Konten dari Pengguna

Mewujudkan Mimpi Kota yang Terjangkau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jumansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi Sendiri (dilukis anak saya, Mafaza)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi Sendiri (dilukis anak saya, Mafaza)

Seorang politisi bekerja dengan menawarkan harapan, tetapi tidak semua harapan memiliki dasar yang kuat. Harapan menjadi kredibel bila ia diterjemahkan ke dalam program yang konkret, terukur, dan menjawab persoalan nyata. Zohran K. Mamdani memenangi pemilihan walikota New York dengan janji yang sederhana namun relevan: menghadirkan kembali New York sebagai kota yang terjangkau (affordable city) bagi warganya. Meski dikenal sebagai kota global dengan ekonomi terbesar di dunia, kehidupan sehari-hari warga New York—terutama kalangan menengah dan bawah—dipenuhi tekanan biaya hidup. Sewa apartemen mahal, harga makanan terus naik, dan transportasi publik tidak hanya mahal tetapi juga lambat. Sebuah ironi di tengah kemegahan Manhattan. Menurut Oxford Economics Global City Index (OEGCI) 2025, PDB New York pada 2024 mencapai 2,5 triliun dolar AS, dengan PDB per kapita 119.600 dolar AS. Angka-angka ini menggambarkan kekuatan ekonominya, tetapi sekaligus menyembunyikan masalah yang lebih mendalam: ketimpangan pendapatan yang ekstrem. Pada 2024, kelompok 3% berpenghasilan tertinggi mengalami kenaikan pendapatan 9%, sementara kelas menengah dan bawah nyaris tidak bergerak. Dalam lima tahun terakhir (2019–2024), kelas teratas menikmati kenaikan pendapatan 34,5%, meninggalkan kelompok lain jauh di belakang—ketimpangan yang diperburuk oleh pandemi Covid-19. Jika perekonomian kota ini diibaratkan kue, maka potongan terbesar dinikmati segelintir kelompok elite, sementara mayoritas warga berebut remah sisanya. Tidak mengherankan kualitas hidup New York hanya berada di peringkat 90 dalam indeks yang sama. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Banyak kota dengan ekonomi maju seperti Los Angeles, San Jose, Seattle, dan San Francisco juga tak menawarkan kualitas hidup terbaik. Sebaliknya, kota-kota seperti Grenoble, Canberra, Bern, Bergen, dan Basel—yang tidak menempati puncak ekonomi global—justru unggul dalam kualitas hidup karena ketimpangan yang rendah, ruang publik yang luas, serta kebijakan sosial yang lebih progresif. Masalah terbesar New York bukanlah ekonomi, tetapi bagaimana kota ini gagal menjadi ruang hidup yang inklusif. Kota seharusnya memungkinkan seluruh warga—tidak hanya kelompok berpendapatan tinggi—untuk hidup, bekerja, dan berkembang di dalamnya. Di sinilah Zohranomic menemukan relevansinya. Proyek politik Zohran Mamdani berfokus pada tujuan sederhana namun fundamental: menjaga daya beli warga dan menurunkan biaya hidup melalui kebijakan yang langsung menyasar kebutuhan dasar. Pertama, pendirian toko bahan makanan milik kota. Harga makanan di New York naik 56,2% selama 2012–2023. Kenaikan ini sangat membebani karena sekitar 70% pengeluaran warga terserap untuk makanan. Survei menunjukkan 85% warga merasa harga makanan naik lebih cepat daripada pendapatan mereka. Toko milik pemerintah kota (city-owned grocery stores) diharapkan dapat menstabilkan harga pangan, mengurangi peran perantara, dan melindungi warga dari fluktuasi harga yang tidak proporsional. Kedua, pembekuan sewa dan pembangunan perumahan terjangkau. Mayoritas warga New York hidup dari satu kontrak sewa ke kontrak sewa berikutnya. Kenaikan harga sewa yang agresif membuat hidup semakin sulit. Zohran mendorong program rent freeze untuk menahan laju kenaikan harga. Selain itu, pembangunan rumah terjangkau di atas lahan milik kota menjadi strategi jangka panjang agar warga kelas menengah dan bawah dapat bermimpi memiliki hunian permanen. Ketiga, transportasi gratis dan lebih cepat. Masalah transportasi New York adalah kombinasi dua hal: mahal dan lambat. Satu dari lima warga kesulitan membayar ongkos bus. Di sisi lain, keterlambatan transportasi publik membuat warga kehilangan banyak waktu produktif. Penyediaan bus gratis dan peningkatan kecepatan layanan menjadi langkah untuk mengurangi beban biaya, mempermudah mobilitas kerja, dan mengembalikan efisiensi bergerak di kota. Zohranomic berupaya menjembatani jurang besar antara ekonomi kota yang mengagumkan dan kenyataan hidup warganya yang berat. Tantangannya jelas: banyak kebijakan kunci—seperti kenaikan upah minimum—memerlukan persetujuan pemerintah negara bagian. Namun memulai dari kebijakan yang dapat dikendalikan pemerintah kota adalah langkah paling realistis. Pada akhirnya, sebuah kota disebut maju bukan hanya karena tingginya PDB atau banyaknya gedung pencakar langit, tetapi karena kemampuannya membuat kehidupan warganya layak dan terjangkau. Zohran Mamdani berupaya mengembalikan New York ke makna dasarnya sebagai ruang hidup bersama—bukan hanya ruang ekonomi bagi segelintir kelompok. Bagaimana dengan Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia?