Murid Ogah Jadi Guru, Sekolah Sulit Cari Pendidik: Kita Darurat Keteladanan?

S2 Magister Pendidikan Matematika-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Pendidik di Perkumpulan Strada
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari yulius wahyu putranto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan: Antara Peminat dan Realitas Lapangan
Setiap tahun, ribuan mahasiswa lulus dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan di berbagai universitas di Indonesia. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa jumlah peminat jurusan kependidikan masih tergolong tinggi. Ujian masuk perguruan tinggi negeri pun mencatat bahwa program studi Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar selalu masuk dalam daftar favorit.
Namun, di balik antusiasme calon mahasiswa tersebut, terdapat realitas yang kontras: sekolah-sekolah di Indonesia kesulitan menemukan guru yang benar-benar berdedikasi dan mau mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Fenomena ini bukan sekadar isu, melainkan alarm yang menandakan adanya kesenjangan antara motivasi awal memasuki dunia keguruan dengan kenyataan yang dihadapi di lapangan.
Dari Mulut Murid: Mimpi yang Bergeser
Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri berdialog dengan sekelompok murid SMA di salah satu kota besar. Pertanyaan sederhana saya ajukan: "Siapa di antara kalian yang bercita-cita menjadi guru?" Hening. Saling pandang. Gelengan kepala. Tidak satu pun dari mereka mengangkat tangan.
Alasan yang mereka kemukakan beragam, tetapi memiliki benang merah yang sama: penghasilan kecil, pekerjaan yang merepotkan, dan minimnya apresiasi sosial. Seorang murid dengan jujur berkata, "Bu, jadi guru itu mulia, tapi masa depan saya tidak bisa hanya mengandalkan kemuliaan. Saya ingin penghasilan besar, bisa membahagiakan orang tua, dan memiliki kehidupan yang layak."
Pandangan ini bukanlah anomali. Survei yang dilakukan oleh lembaga riset pendidikan pada 2025 mengungkapkan bahwa hanya 12 persen dari siswa SMA di Indonesia yang tertarik berkarir sebagai guru. Sisanya lebih memilih profesi di bidang teknologi, kesehatan, bisnis, dan hukum. Ini adalah potret pergeseran mimpi generasi muda yang patut direnungkan.
Guru: Profesi dengan Segudang Peran
Mengapa profesi guru dianggap merepotkan oleh kalangan remaja? Jawabannya sederhana: menjadi guru tidak pernah hanya tentang mengajar. Seorang pendidik di sekolah modern harus merangkap berbagai peran yang jauh melampaui papan tulis dan spidol.
Guru adalah perawat, yang setiap hari merawat luka fisik maupun psikis murid-muridnya—mulai dari anak yang jatuh di lapangan hingga mereka yang mengalami kecemasan menghadapi ujian. Guru adalah detektif, yang harus peka terhadap perubahan perilaku murid, mendeteksi tanda-tanda perundungan, atau mengungkap penyebab menurunnya prestasi belajar. Guru adalah akuntan, yang dituntut mengelola administrasi kelas, nilai, rapor, dan berbagai dokumen pendidikan dengan presisi. Guru adalah psikolog, yang harus memahami dinamika jiwa anak didik, mendampingi mereka melewati masa remaja yang penuh gejolak, dan menjadi tempat curhat yang aman. Guru adalah orang tua kedua, yang memberi teladan, nasihat, dan kasih sayang.
Belum lagi tuntutan tambahan di era digital: guru harus menjadi kreator konten, desainer pembelajaran, dan fasilitator teknologi. Di sisi lain, mereka juga dituntut menjadi peneliti yang terus memperbaiki praktik mengajar melalui refleksi dan inovasi.
Tidak heran jika beban ini membuat banyak guru mengalami kelelahan emosional atau burnout. Sebuah studi dari Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa 67 persen guru di perkotaan merasakan stres berat akibat beban kerja yang multitasking. Jika profesinya saja sudah demikian kompleks, bagaimana mungkin generasi muda masih tertarik?
Kompetensi Minimal di Segala Aspek
Tantangan lain yang membuat profesi guru kian berat adalah tuntutan kompetensi yang serba minimal di segala aspek. Seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Ia juga harus:
1. Kompetensi pedagogik: mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran yang efektif serta menyenangkan.
2. Kompetensi kepribadian: memiliki integritas, kedewasaan emosional, dan menjadi teladan bagi siswa.
3. Kompetensi sosial: mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan siswa, orang tua, rekan sejawat, dan masyarakat.
4. Kompetensi profesional: menguasai bidang ilmu yang diajarkan secara mendalam dan terus memperbaharui pengetahuannya.
Di atas itu semua, guru juga dituntut memiliki literasi digital, kecakapan manajemen kelas, kemampuan konseling, serta kepekaan budaya dan inklusivitas. Dalam praktiknya, tidak semua lulusan kependidikan siap menghadapi tuntutan ini. Banyak yang akhirnya terjun ke profesi lain setelah merasakan betapa beratnya medan juang di sekolah.
Lantas, Masih Adakah yang Mau?
Pertanyaan besar tetap menggantung: masih adakah yang mau menjadi guru di tengah semua tantangan ini? Jawabannya: masih ada, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan.
Mereka yang bertahan dan memilih menjadi guru saat ini adalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki panggilan jiwa. Mereka tidak datang ke sekolah karena uang, tetapi karena keyakinan bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah investasi terbesar bagi masa depan. Mereka adalah guru-guru yang rela merogoh kocek sendiri untuk alat peraga, yang begadang memperbaiki RPP, dan yang tetap tersenyum meski gaji tak sebanding dengan pengorbanan.
Namun, mengandalkan "panggilan jiwa" semata bukanlah solusi berkelanjutan. Negara dan masyarakat harus bergerak bersama untuk mengembalikan marwah profesi guru. Beberapa langkah yang perlu diambil:
Pertama, peningkatan kesejahteraan guru secara signifikan, tidak hanya melalui sertifikasi tetapi juga insentif kinerja dan tunjangan daerah yang adil.
Kedua, pengurangan beban administratif yang tidak esensial agar guru bisa fokus pada tugas utamanya: mendidik dan menginspirasi.
Ketiga, penguatan program pendidikan profesi guru (PPG) yang tidak hanya mengukur kompetensi teknis tetapi juga ketahanan mental dan kecintaan pada dunia anak.
Keempat, kampanye nasional untuk mengembalikan citra guru sebagai profesi yang terhormat dan menjanjikan, bukan sekadar "pekerjaan sampingan" atau "pilihan terakhir".
Penutup: Sekolah Butuh Guru, Bukan Sekadar Pengajar
Kita tidak bisa terus-menerus berharap pada semangat pengabdian tanpa memberikan dukungan nyata. Sekolah butuh guru yang tidak sekadar mengajar, tetapi hadir dengan segenap hati. Guru yang mampu menjadi perawat, detektif, psikolog, dan orang tua bagi murid-muridnya. Guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan mimpi-mimpinya sendiri demi masa depan generasi.
Namun, mimpi itu harus dijaga bersama. Jika kita ingin anak-anak kita kelak memiliki guru-guru berkualitas, maka kita harus memastikan bahwa profesi ini layak, dihormati, dan dicintai. Jangan biarkan pertanyaan "Masih adakah yang mau menjadi guru?" terus bergema tanpa jawaban. Karena jawabannya bukan hanya terletak pada diri calon guru, tetapi pada diri kita semua sebagai bangsa.
