Konten dari Pengguna

MPLS: Saatnya Sekolah Mengenal Murid

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rahmat Santana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah bersiap melaksanakan MPLS, mengenali muridnya (foto pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sekolah bersiap melaksanakan MPLS, mengenali muridnya (foto pribadi)

Setiap awal tahun ajaran, jutaan peserta didik memasuki gerbang sekolah baru. Mereka diperkenalkan pada ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, tata tertib, budaya sekolah, hingga para guru yang akan mendampingi mereka. Semua itu dirangkum dalam satu agenda yang telah lama menjadi tradisi pendidikan Indonesia: Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Namun, di tengah semangat transformasi pendidikan yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran, muncul satu pertanyaan yang layak diajukan: mengapa pada hari-hari pertama sekolah kita lebih sibuk mengenalkan sekolah kepada murid daripada mengenalkan murid kepada sekolah?

Pertanyaan ini bukan sekadar permainan kata. Ia menyentuh paradigma dasar pendidikan.

Selama bertahun-tahun, MPLS dibangun di atas asumsi bahwa peserta didik adalah pihak yang harus beradaptasi. Mereka perlu mengenal lingkungan baru agar mampu menyesuaikan diri dengan sistem yang telah tersedia. Cara pandang ini dapat dipahami karena sekolah memang memiliki budaya, aturan, dan tata kehidupan yang perlu diketahui oleh setiap warga baru.

Namun, pendidikan abad ke-21 bergerak ke arah yang berbeda. Berbagai kebijakan pendidikan, termasuk pembelajaran yang berpusat pada murid, pembelajaran mendalam (deep learning), hingga penguatan pendidikan inklusif, menegaskan bahwa sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi tempat murid beradaptasi. Sekolah juga harus mampu beradaptasi dengan keberagaman murid yang datang kepadanya.

Artinya, proses adaptasi seharusnya berlangsung dua arah.

Murid mengenal sekolah.

Sekolah pun mengenal murid.

Sayangnya, dalam praktiknya, orientasi kedua sering kali belum memperoleh perhatian yang sama. Sebagian besar energi MPLS masih terserap pada penyampaian informasi administratif: tata tertib, struktur organisasi, jadwal kegiatan, fasilitas sekolah, hingga berbagai ketentuan yang harus dipatuhi peserta didik. Sementara itu, kesempatan bagi guru untuk memahami siapa anak-anak yang akan mereka dampingi selama satu tahun ke depan sering kali berlangsung sekilas, bahkan nyaris terlewat.

Padahal, lima hari pertama sekolah merupakan momentum yang tidak akan terulang. Pada fase inilah seorang anak datang dengan rasa ingin tahu, harapan, sekaligus kecemasan. Di saat yang sama, sekolah memiliki peluang terbaik untuk membaca potensi, mengenali karakter, memahami kondisi sosial-emosional, mengidentifikasi gaya belajar, serta menemukan kebutuhan dukungan setiap peserta didik.

Informasi tersebut bukan sekadar pelengkap administrasi. Ia merupakan fondasi bagi seluruh proses pembelajaran.

Guru yang mengenal muridnya akan lebih mudah memilih strategi belajar yang tepat. Kepala sekolah dapat merancang program yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik. Orang tua memperoleh gambaran awal mengenai cara terbaik mendampingi anak di rumah. Bahkan layanan bimbingan dan konseling dapat bergerak lebih dini sebelum persoalan berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.

Ironisnya, hasil utama MPLS di banyak sekolah masih berupa laporan kegiatan, dokumentasi foto, atau daftar hadir. Setelah kegiatan selesai, pembelajaran kembali berjalan secara seragam tanpa memanfaatkan informasi awal tentang murid. Kesempatan emas untuk membangun pembelajaran yang benar-benar berpusat pada murid pun perlahan menguap.

Karena itu, sudah saatnya kita menggeser orientasi MPLS. Bukan dengan mengganti namanya, melainkan dengan mengubah maknanya.

Ukuran keberhasilan MPLS tidak lagi cukup dinilai dari seberapa lengkap peserta didik mengenal sekolahnya. Keberhasilan sejatinya terletak pada sejauh mana sekolah berhasil mengenal setiap murid yang dipercayakan kepadanya.

Konsekuensinya, keluaran utama MPLS semestinya bukan hanya dokumentasi kegiatan, melainkan Profil Awal Murid

. Profil ini memuat informasi mengenai minat, potensi, kebiasaan belajar, kondisi sosial-emosional, kekuatan, tantangan, hingga kebutuhan dukungan setiap peserta didik. Dokumen tersebut kemudian menjadi pijakan bagi guru dalam merancang pembelajaran, bagi kepala sekolah dalam menyusun program, dan bagi orang tua dalam membangun sinergi pendidikan di rumah.

Dengan demikian, MPLS tidak berhenti sebagai seremoni penyambutan. Ia menjadi titik awal pembelajaran yang personal, adaptif, dan bermakna.

Perubahan ini sesungguhnya tidak memerlukan anggaran besar maupun regulasi baru. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengubah cara pandang. Dari sekolah yang menunggu murid menyesuaikan diri menjadi sekolah yang terlebih dahulu berusaha memahami setiap murid.

Kualitas sebuah sekolah tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, ketegasan aturan, atau banyaknya prestasi. Kualitas sekolah juga ditentukan oleh kemampuannya melihat setiap anak sebagai pribadi yang unik, bukan sekadar bagian dari satu angkatan.

Barangkali, inilah makna terdalam pendidikan yang berpusat pada murid. Hari pertama sekolah bukan sekadar saat seorang anak mengenal lingkungan barunya, melainkan saat sekolah mulai mengenal manusia yang akan dibimbingnya untuk bertumbuh.

Sebab, setiap anak datang ke sekolah dengan cerita, potensi, dan harapan yang berbeda. Tugas pendidikan bukan hanya menyambut kedatangannya, tetapi juga memastikan bahwa sejak hari pertama ia merasa dilihat, dipahami, dan diberi ruang untuk tumbuh menjadi dirinya yang terbaik.