Nyaris Tak Diberi Izin untuk Lahir, Kini Menjadi PNS Pemberi Izin

Saat ini bekerja sebagai PNS di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sayoga Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Waktu ibu saya hamil muda dan terkena virus rubella, seorang dokter menyarankan supaya kandungannya digugurkan saja. Risikonya dianggap terlalu besar. Tapi ibu menolak, ia bilang “anak ini tetap saya perjuangkan.”
Saya lahir dari keputusan itu, sebagai tuna rungu dengan pendengaran yang lemah walaupun sudah memakai cochlear implant sejak kelas 1 SD. Cerita ibu itu sendiri baru saya dengar waktu remaja. Tapi sejak kecil sudah tumbuh satu keyakinan dalam diri saya : apa pun keterbatasannya, tetap ada yang layak diperjuangkan.
Saya lebih banyak mengisi masa kecil dengan membaca daripada mendengar. Dari TK sampai usia 6,5 tahun, saya belajar bahasa lewat mata, karena keluarga belum sanggup beli alat bantu dengar. Tidak ada bahasa isyarat yang diajarkan, hanya gerak bibir dan tulisan. Sebelum masuk SD, sempat tinggal di asrama khusus anak tuna rungu, dilatihkan fokus dan bicara oleh terapis. Dari situ mulai peka dalam berbahasa tertulis, meski waktu itu belum sadar itu akan berguna sampai sekarang.
Setiap hari saya membaca bibir orang sambil menangkap suara samar lewat cochlear implant, lalu menebak kata-kata yang diucapkan. Setelah tes IQ menyatakan bisa masuk SD umum, ibu mendaftarkan saya ke SD swasta favorit dan lolos ujian masuk. Tapi sekolahnya menolak, alasannya “dia tidak bisa mendengar, nanti kesulitan mengikuti pelajaran”. Akhirnya masuk SD Islam yang baru dibuka, angkatan pertama, belum ada sistem, belum ada yang tahu cara mengajar anak berkebutuhan khusus.
Dari SD sampai kuliah, saya sekolah di lingkungan umum tanpa pendamping dan tanpa juru bahasa isyarat. Banyak pelajaran yang lewat begitu saja, tidak sampai ke telinga saya. Bukan karena malas, memang tidak terdengar. Jadi belajar dua kali lipat: menangkap sedikit di kelas, lalu mengejar sisanya sendiri di rumah. Sampai kelas 3 SD masih lumayan bisa mengikuti. Tapi kelas 4 SD mulai berat, kosakata baru dan hafalan datang cepat sekali, sering tertinggal. Ada masanya pulang sekolah hanya diam di ruang tamu, merasa tertinggal jauh dan bingung harus mulai dari mana. Tapi setelah itu saya mulai rajin membaca buku anak dan menonton film pakai subtitle, menebak arti kata baru dari gambarnya. Pelan-pelan bisa mengejar lagi. Berhenti sekolah tidak pernah terpikir. Saya hanya terus mencari cara sendiri, sebab orang-orang di sekitar saya, walaupun niatnya baik, belum pernah merasakan menjadi tuna rungu.
Sebelum diterima di Jurusan S1 Arsitektur Universitas Diponegoro, saya tiga kali gagal di seleksi PTN lain. Waktu itu sudah tahu ada jalur afirmasi disabilitas di beberapa kampus, tapi memilih tetap ikut jalur umum. Gagal, coba lagi, gagal lagi, sampai akhirnya diterima di percobaan berikutnya.
Ketekunan itu ternyata masih terpakai sampai dewasa. Tahun 2022, saya menjadi CPNS Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ditempatkan di DPMPTSP. Setelah 44 bulan di kecamatan, sekarang bertugas di kelurahan yang hanya punya satu staf PNS untuk memeriksa semua permohonan izin yang masuk, yaitu saya sendiri. Tidak ada rekan lain untuk diajak diskusi. Yang lain biasanya lebih cepat paham karena informasinya lebih dulu masuk lewat telinga mereka. Saya harus belajar sambil bekerja, mempelajari tiap jenis izin dari nol, supaya tidak salah dan tidak merepotkan orang yang sedang mengurus izinnya. Tidak pernah mengeluh soal ini. Sudah lama berhenti.
Ujian yang paling berat datang waktu memeriksa satu permohonan Surat Izin Praktik untuk tenaga medis lewat sistem JakEvo. Di layar kelihatannya sederhana, tinggal mencocokkan dokumen dengan panduan. Tapi kenyataannya lebih rumit. Harus memeriksa langsung ke sistem Kementerian Kesehatan karena data yang dilampirkan sering sudah kadaluarsa. Banyak juga kasus yang tidak ada di panduan yang saya pegang. Latar belakang saya Arsitektur, jadi semua ini saya mempelajari dari nol, sendirian.
Yang paling sulit, rekan lain biasanya menelepon kalau ada yang membingungkan. Bagi saya, menelepon terlalu berisiko salah dengar untuk urusan sepenting ini, satu kesalahan kecil bisa berdampak pada izin praktik seorang tenaga medis, sampai keselamatan pasiennya. Jadi memilih cara yang lebih lambat, bertanya lewat pesan tertulis, meminta poin pentingnya diketik. Satu berkas bisa memakan waktu satu hari, padahal batas resminya hanya 3,5 jam. Belajar bertanya singkat dan jelas, memastikan dulu baru menyelesaikan.
Ada rasa lega setiap kali izin yang saya periksa akhirnya bisa terbit tanpa kesalahan. Bukan hanya karena pekerjaan selesai, tapi karena tahu ada satu hak orang yang terpenuhi berkat ketelitian itu. Hak seorang tenaga medis untuk bekerja, hak seorang pemohon untuk mendapatkan izin yang memang seharusnya ia terima. Rasa lega itu kecil, tidak terlihat oleh siapa pun selain saya sendiri, tapi cukup untuk membuat semua proses belajar sendirian tadi terasa ada gunanya.
Saya tidak pernah diminta pendapat waktu diputuskan untuk tetap dilahirkan. Tapi sejak itu, saya memilih bertahan dengan cara saya sendiri. Lewat mata yang menggantikan telinga, lewat tulisan yang menggantikan telepon, lewat ketelitian yang menggantikan kecepatan. Saya memilih melihat semua itu bukan sebagai kekurangan, tapi sebagai cara berpikir yang berbeda. Dan cara berpikir itulah yang membuat saya tetap berdiri sampai sekarang.
