Minat Baca Saja Tak Cukup, Indonesia Butuh Daya Baca
Tulisan dari Rudi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi di sebuah warung kopi, pemandangan seperti ini rasanya sudah biasa. Segelas kopi dan sepiring gorengan ada di atas meja, sementara ponsel menjadi benda yang paling sering disentuh. WhatsApp dibuka, pesan grup dibaca, media sosial digulir, judul berita dilihat, lalu jempol bergerak lagi mencari informasi berikutnya. Dalam beberapa menit, puluhan potongan informasi sudah melintas di depan mata. Kita sebenarnya sedang membaca, bahkan mungkin membaca jauh lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput: apakah semua yang kita baca benar-benar kita pahami? Sebab membaca banyak informasi belum tentu membuat seseorang memiliki pemahaman yang dalam. Bisa jadi kita hanya semakin terlatih berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya.
Dari kebiasaan sederhana di warung kopi itu, persoalan literasi sebenarnya bisa dilihat dengan cukup jelas. Kita tidak selalu kekurangan bacaan. Kita juga tidak selalu kekurangan minat. Yang mungkin semakin berkurang adalah kesanggupan untuk bertahan bersama sebuah bacaan. Berapa banyak orang yang bersedia membaca tulisan panjang sampai paragraf terakhir? Berapa banyak yang mau membuka dokumen puluhan halaman sebelum memberikan komentar? Berapa banyak yang membaca sebuah berita sampai selesai sebelum ikut menyebarkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kualitas membaca tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang memegang buku atau membuka artikel, tetapi juga oleh seberapa jauh ia mampu mengikuti sebuah gagasan sampai memahami konteksnya.
Di sinilah gagasan Anies Baswedan tentang “daya baca” menjadi relevan. Dalam sebuah percakapan yang diunggah melalui akun media sosialnya pada 23 September 2026, Anies membedakan antara minat baca dan daya baca. Menurutnya, minat baca memang bagus, tetapi yang lebih penting adalah daya baca. Seseorang bisa saja memiliki minat membaca pesan WhatsApp atau unggahan media sosial yang pendek. Namun, daya baca terlihat saat seseorang mampu bertahan membaca tulisan panjang, termasuk buku 300, 400, bahkan 700 halaman, hingga selesai. Gagasan ini sederhana, tetapi membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: jangan-jangan masalah literasi kita bukan hanya membuat orang mau membaca, melainkan membuat orang mampu bertahan membaca.
Minat dan daya memang dua hal yang berbeda. Minat membuat seseorang tertarik membuka sebuah buku. Daya membuatnya terus membuka halaman berikutnya. Minat membuat orang mencari informasi. Daya membuatnya mau memeriksa informasi itu sampai tuntas. Seseorang mungkin membaca puluhan judul berita setiap hari, tetapi belum tentu memahami satu persoalan secara utuh. Ia tahu apa yang sedang ramai dibicarakan, tetapi tidak tahu latar belakangnya. Ia tahu kesimpulan sebuah perdebatan, tetapi tidak tahu argumen yang melahirkannya. Dalam kondisi seperti ini, banyak membaca belum tentu sama dengan membaca secara mendalam.
Masalahnya, kehidupan digital memang membuat kita semakin terbiasa dengan informasi yang pendek. Bukan karena masyarakat tidak mampu membaca tulisan panjang, tetapi karena perhatian kita terus diperebutkan. Baru membaca satu berita, muncul notifikasi. Baru melihat satu video, muncul video berikutnya. Baru membuka satu unggahan, ada tautan lain yang lebih menarik. Jempol terus bergerak, sementara pikiran belum tentu sempat berhenti. Akhirnya kita terbiasa mendapatkan informasi dalam bentuk potongan-potongan kecil. Lama-kelamaan, membaca artikel beberapa halaman terasa berat, apalagi menyelesaikan buku ratusan halaman.
