Konten dari Pengguna

Outbound ASN: Saat Etika dan Integritas menjadi Pengalaman

Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Pranata Humas, ASN BRIN, ASNation

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suzan Lesmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi saat menjadi Instruktur Outbound Kemenparekraf 2024
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi saat menjadi Instruktur Outbound Kemenparekraf 2024

Etika dan integritas merupakan fondasi penting dalam membangun birokrasi yang dipercaya masyarakat. ASN tidak cukup hanya memiliki kompetensi teknis dan memahami aturan, tetapi juga dituntut mampu meneguhkan nilai moral, etika, dan integritas dalam setiap tindakan. Sebab, kualitas birokrasi pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan diselesaikan, tetapi juga bagaimana pekerjaan itu dilakukan.

Dalam konteks tersebut, kegiatan outbound atau yang dikenal dengan istilah mancakrida—yang identik dengan permainan dan pelatihan di alam terbuka (outdoor), meskipun dapat pula dilakukan di dalam ruangan (indoor), dapat dimaknai lebih jauh daripada sekadar aktivitas membangun kekompakan. Jika dirancang dengan tepat, outbound dapat menjadi ruang edukasi yang menghadirkan pengalaman dinamis tentang bagaimana nilai-nilai ASN diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

Ketika Nilai Menjadi Pengalaman

Nilai moral dan etika mudah dipahami dalam bentuk teori, tetapi belum tentu mudah diterapkan dalam situasi nyata. Outbound menghadirkan simulasi yang mengondisikan peserta berinteraksi, berkolaborasi, mengambil keputusan, menghadapi keterbatasan, dan menyelesaikan persoalan bersama. Semuanya dikemas secara cair melalui permainan yang dinamis dan menarik.

Begitu pula dengan BerAKHLAK sebagai core values ASN dalam membentuk budaya kerja profesional dan pelayanan publik yang berkualitas. Tujuh nilai tersebut—Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif—dapat diterjemahkan menjadi pengalaman nyata di lapangan.

Dalam permainan kelompok, misalnya, peserta dituntut mematuhi aturan dan bertanggung jawab terhadap perannya. Di sinilah Akuntabel tidak sekadar menjadi jargon, tetapi dipraktikkan. Peserta belajar bahwa keberhasilan kelompok bergantung pada kejujuran, kedisiplinan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan.

Berorientasi Pelayanan: Mendahulukan Kepentingan Bersama

Beberapa permainan outbound hanya dapat diselesaikan jika peserta mampu menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi. Peserta yang memiliki kemampuan tertentu bahkan harus membantu rekan yang mengalami kesulitan.

Situasi tersebut merefleksikan nilai Berorientasi Pelayanan. Dalam birokrasi, ASN juga dituntut menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai tujuan utama. Semangat membantu, mendengar, dan mencari solusi merupakan bagian dari etika pelayanan publik.

Kompeten dan Adaptif: Belajar dari Tantangan

Outbound hampir selalu menghadirkan tantangan yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Strategi yang berhasil pada satu permainan belum tentu efektif pada permainan berikutnya. Peserta harus belajar, mengevaluasi, kemudian mengubah pendekatan.

Di sinilah nilai Kompeten dan Adaptif mendapatkan ruang. ASN dituntut terus meningkatkan kapasitas sekaligus mampu merespons perubahan. Birokrasi yang tidak mau belajar dan beradaptasi akan tertinggal dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Harmonis dan Kolaboratif: Tidak Ada yang Berjalan Sendiri

Dalam outbound, perbedaan karakter, usia, jabatan, maupun unit kerja menjadi bagian dari dinamika kelompok. Peserta belajar mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan kemampuan, dan membangun kepercayaan.

Nilai Harmonis dan Kolaboratif menemukan bentuk nyatanya. Peserta menyadari bahwa tujuan bersama tidak selalu dicapai oleh orang yang paling hebat, tetapi oleh tim yang mampu bekerja bersama. Prinsip yang sama berlaku dalam birokrasi karena persoalan publik semakin kompleks dan tidak mungkin diselesaikan oleh satu unit kerja secara sendiri-sendiri.

Belajar dari Pengalaman

Selain sebagai ASN, sudah 14 tahun sejak 2012 saya melakoni peran sebagai instruktur outbound. Dalam pengalaman tersebut, beberapa pimpinan instansi dan perusahaan yang menjadi klien justru menyatakan lebih menyukai outbound daripada sekadar mendengarkan narasumber dengan materi-materi penambah semangat. Mungkin karena sifatnya yang dinamis membuat peserta tidak hanya mendengar, tetapi mengalami dan merasakan langsung proses pembelajaran.

Salah satu pengalaman tersebut adalah ketika menjadi instruktur atau fasilitator outbound dalam Workshop Penguatan Agen Perubahan Reformasi Birokrasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 4 September 2024 di Kebun Raya Bogor, bersama Tim Memuliakan Talenta Manusia (MTM). Saat itu terdapat tiga permainan: Bola Api, Tebak Kata, dan Distribusi Air. Masing-masing dirancang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai BerAKHLAK.

Permainan Bola Api, misalnya, tidak sekadar mengalirkan bola pingpong melalui bambu. Di dalamnya peserta belajar Kolaboratif melalui kerja sama, Harmonis melalui kekompakan, Kompeten melalui penetapan strategi, sekaligus Adaptif melalui kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi yang dinamis.

Tebak Kata melatih kompetensi peserta melalui kemampuan memahami istilah dan kosakata sesuai latar belakang keilmuan. Sementara Distribusi Air mengajarkan pelayanan, strategi, kemampuan beradaptasi, penggunaan sumber daya secara tepat, serta tanggung jawab dalam bekerja sama.

Permainan kemudian diakhiri dengan evaluasi dan refleksi. Peserta diajak menginventarisasi hambatan dan harapan terhadap instansi tempat mereka mengabdi. Hasil tersebut diserahkan kepada pimpinan instansinya sebagai masukan untuk perbaikan.

Dari Lapangan Kembali ke Meja Kerja

Pada akhirnya, keberhasilan outbound ASN bukan diukur dari seberapa meriah permainan berlangsung, tetapi dari apa yang dibawa peserta setelah kembali ke tempat kerja.

Jika setelah outbound seorang ASN menjadi lebih bertanggung jawab, mau mendengar, mampu bekerja lintas unit, terbuka terhadap perubahan, dan semakin menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas, maka outbound telah menjadi bagian dari proses pembentukan karakter birokrasi.

Sebab, integritas tidak lahir dari slogan, melainkan dari kebiasaan memilih yang benar ketika tidak ada yang melihat. Etika bukan sekadar aturan tertulis, melainkan nilai yang hidup dalam setiap keputusan dan tindakan.

Karena itu, outbound ASN seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan membangun teamwork. Ia dapat menjadi laboratorium kecil untuk menghidupkan nilai BerAKHLAK—sebuah ruang belajar bahwa menjadi ASN bukan hanya tentang bekerja untuk negara, tetapi tentang menghadirkan negara melalui perilaku yang berintegritas, beretika, dan bermanfaat bagi masyarakat.