Konten dari Pengguna

Negara

Aunur Rofiq

Aunur Rofiq

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi peta dunia. Foto: Nevena Barberic/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi peta dunia. Foto: Nevena Barberic/shutterstock

Siklus umur negara (120 tahun), menurut Ibnu Khaldun, umur suatu negara kurang lebih dibatasi oleh (120) tahun yang terbagi dalam tiga generasi:

Generasi Pertama (Pembentukan): Hidup keras, berani, memiliki ashabiyah yang sangat kuat, serta gigih merebut kekuasaan.

Pernyataan tersebut merujuk pada Teori Asabiyah Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah. Menurutnya, peradaban (termasuk negara dan kekuasaan) dibangun oleh generasi pertama yang memiliki solidaritas (ashabiyah) kuat, namun rentan mengalami pergeseran di generasi berikutnya.

Konsep Generasi Pertama (Pembentukan). Dalam sosiologi politik Islam, generasi pertama adalah kelompok perintis yang memiliki karakteristik spesifik:

  • Solidaritas Kuat (Asabiyah): Ikatan emosional dan kesetiakawanan yang sangat tinggi terhadap kerabat atau golongannya.

  • Kehidupan Keras dan Berani: Terbiasa dengan alam yang sulit (padang pasir), memiliki mental tempur, serta pantang menyerah.

  • Gigih Merebut Kekuasaan: Karena fisik dan keberaniannya, mereka mampu menaklukkan kelompok lain dan mendirikan dinasti baru.

Pandangan Islam tentang "Asabiyah"

Di dalam Islam, makna ashabiyah terbagi menjadi dua perspektif :

1. Asabiyah yang Tercela (Ashabiyah Jahiliyyah)

Adalah fanatisme golongan yang membela kelompok atau sukunya secara membabi buta, baik dalam keadaan benar maupun zalim. Islam sangat melarang fanatisme kesukuan yang berujung pada rasisme dan perpecahan.

Dalil Larangan: Rasulullah SAW bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang mengajak pada fanatisme golongan (ashabiyah), dan bukan dari golongan kami yang berperang karena fanatisme golongan, serta bukan dari golongan kami yang mati demi fanatisme golongan." (HR. Abu Dawud No. 4456).

Dalil Batasan: Nabi SAW bersabda, "Ashabiyah itu adalah engkau menolong kaummu dalam berbuat kezaliman." (HR. Ahmad).2.

2. Asabiyah yang Terpuji

Solidaritas, persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), dan rasa cinta kepada bangsa atau keluarga diperbolehkan selama tidak melanggar syariat, tidak merendahkan hak orang lain, dan tidak membela kezaliman. Semangat ini dapat berupa kecintaan terhadap kebenaran.

Generasi kedua (Kejayaan): Mulai beralih dari kehidupan nomaden ke kemewahan kota, kekuasaan terpusat pada satu tangan (monarki/dinasti).

Dalam khazanah sosiologi Islam, konsep pergeseran dari kehidupan nomaden ke perkotaan dan pemusatan kekuasaan dijelaskan secara mendalam oleh filsuf muslim Ibnu Khaldun. Menurut beliau dalam kitab Muqaddimah, fase ini merupakan Generasi Kedua (Tahap Kemegahan dan Kestabilan) di mana 'ashabiyah (solidaritas) masih kuat namun bentuk kekuasaan berubah.

Ini sudah tampak kemegahan bagi kelompok tertentu dan tidak merata, kondisi ini sudah terjadi, oleh karena itu khawatir akan memasuki tahap berikutnya.

Generasi ketiga (Kemunduran): Terbiasa dengan kemewahan, kehilangan semangat juang (ashabiyahluntur), penakut, dan akhirnya negara mengalami kehancuran akibat keroposnya solidaritas.

Memasuki fase ketiga menurut Teori Siklus Ibnu Khaldun berarti negara berada di fase kritis di mana para elite terlena dengan kenyamanan, korupsi, dan solidaritas mulai digantikan oleh individualisme.

Banyak kritikus sosial menilai tanda-tanda gejala ke arah fase tersebut memang mulai muncul. Namun, penilaian tersebut bervariasi:

Indikator Kemunduran: Munculnya budaya hedonisme di kalangan elite, melemahnya kepercayaan publik pada institusi hukum, dan polarisasi sosial akibat ketimpangan ekonomi. Hal ini dianggap mencerminkan gejala lunturnya ashabiyah(solidaritas sosial).

Potensi Perbaikan (Resiliensi): Di sisi lain, masyarakat luas dinilai masih memiliki inisiatif gotong royong yang tinggi dalam berbagai krisis, yang menunjukkan bahwa kohesi sosial dasar bangsa ini masih berfungsi.

Oleh karenanya, marilah kita semua sebagai warga negara berlomba-lomba kita hindari fase kemunduran ini dengan mengubah sikap berbuat untuk kemanfaatan bersama sesama warga negara bukan untuk diri sendiri.