Musuh Terbesar Bukan Kegagalan, Melainkan Ketakutan untuk Memulai

Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syahra Salwanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kalau nanti gagal gimana?” Pertanyaan itu mungkin pernah muncul di kepala hampir semua orang. Anehnya, sering kali pertanyaan itu datang bahkan sebelum kita benar-benar mencoba. Akhirnya, niat untuk ikut lomba dibatalkan, ide bisnis hanya disimpan di catatan, atau lamaran kerja tidak pernah dikirim karena merasa belum cukup pintar. Padahal, belum tentu hasilnya seburuk yang kita bayangkan.
Di tengah maraknya media sosial, rasa takut gagal juga terasa semakin besar. Setiap hari kita melihat orang lain diterima di perusahaan impian, lulus dengan predikat terbaik, membangun bisnis yang sukses, atau menghasilkan jutaan rupiah dari konten. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan langkah pertama kita dengan pencapaian orang lain yang mungkin sudah melalui proses bertahun-tahun.
Perbandingan itu membuat kita seolah harus langsung berhasil. Kalau merasa belum cukup bagus, kita memilih mundur sebelum benar-benar mencoba. Padahal, hampir semua orang juga pernah berada di tahap ketika mereka belum tahu harus mulai dari mana. Di balik setiap pencapaian, ada proses yang tidak terlihat, termasuk kegagalan yang jarang dibagikan di media sosial.
Yang jadi masalah, kita sering hidup di lingkungan yang lebih suka merayakan hasil daripada menghargai proses. Orang lebih mudah mengucapkan selamat ketika seseorang berhasil daripada memberi semangat saat seseorang sedang berjuang. Akibatnya, banyak orang menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan. Padahal, gagal bukan berarti tidak mampu. Gagal bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dipelajari dan diperbaiki.
Sayangnya, rasa takut justru bisa menjadi penyebab kegagalan yang sebenarnya. Bukan karena kita tidak berbakat, melainkan karena kita memilih berhenti sebelum memulai. Kesempatan yang seharusnya bisa dicoba akhirnya lewat begitu saja karena kita terlalu sibuk memikirkan kemungkinan terburuk.
Rasa takut itu wajar. Tidak ada orang yang benar-benar siap menghadapi kegagalan. Namun, jangan sampai rasa takut mengambil keputusan untuk kita. Sebab, selama kita tidak pernah mencoba, kita juga tidak akan pernah tahu seberapa jauh kemampuan yang sebenarnya kita miliki.
Tidak semua usaha akan berakhir dengan keberhasilan. Akan ada penolakan, kesalahan, bahkan kegagalan. Namun, semua itu masih lebih baik daripada hidup dengan pertanyaan, “Bagaimana kalau waktu itu aku berani mencoba?” Karena sering kali, penyesalan bukan datang dari kegagalan, melainkan dari kesempatan yang sengaja kita lewatkan karena terlalu takut untuk memulai.