Padahal, banyak persoalan baru bisa dipahami setelah kita membaca lebih panjang. Kebijakan pemerintah tidak cukup dipahami hanya dari judulnya. Persoalan pendidikan tidak selesai hanya dengan membaca satu pernyataan. Masalah ekonomi tidak bisa disimpulkan hanya dari satu angka. Bahkan konflik di lingkungan sekitar pun sering memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat dalam satu unggahan media sosial. Membaca secara utuh memberi kesempatan kepada kita untuk memahami sebab, proses, konteks, dan akibat. Tanpa itu, kita mudah terjebak pada kesimpulan yang terlalu cepat.
Pemikiran Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow juga menarik untuk dikaitkan dengan persoalan ini. Kahneman membahas dua cara kerja pikiran: proses yang cepat dan otomatis serta proses yang membutuhkan perhatian lebih besar. Dalam kehidupan sehari-hari, berpikir cepat tentu berguna. Namun, persoalan yang kompleks membutuhkan waktu. Kita perlu membaca, membandingkan, menimbang, dan memeriksa. Karena itu, membaca secara mendalam sebenarnya bukan hanya latihan literasi, tetapi juga latihan untuk memberi kesempatan kepada pikiran bekerja lebih serius. Kita belajar bahwa tidak semua persoalan harus segera diberi kesimpulan.
Sayangnya, kebiasaan di media sosial sering mendorong kita melakukan sebaliknya. Judul dibaca, komentar langsung ditulis. Potongan video dilihat, pendapat langsung dibentuk. Satu kalimat muncul, kesimpulan segera dibuat. Padahal, sebuah pernyataan bisa memiliki makna berbeda saat dibaca bersama konteksnya. Sebuah angka bisa memiliki arti berbeda saat kita mengetahui periode dan sumber datanya. Sebuah video bisa memberikan gambaran berbeda saat bagian sebelum dan sesudahnya ikut dilihat. Di sinilah daya baca menjadi penting karena ia mengajarkan satu kebiasaan sederhana: jangan buru-buru menyimpulkan sebelum selesai membaca.
Karena itu, gerakan literasi seharusnya tidak berhenti pada kalimat “ayo membaca”. Kita memang perlu membuat masyarakat tertarik membaca, tetapi pekerjaan berikutnya adalah membangun kebiasaan membaca sampai memahami. Di sekolah, misalnya, anak-anak tidak cukup ditanya apa isi sebuah bacaan. Mereka perlu diajak memahami mengapa penulis memiliki pendapat tertentu, bukti apa yang digunakan, apakah ada sudut pandang lain, dan bagian mana yang masih bisa diperdebatkan. Dengan begitu, membaca bukan hanya latihan menemukan jawaban, tetapi latihan membangun cara berpikir.
Hal yang sama berlaku di rumah. Anak tidak otomatis memiliki daya baca hanya karena orang tua membeli banyak buku. Yang lebih penting adalah melihat contoh. Saat orang tua terbiasa membaca dan membicarakan apa yang dibaca, anak akan melihat bahwa buku bukan sekadar benda untuk memenuhi tugas sekolah. Membaca bisa menjadi bahan percakapan, bahan berpikir, bahkan bahan untuk memahami dunia. Dari kebiasaan sederhana itu, daya baca dapat tumbuh tanpa harus selalu diperintah.
Persoalan ini juga semakin penting karena kita sekarang hidup dalam banjir informasi. Dahulu orang mungkin kesulitan mencari informasi. Sekarang justru sebaliknya. Informasi datang dari mana-mana dan dalam jumlah yang sangat besar. Tantangannya adalah memilah: mana fakta, mana opini, mana interpretasi, mana informasi yang belum terverifikasi. Untuk melakukan itu, seseorang membutuhkan kesabaran membaca. Ia perlu melihat sumber, membaca konteks, dan membandingkan informasi. Daya baca tidak menjamin seseorang selalu benar, tetapi kebiasaan membaca secara mendalam memberi ruang lebih besar untuk memeriksa sebelum percaya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, persoalan ini menjadi semakin menarik. AI dapat membantu meringkas buku, laporan, artikel, dan dokumen panjang dalam hitungan detik. Itu tentu berguna. Tetapi kemudahan mendapatkan ringkasan tidak seharusnya membuat manusia kehilangan kemampuan membaca sumber asli. Sebab ringkasan selalu memilih bagian tertentu. Ada konteks yang mungkin tidak ikut terbawa. Ada detail yang dianggap kecil, tetapi justru penting untuk memahami keseluruhan persoalan. Karena itu, semakin pintar teknologi membuat ringkasan, semakin penting pula manusia memiliki kemampuan untuk membaca dan memeriksa sumbernya sendiri.
