Konten dari Pengguna

Ngalah, Ngalih, Ngamuk, dan Ruang yang Belum Punya Nama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kaligrafi Selamat Maulid Nabi, citra hasil AI
zoom-in-whitePerbesar
Kaligrafi Selamat Maulid Nabi, citra hasil AI

Di bawah terik Mekah, seorang budak bernama Bilal dijemur di atas pasir yang panasnya bisa melepuhkan kaki. Batu besar diletakkan di dadanya oleh tuannya sendiri, Umayyah bin Khalaf, karena ia menolak melepas keyakinannya pada satu Tuhan. Ia tidak melawan. Ia tidak lari. Ia bertahan, hari demi hari, sampai Abu Bakar menebus dan membebaskannya. Jika orang Jawa mendengar kisah semacam ini, mereka akan mengenali polanya, meski peristiwa itu terjadi jauh dari tanah mereka, ribuan kilometer dan ratusan tahun sebelum leluhur mereka mengenal huruf hijaiyah.

Ngalah, ngalih, ngamuk adalah tuntunan lama orang Jawa dalam menghadapi tekanan. Mengalah dulu, menahan diri demi menjaga keharmonisan, bukan karena lemah. Bila tekanan masih berlanjut, menyingkir, mengambil jarak, bukan karena takut, melainkan mencari ruang baru untuk tumbuh. Dan kalau kedua cara itu sudah habis, barulah perlawanan terbuka datang, titik ketika kesabaran seseorang sudah tak lagi menyisakan ruang untuk kompromi. Filosofi ini hidup di sasana pencak silat, di lakon wayang semalam suntuk, di nasihat orang tua kepada anaknya yang pulang dengan mata bengkak karena berkelahi. Pendeknya dalam segala aspek kehidupan masyarakat Jawa.

Tiga tahap ini seperti peta yang pas kalau ditempelkan pada perjalanan Nabi Muhammad SAW. Tiga belas tahun di Mekah adalah ngalah yang "telanjang". Nabi dan para sahabatnya menghadapi penyiksaan, bukan sekadar ejekan. Sumayyah dibunuh dan tercatat sebagai syahidah pertama dalam Islam. Bani Hasyim diboikot di lembah Syi'ib Abu Thalib selama kurang lebih tiga tahun, terputus dari perdagangan dan pernikahan dengan klan lain di kota itu. Tidak ada perintah membalas sepanjang masa itu. Yang turun justru ayat tentang kesabaran, tentang meninggalkan gangguan orang-orang yang mendustakan dengan cara yang baik.

Ngalih datang setelah tekanan berlipat, setelah Khadijah dan Abu Thalib wafat berdekatan dalam tahun yang disebut para sejarawan sebagai tahun duka. Nabi sempat berdakwah ke Thaif dan pulang dilempari batu oleh penduduknya sendiri hingga berdarah. Ada satu riwayat yang sering diangkat dari episode ini. Malaikat penjaga gunung menawarkan diri menghimpit penduduk Thaif yang melipatnya di antara dua bukit, dan Nabi menolak, berharap kelak lahir dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata. Jauh sebelum Fathu Makkah, kesempatan untuk ngamuk sudah pernah ditawarkan dan ditolak. Barulah setelah itu hijrah berjalan bertahap, sebagian besar sahabat berangkat lebih dulu, Nabi menyusul bersama Abu Bakar lewat persembunyian di gua Tsur. Ini perpindahan yang direncanakan, bukan pelarian karena panik, persis makna ngalih, mengambil jarak untuk membangun kekuatan yang baru.

Fase Madinah, dengan Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, sering dibaca sebagai giliran ngamuk. Sebagian memang benar, izin berperang turun setelah umat Islam terus diserang. Tapi di sinilah kerangka tiga tahap itu mulai retak kalau ditempelkan begitu saja. Ngamuk dalam bayangan Jawa adalah ledakan, jalan keluar ketika kesabaran sudah habis sama sekali. Perang dalam sirah justru diatur ketat, dilarang membunuh perempuan, anak-anak, dan orang tua, dilarang merusak yang tak perlu dihancurkan. Di Uhud, Hindun binti Utbah mencabik jasad Hamzah, paman Nabi, tanpa ada balasan setimpal saat itu juga. Perjanjian Hudaibiyah tetap dipatuhi meski isinya berat sebelah dan ditentang sebagian sahabat sendiri. Kalau ngamuk berarti pengendalian diri yang akhirnya jebol, fase Madinah justru menunjukkan pengendalian yang tetap terjaga bahkan ketika pedang sudah diizinkan.

