Musuh Berjaya, Ego Terluka: Wajah Asli Sebuah Kebencian

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini patut jadi renungan. Bahwa keberhasilan seseorang pada dasarnya patut diapresiasi. Tapi situasinya jadi berbeda ketika yang berhasil adalah pihak yang selama ini dianggap sebagai musuh atau lawan. Secara naluriah, manusia cenderung memiliki rasa tidak suka ketika orang yang berseberangan dengannya justru mencapai kemenangan. Karena itu, ungkapan “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil” sesungguhnya menggambarkan realitas psikologis yang sangat manusiawi. Sulit meminta seseorang bersorak ketika keberhasilan lawannya justru dipandang sebagai kekalahan bagi dirinya sendiri. Memang nyata, mana ada orang suka ketika musuhnya berhasil?
Entah apa alasannya tidak suka? Tapi dalam sebuah persaingan, keberhasilan pihak musuh sering kali dipersepsikan sebagai ancaman. Ketika seseorang telah menghabiskan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk mengalahkan lawannya, kemenangan sang lawan tentu dapat menimbulkan rasa kecewa, iri, atau frustrasi. Hal tersebut bukan berarti setiap orang memiliki niat buruk, melainkan merupakan konsekuensi dari adanya kepentingan yang saling berhadapan. Dalam dunia bisnis, politik, olahraga, pergaulan maupun kehidupan sehari-hari, persaingan memang membuat keberhasilan satu pihak terkadang terasa seperti kerugian bagi pihak lainnya. Ibaratnya, ketika musuh berjaya maka ego terluka.
Tidak menyukai keberhasilan musuh tidak selalu berarti seseorang harus merayakan kegagalannya. Ada perbedaan antara mengakui bahwa kemenangan lawan terasa menyakitkan dan berharap lawan tersebut hancur. Sikap yang lebih dewasa adalah menerima kenyataan bahwa persaingan merupakan bagian dari kehidupan, sembari tetap menghormati kemampuan pihak yang berhasil. Bahkan, keberhasilan seorang lawan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kelemahan dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan berikutnya.
Jadi, “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil” bukanlah pembenaran untuk bersikap buruk terhadap lawan. Melainkan gambaran tentang bagaimana emosi dan ego manusia bekerja dalam situasi persaingan. Wajar jika seseorang merasa kecewa ketika pihak yang berseberangan dengannya menang. Yang membedakan adalah bagaimana perasaan tersebut dikelola. Kekalahan lawan mungkin terasa menyenangkan, tetapi kemampuan untuk tetap sportif ketika lawan berhasil justru menunjukkan kedewasaan dan kualitas seseorang dalam menghadapi persaingan.
Ketahuilah, bersaing atau kompetisi itu bagus. Tapi landasannya harus sikap sportif dan objektif. Yang susah itu bia bersaing tapi dasarnya kebencian atau iri hari. Maka sudah pasti terjadi, “mana ada orang suka bila musuhnya berhasil?”. Dan akhirnya jadi sakit. Jadilah literat!
