Konten dari Pengguna

Oksidentalisme: Mengapa Kita Masih Sibuk Menengadah ke Langit?

Damri Hasibuan (Uda)

Damri Hasibuan (Uda)

Alumni universitas Al-Azhar As-Syarif, penulis 6 buku solo dan 30 an buku antologi (Ber-ISBN) multi gendre, peneliti isu-isu ekologi, penikmat tafsir, Duta Imam RI untuk UAE sejak 2023 hingga sekarang. Mahasiswa Pascasarjana Univ. PTIQ Jakarta.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Hasan Hanafi. Foto: Generate by Gemini.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Hasan Hanafi. Foto: Generate by Gemini.

Banyak umat Islam hari ini sangat fasih melantunkan zikir dan rajin mengejar ritual kesalehan personal. Namun, mata mereka sering kali mendadak buta saat melihat ketidakadilan sosial di depan mata. Kamar ibadah dipenuhi doa-doa khusyuk. Sementara kemiskinan dan penindasan dianggap sekadar ujian takdir yang membuat umat menjadi pasif. Di tengah situasi miris inilah, gagasan Hasan Hanafi hadir untuk mengguncang kemapanan berpikir kita. Ia menolak teologi tradisional yang membuat umat kehilangan daya kritis dan menegaskan bahwa iman yang sejati harus mampu menggerakkan perlawanan terhadap ketimpangan sosial.

Menggugat Teologi "Menengadah"

Selama berabad-abad, para teolog terjebak pada pembahasan abstrak mengenai zat dan sifat Tuhan yang tidak menyentuh realitas perut yang lapar. Hanafi menyebut ini sebagai teologi yang "menengadah", karena pandangannya selalu tertuju ke atas dan mengabaikan penderitaan manusia di bawah. Sebagai tawaran progresif, Hanafi mengusung jargon Min al-aqīdah ila al-tsawrah (dari akidah menuju revolusi) yang menggeser fokus dogmatis menjadi aksi sosial-politik nyata (Hasan Hanafi, 2004).

Paradigma ini menuntut pergeseran dari teosentrisme menuju antroposentrisme etik, di mana iman harus bertransformasi menjadi ideologi pembebasan demi membela hak-hak kaum mustad’afīn (lemah). Dalam rekonstruksi ini, Tauhid tidak lagi diartikan sebagai konsep metafisik tentang eksistensi Tuhan semata, melainkan sebagai ideologi kesatuan manusia dan kesetaraan tanpa diskriminasi (Hasan Hanafi, 2003). Dengan demikian, teologi tidak lagi menjadi candu yang menidurkan kesadaran, melainkan pisau analisis yang responsif terhadap ketimpangan zaman.

Membedah Barat Melalui Oksidentalisme

Hasan Hanafi menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh terus-menerus menjadi objek studi bagi Barat, melainkan harus berbalik menjadi subjek yang mengkaji Barat melalui Oksidentalisme. Oksidentalisme adalah proyek untuk membalikkan posisi Timur agar mampu mematahkan mitos peradaban Barat sebagai model universal tunggal (Hasan Hanafi, 2000). Tujuannya adalah membebaskan Timur dari ketergantungan epistemologis dan menghilangkan kompleks inferioritas yang telah lama menghinggapi intelektual Muslim (Burhanuddin Daya, 2008).

Proyek ini sangat relevan di era modern untuk menghadapi tantangan seperti Neoliberalisme dan Kolonialisme Digital (Henry A Ruagadi et al., 2024). Oksidentalisme mengajarkan masyarakat Timur (Islam) untuk menjadi subjek pengkaji teknologi dan ideologi, bukan sekadar konsumen pasif yang kehilangan identitas diri (Achmad Tohari, 2022). Dengan menjadikan Barat sebagai objek studi kritis, umat Islam dapat membangun dialektika yang egaliter dan mencapai keberimbangan kebudayaan dunia yang inklusif.

Kitab Kuning di Pusaran Zaman

Melalui proyek Al-Turāts wa Al-Tajdīd (Tradisi dan Pembaruan), Hanafi mengingatkan bahwa warisan klasik atau turāts seperti kitab kuning tidak boleh hanya disimpan di museum sejarah. Atau dalam bahasa lain, lapuk dalam lembaran-lembaran klasik. Kita harus beranjak Min an-naql ila al-ibdā’ (dari peniruan buta menuju kreasi baru) dengan melakukan perombakan total terhadap metodologi berpikir lama (Hasan Hanafi, 2001). Tradisi harus dibaca ulang secara kritis dan aplikatif agar dapat menjadi jangkar bagi perubahan sosial yang maslahat di tengah dinamika modern.

Hanafi menekankan bahwa merawat tradisi bukan berarti merawat kepasrahan berpikir masa lalu, melainkan menjadikannya bahan bakar untuk inovasi hari ini. Spirit ini selaras dengan upaya mentransformasi teks ke realitas (min an-naql ila al-wāqi’), di mana akal digunakan secara maksimal untuk interpretasi yang membumi (Hasan Hanafi, 2005). Dengan kedaulatan berpikir ini, umat Islam tidak lagi hanya membebek pada ideologi luar, tetapi mampu melahirkan solusi konkret bagi persoalan kemiskinan dan pembodohan.

