Pagi Pertama, Ayah, dan Karakter Bangsa yang Dimulai dari MPLS

Rizka Firdahlia, S. Sos ASN Dinas Komunikasi Dan Informatika Kota Medan S1 Sosiologi Fisip USU
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizka Firdahlia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Isu Fatherless dan pembentukan karakter anak

Pagi ini, ribuan anak di seluruh Indonesia melangkah ke gerbang sekolah untuk pertama kalinya di tahun ajaran baru. Sebagian menggandeng tangan ibu seperti biasa. Tapi tahun ini ada yang berbeda: banyak yang datang digandeng ayah. Bukan kebetulan — ini bagian dari gerakan bertajuk GAMAS, Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, yang mulai digaungkan bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, demi membentuk karakter anak pada masa dewasanya kelak.
Selama ini MPLS sering dipahami sempit: sekadar seremoni pengenalan tata tertib, kenalan wali kelas, dan hafal letak ruang guru. Padahal MPLS adalah momen pertama seorang anak membentuk kesan tentang dunia sekolah — apakah tempat ini terasa aman, ramah, dan layak dipercaya, atau justru sesuatu yang harus ditakuti. Kesan lima hari pertama ini punya bobot psikologis yang jauh lebih besar dari sekadar orientasi administratif.
Di sinilah GAMAS punya makna yang lebih dalam dari sekadar “ayah mengantar”. Kehadiran orang tua, khususnya sosok ayah yang dalam budaya kita masih sering absen dari urusan pengasuhan harian, pada hari-hari krusial pendidikan anak adalah pesan simbolik: bahwa pendidikan bukan tanggung jawab yang bisa didelegasikan sepenuhnya ke sekolah. Anak yang diantar dengan penuh perhatian di hari pertamanya cenderung membawa rasa aman itu ke dalam kelas — dan rasa aman adalah fondasi paling dasar sebelum karakter apa pun bisa dibentuk.
Tentu, gerakan ini tidak lepas dari kritik. Di beberapa daerah, muncul keberatan dari wali murid karena narasi kampanye yang terlalu menonjolkan kata “ayah” dianggap kurang inklusif bagi anak yatim atau anak tanpa figur ayah dalam hidupnya. Ini kritik yang layak didengar, bukan diabaikan. Semangat baik sebuah gerakan bisa runtuh kalau eksekusi bahasanya melukai anak-anak yang justru paling rentan. Sejumlah dinas pendidikan pun sudah merespons dengan menegaskan bahwa yang penting bukan siapa yang mengantar, melainkan kehadiran wali — ibu, kakak, paman, atau siapa pun yang menjadi rumah bagi anak itu.
Justru dari sinilah pelajaran karakter pertama bisa dipetik: bahwa niat baik harus terus diuji dan dikoreksi, bukan dipaksakan. Anak-anak kita, tanpa sadar, sedang menyaksikan bagaimana orang dewasa di sekitarnya merespons kritik — apakah defensif, atau mau mendengar dan menyesuaikan. Itu sendiri sudah menjadi pendidikan karakter, jauh sebelum mereka membuka buku pelajaran pertama.
MPLS yang membentuk karakter sejatinya adalah MPLS yang menjauh dari dua ekstrem lama: perpeloncoan yang menanamkan rasa takut, dan seremoni kosong yang tidak meninggalkan bekas apa pun. Di antara keduanya ada ruang untuk MPLS yang ramah anak — di mana kedisiplinan diajarkan lewat keteladanan, bukan hukuman fisik; di mana rasa percaya diri dipupuk lewat pengenalan lingkungan yang membuat anak merasa dilihat, bukan diintimidasi senior atau kakak kelas.
Dan di titik inilah keterlibatan keluarga, yang coba dihidupkan lewat GAMAS, menemukan relevansinya. Karakter anak bangsa tidak dibentuk semata oleh kurikulum atau tata tertib sekolah. Ia dibentuk oleh pengalaman berulang bahwa dirinya penting bagi orang-orang di sekitarnya — di rumah maupun di sekolah. Seorang anak yang tahu ayahnya sengaja meluangkan waktu mengantarnya di hari pertama akan membawa keyakinan kecil itu ke setiap interaksi berikutnya: bahwa usahanya diperhatikan, bahwa kehadirannya berarti.
Tantangan sesungguhnya bukan pada satu hari seremonial ini, melainkan sesudahnya. Apakah kehadiran orang tua di hari pertama hanya jadi foto dokumentasi untuk media sosial dinas pendidikan, atau benar-benar menjadi awal dari keterlibatan yang berkelanjutan sepanjang tahun ajaran? Apakah sekolah, setelah MPLS usai, tetap menjaga suasana ramah yang sama seperti hari pertama, atau kembali ke rutinitas lama yang kaku?
Pembentukan karakter anak bangsa bukan proyek lima hari. Tapi kalau lima hari pertama itu dijalani dengan benar — dengan kehadiran, dengan kepekaan terhadap kritik, dengan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk bertumbuh — maka MPLS dan GAMAS bisa menjadi titik awal yang jujur. Bukan sekadar seremoni pembuka tahun ajaran, tapi pengingat bahwa karakter bangsa dimulai dari hal sesederhana: siapa yang menggandeng tangan anak di pagi hari, dan seberapa hadir kita sesudahnya.
