Konten dari Pengguna

Napas Baru untuk Tanah Kering, Cerita Biopori di Dusun Tunjang Timur

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bunga Faizati Hudianna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses pemasangan lubang resapan air biopori di rumah Bapak Sukron (Ketua RT 1, Dusun Tunjang Timur, Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah). Dok. Sopoq Angen Pagutan.
zoom-in-whitePerbesar
Proses pemasangan lubang resapan air biopori di rumah Bapak Sukron (Ketua RT 1, Dusun Tunjang Timur, Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah). Dok. Sopoq Angen Pagutan.

Musim kemarau sedang berada di puncaknya, di kawasan Lombok Tengah. Di Dusun Tunjang Timur, Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, tanah pekarangan rumah warga tampak mereka, retak-retak kecil membentang seperti garis-garis telapak tangan yang kehausan. Debu tipis membubung setiap kali langkah kaki melintas. Di tengah tanah yang mengering keras itu, kami—tim mahasiswa KKN bersama para ketua RT setempat memutar otak, bagaimana caranya menyapa bumi Batukliang yang sedang dahaga ini tanpa perlu teknologi serba mahal?

Jawabannya tersembunyi di balik pipa PVC dan tumpukan sampah dapur. Kami merencanakan pemasangan lubang resapan air biopori yang tersebar di rumah tiga ketua RT di Dusun Tunjang Timur, menjadikannya percontohan awal bagi warga sekitar.

Namun, menembus tanah yang mengeras di musim kemarau bukan urusan gampang. Tantangan pertama justru datang dari alat. Lubang-lubang kecil pada pipa PVC harus dibuat rapat agar air lancar meresap tanpa membawa kotoran besar. Tanpa mesin bor listrik khusus, kami memanfaatkan apa yang ada di pekarangan.

Di halaman rumah warga yang sore itu sedang menggoreng kerupuk dengan tungku kayu bakar, kami menumpangkan sebatang besi panjang ke bara api. Begitu besi membara merah, kami menempelkannya ke permukaan pipa PVC. Asap putih mengepul diiringi aroma plastik meleleh tipis, meninggalkan lubang-lubang rapi di sepanjang pipa. Sebuah gambaran bahwa kehangatan bisa lahir hanya dari dapur masyarakat.

Tidak hanya sampai situ, ketika ujung linggis ditancapkan ke bumi Tunjang Timur ini, tanah perlahan terlubangi menantikan kejutan di balik kedalaman. Titik tanah yang kami gali ternyata menyimpan rahasia lama warga desa. Dari balik lapisan tanah kering, terkuak sisa-sisa bungkus mi instan, potongan plastik kusam, hingga popok bayi bekas yang terkubur entah sudah berapa tahun lamanya.

“Walah, ternyata di bawah sini dulunya tempat buang sampah,” cetus kami bersamaan sambil tertawa kecil mengamati temuan tersebut.

Temuan sampah itu menjadi cermin kecil, betapa tanah yang kita pijak selama ini telah memikul beban berat. Justru dari titik bekas pembuangan sampah itulah, misi biopori ini menemukan maknanya. Plastik-plastik tua itu kami pisahkan, lalu lubang yang baru saja dibersihkan digantikan dengan isi yang jauh lebih ramah, dedaunan kering, kulit buah, dan sisa sayuran dapur dari rumah-rumah warga.

Respon hangat pun datang dari warga. Saat melihat pipa PVC berisikan sisa dapur ditanam di pekarangannya, Bapak Milih tersenyum puas.

"Nah kalau gini kan enak, ada sampah dari dapur langsung masukan ke sini," ujarnya santai seraya mengamati lubang biopori yang baru selesai terpasang.

Lubang resapan air biopori telah terpasang di rumah Bapak Milih (Ketua RT 2, Dusun Tunjang Timur, Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah). Dok. Sopoq Angen Pagutan.

Pipa-pipa PVC berlubang itu kini tertanam rapi di pekarangan rumah Bapak Sukron, Bapak Milih, dan Bapak Sahri sebagai ketua RT setempat. Di dalamnya, tumpukan sampah organik mulai bekerja seraya menanti datangnya hujan. Mikroorganisme dan cacing tanah akan datang menyantap sampah organik itu, membuat rongga-rongga alami di dalam tanah, dan menyiapkan saluran kecil bagi air hujan untuk meresap dalam-dalam.

Di bawah terik matahari yang setiap hari menyengat bumi, lubang-lubang biopori sederhana itu kini akan siap bertugas. Bukan sekadar pipa plastik yang ditanam, melainkan ada harapan untuk memberi napas baru bagi bumi Tunjang Timur yang sedang kehausan.