Konten dari Pengguna

Miskin Sejak Remaja? Kenali Bahaya Flexing Pakai Uang Utangan

Mellinda Sapta Permata Sidabutar

Mellinda Sapta Permata Sidabutar

Pelajar SMA Ciputra kasih Surabaya

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mellinda Sapta Permata Sidabutar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pexels.com

Pada era digital saat ini, gaya hidup konsumtif (boros) semakin mudah mempengaruhi remaja. Media sosial, tren, dan layanan seperti pay later membuat para remaja melakukan tindakan impulsif dan lebih mudah membeli barang yang aslinya bukan kebutuhan mereka. Nah, keinginan agar bisa mengikuti gaya hidup orang lain kadang bisa membuat remaja lebih mementingkan kepuasan sesaat daripada mementingkan kondisi keuangan mereka. Jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut bisa menumbuhkan masalah keuangan di masa depan kita.

Media sosial sekarang menjadi faktor yang bisa mendorong perilaku konsumtif. Saat melihat orang lain membeli barang bermerek, berlibur, atau menonton konser di sosial media atau lainnya bisa menimbulkan rasa takut tertinggal atau sekarang dikenal dengan sebutan FOMO (Fear of Missing Out). Berdasarkan Financial Fitness Index 2024, 4 dari 10 kaum muda urban terbiasa menabung untuk membeli barang bermerek, berlibur, dan menonton konser. Jadi banyak remaja saat ini menabung untuk memuaskan keinginan sesaat dibanding dengan menabung demi masa depan mereka.

Hal tersebut diperparah dengan adanya kemudahan paylater yang memudahkan pembelian, tetapi menjadi masalah jika digunakan tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar. Batas penggunaan paylater seharusnya perlu diperketat sehingga masyarakat tidak terjebak dalam utang yang melebihi kemampuan mereka untuk membayar. Survei OJK tahun 2025 menunjukkan bahwa 60% Gen Z dan 50% milenial memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Hal tersebut menunjukkan masih adanya kesulitan dalam mengatur keuangan.

Dari tersebut bisa dilihat adanya literasi keuangan yang rendah dan tentu akan menjadi masalah. Berdasarkan SNLIK OJK 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat usia 15–17 tahun hanya 43%, sedangkan inklusi keuangannya mencapai 69%. Artinya, akses terhadap layanan keuangan lebih tinggi dibanding akses pemahamannya. Karena dari itu, remaja yang belum benar benar memahami cara mengelola keuangan bisa menggunakan pay later secara berlebihan dan akhirnya terlilit utang.

Dengan demikian, gaya hidup konsumtif pada remaja dipengaruhi oleh media sosial, FOMO, kemudahan pay later, rendahnya literasi keuangan dan juga tekanan masyarakat. Remaja perlu belajar untuk membedakan kebutuhan dan keinginan serta mengatur pengeluaran dengan bijak. Seorang remaja sebaiknya nggak terus-terusan ikut FOMO dan terlalu mementingkan gengsi. Dengan tidak mudah mengikuti tren atau pergaulan yang buruk, kondisi keuangan terutama untuk remaja dapat lebih terjaga dan masa depan mereka menjadi lebih aman.