Ujian paling telak datang di Fathu Makkah, tahun ke-delapan Hijriah, sebab di sanalah ngamuk paling punya alasan sekaligus paling punya sarana untuk sungguh terjadi. Kota yang sama pernah mengusir Nabi, menyiksa sahabatnya, memboikot keluarganya bertahun-tahun. Sekarang Nabi datang dengan sekitar sepuluh ribu pasukan, kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah dihadapi kota itu. Yang terjadi malah sebaliknya. Nabi bertanya kepada orang-orang Quraisy yang berkumpul, "Apa yang mereka kira akan diperbuat terhadap mereka?" Mereka menjawab, saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia. Nabi membalas dengan kalimat yang pernah diucapkan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya yang dulu mencelakainya, "Tiada cercaan atas kalian hari ini", lalu menyatakan mereka semua bebas, kecuali segelintir orang dengan kejahatan paling berat, dan sebagian dari mereka pun akhirnya dimaafkan juga.

Kalau perenungan berhenti di sini, kesimpulannya gampang. Filosofi Jawa ternyata sudah lama tahu apa yang dibuktikan sirah, begitu mungkin orang akan berkata. Tapi kejujuran menuntut satu langkah lagi, dan langkah ini justru membuat perenungan ini lebih berharga, bukan lebih murah. Kata ngalah, tidak seperti yang banyak diklaim pendakwah, bukan pinjaman dari bahasa Arab yang disamarkan, ia bentuk aktif dari akar kalah lewat imbuhan yang sama dengan kirim menjadi ngirim. Kata ngamuk malah mempunyai jejak yang jauh lebih tua, terlacak sampai bahasa Proto Melayu-Polinesia, hamuk, hidup dalam bahasa Jawa Kuno di zaman kerajaan Hindu-Buddha, jauh sebelum Islam mengakar di tanah Jawa. Filosofi ini lahir dan besar di dunia pencak silat dan pewayangan, di kisah Kresna berubah wujud jadi raksasa Triwikrama, warisan Mahabharata yang sudah dijawakan berabad-abad sebelum Wali Songo menginjakkan kaki di pesisir.

Jadi kesimpulannya ngalah ngalih ngamuk tidaklah lahir dari sirah Nabi. Tapi justru di situ letak keindahan yang sesungguhnya. Yang terjadi bukan satu tradisi meniru yang lain, melainkan dua jalan berbeda sampai pada kearifan yang serupa, lalu dipertemukan kemudian oleh orang-orang yang memilih membaca keduanya berdampingan. Banyak perguruan silat melakukan ini secara sadar, menaruh tawadlu pada makna ngalah dan kesiapan membela martabat umat pada makna ngamuk. Ini pola yang sama dengan yang dulu membiarkan Kresna dan Arjuna tetap hidup di layar wayang sambil mulut mereka diisi kalimat tauhid oleh para wali. Islam Nusantara, dalam bentuknya yang paling jujur, tidak pernah butuh mengarang silsilah supaya kearifan lokal terasa sah. Ia cukup mempertemukan dua terang dan membiarkan keduanya saling menyinari.

Ada satu hal lagi yang membuat titik Fathu Makkah ini istimewa, kalau dibandingkan dengan tradisi strategi lain yang juga bicara soal kapan menghindar dan kapan menyerang. Sun Tzu menganggap kemenangan tertinggi justru menaklukkan musuh tanpa bertempur sama sekali, tapi dasarnya kalkulasi biaya, bukan kerendahan hati. Clausewitz berpendapat perang seburuk apa pun tetaplah kelanjutan politik dengan "cara lain", bukan titik ketika kompromi berakhir seperti makna ngamuk yang sesungguhnya. Dua tradisi besar ini, satu dari Tiongkok kuno, satu dari Eropa modern, sama-sama pandai menjelaskan kapan sebaiknya menyerang dan kapan sebaiknya menunggu. Keduanya nyaris tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang lebih sulit, yaitu apa yang dilakukan seseorang begitu kemenangan sudah sepenuhnya di tangan.

Ngamuk, sebagai kata, juga berhenti di titik yang sama. Ia puncak, bukan jalan menuju sesuatu yang lain. Sirah justru melangkah lebih jauh dari titik itu, tepat pada saat balas dendam paling masuk akal dan paling mudah dilakukan. Ada pilihan lain yang muncul di sana, yang barangkali belum punya nama dalam kosakata Jawa lama, sesuatu yang lebih dekat ke ngapura, dijatuhkan bukan dari posisi terjepit, melainkan dari posisi menang total.

Kaligrafi Tauhid ala China. dok. Pribadi

Bilal, yang dulu dijemur di atas pasir panas kota itu, kelak berdiri di atas Kakbah pada hari yang sama, memanggil penduduk kota yang sama untuk salat. Jarak antara batu di dadanya dan suaranya di atap Kakbah bukan cuma jarak waktu. Itu jarak antara ngamuk yang wajar terjadi dan sesuatu yang lebih jauh dari itu, yang barangkali baru bisa dipahami penuh kalau seseorang pernah benar-benar merasakan tiga tahap yang lebih dulu, mengalah, menyingkir, dan menahan amarah yang sudah sangat berhak untuk meledak.