Orang Tua dan Bimbel: Persiapan War Masuk Sekolah-Kampus, Rogoh Jutaan Rupiah

Fenomena orang tua yang rela “war tiket” bimbingan belajar (bimbel) belakangan ini menjadi perhatian. Di balik fenomena tersebut, sejumlah orang tua mengaku rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah per tahun demi menunjang pendidikan sang anak.
Salah satunya Risna, warga Depok, Jawa Barat, yang mendaftarkan dua anaknya ke bimbel. Anak pertama saat ini duduk di kelas 9 SMP, sedangkan anak keduanya kelas 6 SD. Keduanya baru mengikuti bimbel khusus persiapan ke jenjang pendidikan berikutnya pada tahun ini.
“Kenapa akhirnya saya memutuskan anak-anak saya masuk bimbel karena saya lihat persaingan untuk masuk ke jenjang sekolah berikutnya sangat ketat, dari SMP ke SMA maupun dari SD ke SMP,” kata Risna saat dihubungi kumparan, Kamis (3/9).
Sebelumnya, kedua anak Risna mengikuti bimbel khusus pelajaran matematika. Namun, karena membutuhkan persiapan untuk menghadapi berbagai mata pelajaran menjelang kenaikan jenjang, keduanya kemudian berpindah bimbel lainnya.
Risna menjelaskan, kedua anaknya bimbel dua kali dalam sepekan. Selain pembelajaran rutin, tersedia pula metode konsultasi dengan guru yang dapat dimanfaatkan siswa.
Dia membeberkan keputusan mendaftarkan anaknya ke bimbel juga karena menilai pembelajaran di sekolah masih belum cukup, terutama untuk beberapa mata pelajaran.
“Iya sepertinya masih kurang, terutama untuk bagian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Bahasa Indonesia, dan juga matematika,” ujarnya.
Kendati demikian, Risna mengaku tidak sampai mengalami war tiket untuk mendapatkan kuota bimbel. Saat mendaftarkan anaknya, ia masih mendapatkan kuota meski disebut hanya tersisa beberapa tempat.
“Saya baru tahu war tiket bimbel nih. Alhamdulillah sih tidak ya. Jadi alhamdulillah ketika kemarin mau daftar masih ada slot-nya seperti itu. Walaupun memang katanya tinggal beberapa slot lagi, tapi tidak sampai nge-war sih,” tutur Risna.
Untuk biaya, Risna mengeluarkan sekitar Rp 9-12 juta per tahun untuk anaknya yang duduk di kelas 9 SMP. Sementara untuk anak kelas 6 SD, biaya bimbel berkisar Rp 6-7 juta per tahun.
Risna pun menilai, dampak bimbel yang saat ini diikuti belum terlihat karena anak-anaknya baru mengikuti kegiatan tersebut selama satu hingga dua bulan.
Namun, ia mengaku merasakan manfaat dari bimbel yang sebelumnya diikuti anaknya.
“Untuk bimbel yang sebelumnya, itu sangat terlihat dampaknya. Anak-anak jadi percaya diri terutama di matematika,” sebut Risna.
Sementara itu, Dewi, warga Bandung, Jawa Barat, turut mendaftarkan anaknya ke bimbel. Anaknya kini duduk di kelas 12 SMA dan telah mengikuti bimbel sejak kelas 11.
Dewi mengatakan anaknya mengikuti bimbel untuk memaksimalkan persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
“Untuk lebih maksimal dalam persiapan ujian TKA dan SNBT, karena di sekolah saja kurang maksimal,” kata Dewi.
Menurut Dewi, bimbel membantu anaknya mengingat kembali materi kelas 10 dan 11, sekaligus mendapatkan strategi mengerjakan soal serta melatih kecepatan dan ketepatan dalam menjawab soal.
Senada dengan Risna, Dewi mengaku tidak mengalami war tiket bimbel. Menurutnya, pilihan lembaga bimbel di Bandung cukup banyak sehingga orang tua tidak perlu berebut mendapatkan kuota.
“Di Bandung sendiri banyak banget tempat bimbel, jadi kita enggak ‘war’ malah ditawarin,” ungkap Dewi.
Dewi memilih mendaftarkan anaknya ke bimbel yang masih berada dalam satu yayasan dengan sekolah anaknya. Menurut dia, hasil belajar anak juga dapat disampaikan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk membantu mengarahkan pilihan jurusan di perguruan tinggi negeri (PTN).
Untuk mengikuti bimbel reguler, Dewi mengeluarkan biaya sekitar Rp 20 juta per tahun. Meski tergolong besar, ia menilai biaya tersebut sepadan dengan hasil yang didapat karena belajar mandiri di rumah dinilai kurang terarah.
“Dari hasil bimbel itu, hasil try-out (TO) ada peningkatan, dan dipaksa untuk belajar karena ada target pencapaian dari bimbel,” terang Dewi.
Lebih lanjut, Dewi menilai bimbel penting untuk membantu anak belajar secara lebih terarah, terutama dalam menghadapi ujian dan proses masuk perguruan tinggi.
“Saya rasa juga penting sekali, anak jadi lebih banyak belajar secara terarah, dibekali trik cara belajar dan mengerjakan soal dengan baik dan benar,” tandas Dewi.
