Nyaman Banget Sih Hidup Orang Itu?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu saya selalu berpikir. Kalau hidup yang nyaman itu cuma milik orang yang punya banyak uang. Lihat handphone orang lain mahal atau lihat orang lain makan enak di resto. Apalagi saat melihat rumah orang lain enak dipandang? Saat lihat orang lain aksesorinya keren, langsung terpikir “nyaman banget sih orang itu?”. Saya selalu mengira mereka yang punya sesuatu yang tidak saya punya., itulah kenyamanan.
Sampai suatu hari saya sadar. Ternyata bukan karena mereka lebih beruntung. Bukan pula karena mereka lebih kaya. Tapi karena mereka selalu memperhatikan hal-hal kecil yang sering saya abaikan. Saya termasuk orang yang sering bilang, "Ahh, nanti aja" atau "Masih bisa dipakai kok". Atau sering bilang “Belum terlalu penting". Padahal setiap hari saya tetap merasakan tidak nyaman dengan ungkapan itu semua. Setiap hari mengeluh tentang hal yang sama. Tapi tidak pernah benar-benar memperbaikinya. Agak lucu sih.
Saya bisa menghabiskan uang untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Tapi selalu menunda sesuatu yang jelas-jelas membuat aktivitas saya lebih nyaman setiap hari. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menunda. Saya mencoba memperbaiki satu hal kecil yang selama ini selalu mengganggu. Dan ternyata...
Perubahannya jauh lebih terasa daripada yang saya bayangkan. Bukan karena hidup saya langsung berubah drastis. Bukan karena tiba-tiba jadi orang sukses. Tapi karena setiap hari terasa sedikit lebih mudah. Saya merasa lebih bermanfaat untuk orang lain. Jadi tahu, betapa pentingnya saya buat orang lain. Hidup menjadi lebih nyaman, menjadi lebih menyenangkan. Dan kalau dipikir-pikir, itulah pentingnya nyaman dalam hidup.
Apa yang membuat saya nyaman sekarang? Karena saya menjalankan aktivitas Motor Baca Keliling (MOBAKE) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Setiap hari Minggu, saya berkeliling kampung bersama relawan TBM Lentera Pustaka. Hanya untuk sediakan akses bacaan untuk anak-anak usia sekolah di kampung-kampung yang selama ini tidak punya akses bacaan. Memarkir motor baca, menggelar tikar merah, menyediakan buku, dan duduk bersama anak-anak sambil membaca buku. Membimbing anak-anak yang membaca buku. Semuanya jadi lebih nyaman dan lebih bermakna. Begitulah kiprah saya dan relawan TBM Lentera Pustaka dalam 9 tahun belakangan ini. Nyaman berbuat baik, nyaman menebar manfaat kepada orang lain.
Kini, saya baru menyadari. Bahwa kenyamanan itu tidak harus berupa barang mahal. Apalagi rumah mewah. Tapi bisa berbuat baik dan menebar manfaat kepada anak-anak melalui buku bacaan itu jadi kenyamanan yang tidak ternilai harganya. Maka kerjakanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat, maka kenyamanan pasti akan menghampiri.
Ternyata hal-hal yang dianggap kecil seperti berkiprah di taman bacaan atau menjadi relawan motor baca keliling benar-benar bikin hari-hari dan hidup kita lebih nyaman. Salam literasi!