Membangun Kedaulatan Berpikir "Kiri Islam"

Hanafi mencetuskan gagasan Kiri Islam sebagai solusi terhadap problem kontemporer umat Islam, menempatkan dirinya sebagai reformis yang mendukung perubahan sosial drastis (Kazuo Shimogaki, 1993). Gagasan ini menuntut rekonstruksi disiplin ilmu Islam agar menjadi kekuatan revolusioner yang mampu melawan imperialisme kebudayaan Barat (Hasan Hanafi, 2000). Perspektif tersebut dapat dipahami bahwa Kiri Islam bukan sekadar label politik, melainkan upaya mengembalikan martabat manusia melalui lensa agama yang progresif.

Kiri Islam juga menyoroti pentingnya keadilan sosial guna mengatasi kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam struktur masyarakat Proyek ini mendorong mobilisasi kekuatan massa untuk melawan apatisme dan kediktatoran internal yang sering melumpuhkan daya kritis umat. Melalui revitalisasi rasionalisme, kita sebagai umat Islam diharapkan mampu bicara atas namanya sendiri di panggung global tanpa merasa rendah diri dan inferior.

Menurunkan Agama ke Bumi

Kesalehan yang autentik kini tidak lagi diukur sebatas dari kekhusyukan ritual pribadi, melainkan dari sejauh mana kehadiran kita mampu meringankan beban sesama manusia. Teologi yang hidup harus mampu diderivasikan ke dalam kerja-kerja sosial dan pengabdian nyata di ruang publik. Setiap pemikiran yang lahir dari rahim tradisi seyogianya diarahkan untuk mengurai ketimpangan dan menyebarkan kebijaksanaan demi kemaslahatan umat manusia secara luas.

Pada akhirnya, proyek Oksidentalisme dan gagasan Kiri Islam yang ditawarkan Hanafi adalah instrumen untuk menciptakan subjek Islam yang berani dan percaya diri (Kazuo Shimogaki, 1993). Ini adalah upaya agar pemikiran Islam tidak terpisah dari realitas sosial, melainkan aktif terlibat dalam mendorong perubahan positif (Sayuti Ismail dan Inayatillah, 2025). Membawa pesan suci keluar dari ruang perdebatan sunyi menuju aksi nyata adalah wujud bakti yang sesungguhnya terhadap warisan para ulama.

Menyadari bahwa setiap pemikiran besar adalah panggilan untuk melihat kembali realitas di sekitar, ada ruang luas bagi setiap pribadi untuk mulai menerjemahkan nilai-nilai luhur menjadi langkah-langkah nyata. Barangkali, keberanian untuk mempertanyakan kemapanan dan menghidupkan kembali kemanusiaan dalam setiap tarikan napas beragama adalah cara paling tenang untuk merawat masa depan kita bersama.

-------

Referensi

Daya, Burhanuddin. Pergumulan Timur Menyikapi Barat: Dasar-Dasar Oksidentalisme. Yogyakarta: Sukapress, 2008, hal. 88-89.

Hanafi, Hasan. Al-Turāts wa al-Tajdīd. Terj. Yudian Wahyudi. Yogyakarta: Titian Ilahi press, 2001.

Hanafi, Hasan. Islamologi: Dari Teologi Statis ke Anarkis. Terj. Miftah Faqih. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2003, hal. xxii.

Hanafi, Hasan. Islamologi 3: Dari Teosentrisme ke Antroposentrisme. Terj. Miftah Faqih. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2004, hal. 75.

Hanafi, Hasan. Min an-Nash ila al-Wāqi’. Kairo: Markaz al-Kitab li an-Nasyr, 2005, hal. 252.

Hanafi, Hasan. Muqaddimah fī ‘Ilmi al-Istighrāb Mauqifunā Min Turāts al-Gharbī. Kairo: Dār al-Fannānī, 1992, hal. 12.

Hanafi, Hasan. Oksidentalisme Sikap Kita Terhadap Tradisi Barat. Terj. M. Najib Buchori. Jakarta: Paramadina, 2000, hal. 46-48.

Hasibuan, Damri. "Dari Teologi Langit ke Revolusi Bumi: Kritik Hasan Hanafi atas Tradisi Islam." Jakarta: Universitas PTIQ Jakarta, 2026, hal. 1-3.

Ismail, Sayuti dan Inayatillah. "Islamic Left Manifesto: Hasan Hanafi and Interpretation of Materialism on Islamic Tradition." International Journal of Islamic Thought and Humanities, Vol. 4, No. 1, 2025, hal. 438.

Ruagadi, Henry A et al. "Generative AI sebagai Instrumen Neokolonialisme Digital dalam Pendidikan Budaya: Studi Pustaka tentang Penyebaran Ideologi Barat, Marginalisasi Pengetahuan Lokal, dan Strategi Menuju Inklusivitas." Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Tentena, Vol. 4, No. 1, 2024, hal. 47.

Shimogaki, Kazuo. Kiri Islam: Telaah Kritis Pemikiran Hasan Hanafi. Terj. M Imam Aziz dan M Jadul Maula. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 1993, hal. 38.

Tohari, Achmad. "Konsep Oksidentalisme Hasan Hanafi di Era Westernisasi dan Korean Wave." ULIL ALBAB: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 1, No. 6, 2022, hal. 1657.