Monako dan Prancis Buru Pelaku Bom yang Lukai Oligarki Ukraina

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Garis polisi terpasang di dekat area ledakan yang terjadi di sebuah gedung apartemen di Monaco, dekat perbatasan dengan Prancis pada 29 Juni 2026. Foto: Valery Hache/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Garis polisi terpasang di dekat area ledakan yang terjadi di sebuah gedung apartemen di Monaco, dekat perbatasan dengan Prancis pada 29 Juni 2026. Foto: Valery Hache/AFP

Kepolisian Monako dan Prancis memulai pencarian pelaku bom paket yang melukai tiga orang pada Selasa (30/6). Salah satu korban luka merupakan oligarki Ukraina.

Menteri Negara Monako, Christophe Mirmand, mengatakan dua dari tiga korban luka berada dalam kondisi kritis. Sementara itu, kondisi oligarki Ukraina, Vadym Yermolaiev, yang juga menjadi korban masih belum diketahui secara pasti.

Yermolaiev merupakan pengembang real estate di Dnipro, Ukraina. Ia dijatuhi sanksi oleh Pemerintah Ukraina karena memiliki bisnis minuman beralkohol di Crimea, wilayah yang saat ini dikuasai Rusia.

Petugas polisi Monaco berpatroli di dekat lokasi ledakan di sebuah gedung apartemen di Monaco, dekat perbatasan Prancis, pada 29 Juni 2026. Foto: Valery Hache/AFP

Untuk membantu penyelidikan, Kepolisian Prancis telah bergabung dengan aparat keamanan Monako guna memburu pelaku.

"Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi di Kerajaan Monako sebelumnya," ujar Mirmand saat mengumumkan dimulainya pencarian pelaku, seperti dikutip Reuters.

Insiden pengeboman terjadi di kawasan pusat Monako. Negara kecil itu dikenal sebagai surga pajak sekaligus tempat tinggal banyak miliarder, termasuk Yermolaiev.

Surat kabar Prancis, Le Figaro*, melaporkan rekaman CCTV memperlihatkan seorang pria meletakkan sebuah tas yang diduga berisi bom di depan sebuah rumah sebelum ledakan terjadi.

Insiden tersebut menjadi perhatian khusus penguasa Monako, Albert II. Ia menyebut aksi teror itu sebagai tindakan yang keji.