UNESCO memandang literasi dalam pengertian yang lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami, menafsirkan, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi. Dalam lingkungan digital, kemampuan mengevaluasi dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting. Artinya, masyarakat literat bukan sekadar masyarakat yang bisa membaca, tetapi masyarakat yang mampu memahami informasi dan menggunakannya secara tepat.
Namun, daya baca jangan pula dipahami sebagai perlombaan menghabiskan buku. Membaca 100 halaman dalam satu jam tidak otomatis lebih baik daripada membaca 100 halaman dalam dua hari. Bisa jadi orang yang membaca lebih lambat justru sedang berpikir lebih dalam, mencatat, mencari referensi, atau membaca ulang bagian yang belum dipahami. Daya baca bukan soal kecepatan, melainkan ketahanan. Bukan soal berapa banyak halaman yang selesai, melainkan seberapa jauh gagasan di dalam halaman tersebut masuk ke dalam pemahaman kita.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti membanggakan berapa banyak bacaan yang sudah lewat di depan mata, lalu mulai bertanya berapa banyak yang benar-benar tinggal di dalam kepala. Sebab di zaman banjir informasi, persoalannya bukan lagi siapa yang paling cepat membaca, melainkan siapa yang sanggup bertahan memahami. Kita bisa membaca ratusan judul dalam sehari, tetapi jika semuanya hanya lewat tanpa meninggalkan pemahaman, membaca akhirnya sekadar menjadi aktivitas menggeser layar.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tidak perlu menunggu program besar atau kampanye literasi yang megah. Mulailah dari kebiasaan sederhana di rumah. Sisihkan 20–30 menit setiap hari untuk membaca tanpa berpindah ke media sosial. Pilih satu artikel panjang, satu buku, atau satu laporan yang benar-benar ingin dipahami. Jangan berhenti pada judul. Selesaikan bacaannya. Setelah itu, coba jelaskan kembali dengan kalimat sendiri: apa persoalan utamanya, apa argumen penulis, bukti apa yang digunakan, dan bagian mana yang masih perlu diperiksa. Jika menemukan informasi yang hendak dibagikan ke grup WhatsApp, tahan sebentar. Buka sumber aslinya, baca konteksnya, lalu bandingkan dengan sumber lain sebelum menekan tombol kirim.
Kebiasaan kecil itu bisa dimulai siapa saja. Orang tua bisa melakukannya bersama anak. Guru bisa memberi waktu membaca tanpa membebani siswa sekadar mengejar jawaban. Komunitas bisa membuat satu jam membaca bersama. Bahkan di warung kopi, obrolan tidak harus selalu berakhir pada siapa yang paling keras berpendapat; sesekali bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana: “Sudah dibaca sampai selesai belum?”
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya membutuhkan masyarakat yang gemar membaca. Indonesia membutuhkan masyarakat yang kuat membaca—mampu bertahan menghadapi tulisan panjang, bersedia menelusuri konteks, tidak alergi terhadap gagasan yang berbeda, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.
Mari mulai dari satu kebiasaan: baca sampai selesai sebelum percaya, pahami sebelum berkomentar, dan periksa sebelum membagikan. Jika kebiasaan kecil itu dilakukan terus-menerus, minat baca tidak berhenti sebagai angka atau slogan. Ia tumbuh menjadi daya baca, lalu berkembang menjadi daya pikir.
Sebab di tengah dunia yang berlomba membuat informasi semakin pendek, kemampuan membaca sampai tuntas adalah bentuk keberanian. Orang yang hanya membaca apa yang ingin ia dengar akan mudah diyakinkan. Tetapi orang yang mau membaca lebih jauh memiliki kesempatan untuk memahami. Dan masyarakat yang terbiasa memahami tidak akan mudah menyerahkan pikirannya kepada judul, potongan video, atau kesimpulan yang datang terlalu cepat.

