala.
Jadi? Gunakan AI untuk menambah pengenalan Anda pada diri Anda sendiri. Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Robbahu. Barangsiapa mengenal dirinya makai ia akan mengnali Tuhannya. Barangkali melalui AI , dengan penggunaan yang tepat dan bijak, akan menghantarkan Anda lebih cepat menuju makrifat. Dan melalui makrifat menuju kebahagiaan. Dan melalui bahagia, berbagi bahagia ke sesama.
Wa maa taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib
Terima kasih pada sahabat seperjalanan Kang Muhammad Bhagas, S. Ag atas masukan-masukan dan referensi tak ternilai yang menjadi inspirasi
.
