Konten dari Pengguna

Paham Lingkungan Tak Cukup, Uang Saku Tentukan Pilihan Produk Ramah Lingkungan

Kai Arvian

Kai Arvian

Founder at Algoritma Scientist

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kai Arvian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit: https://unsplash.com/id/@elapian
zoom-in-whitePerbesar
Credit: https://unsplash.com/id/@elapian

Ketika ditanya mengapa ia rela membayar lebih mahal untuk kemasan makanan dari kardus alih-alih styrofoam, seorang pelajar kelas 12 di Jakarta Utara menjawab sederhana: itu soal sisa uang jajan hari itu. Jawaban semacam ini justru menjadi temuan sentral sebuah penelitian yang mengkaji apa yang sebenarnya mendorong atau menghambat pelajar SMA membeli produk ramah lingkungan.

Penelitian bertajuk "Green Lifestyle di Kantong Pelajar: Korelasi Literasi Green Finance dan Nominal Uang Saku terhadap Keputusan Pembelian Produk Ramah Lingkungan pada Pelajar SMA di Kawasan Jakarta Utara" ini disusun oleh dua pelajar, Risma Yolanda dan Annisa Amalia, untuk ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Keduanya merupakan tim riset binaan Algoritma Scientist, lembaga pembinaan riset remaja yang rutin mengawal pelajar Indonesia menembus kompetisi ilmiah tingkat nasional.

Riset ini melibatkan 166 pelajar dari enam SMA Negeri di enam kecamatan Jakarta Utara: Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja, Kelapa Gading, dan Cilincing dengan pendekatan kuantitatif asosiatif berupa kuesioner skala Likert, dilengkapi wawancara mendalam terhadap enam pelajar perwakilan. Dua variabel utama diuji: seberapa jauh pemahaman pelajar tentang green finance yakni konsep pengelolaan keuangan yang berorientasi lingkungan dan seberapa besar uang saku harian mereka, memengaruhi keputusan membeli produk ramah lingkungan.

Paham, Tapi Tak Selalu Membeli

Hasilnya mengejutkan. Literasi green finance, yang pada uji coba awal (pilot test) terhadap 34 responden sempat menunjukkan pengaruh signifikan, justru runtuh sepenuhnya saat diuji pada sampel utama yang lebih besar. Nilai signifikansinya 0,991 jauh dari ambang 0,05 dengan koefisien regresi yang nyaris nol. Artinya, sekadar mengerti konsep keuangan hijau tidak lantas membuat pelajar benar-benar mengubah kebiasaan belanjanya.

Sebaliknya, uang saku terbukti berpengaruh positif dan signifikan (t=4,360; signifikansi <0,001). Semakin besar uang saku yang diterima, semakin besar pula kecenderungan pelajar memilih produk ramah lingkungan yang memang cenderung dibanderol lebih mahal dibanding produk konvensional. Mayoritas responden mengaku menerima uang saku harian antara Rp10.000 hingga Rp30.000, angka yang oleh peneliti dikategorikan sebagai kelas ekonomi menengah untuk standar pelajar SMA di wilayah tersebut.

Temuan dari wawancara mendalam memperkuat pola ini. Dari enam informan, hanya dua yang sudah mengenal istilah green finance sebelum diwawancarai; empat lainnya baru memahaminya setelah dijelaskan pewawancara. Namun ketika ditanya faktor apa yang paling menentukan keputusan belanja teman-teman sebayanya, tiga dari enam informan justru memilih uang saku, bukan pemahaman lingkungan.

"Kalau misalkan uang sakunya tetap terbatas dan kebutuhan dia tidak terpenuhi, otomatis dia pasti bakal lebih memilih produk yang lebih murah," ujar salah satu informan asal SMA di Jakarta Utara. Informan lain menyebut, produk ramah lingkungan yang lebih mahal membuat "uang kita pasti bisa boncos" jika dipaksakan dibeli setiap hari.

Kesenjangan Sikap dan Tindakan

Peneliti menyoroti fenomena ini sebagai bentuk attitude-intention-behavior gap yakni kesenjangan antara kesadaran lingkungan dan tindakan nyata yang kerap muncul dalam literatur konsumsi hijau global. Bedanya, pada mahasiswa atau generasi muda yang telah memiliki otonomi finansial, penelitian-penelitian sebelumnya justru menemukan literasi keuangan berkontribusi nyata terhadap keputusan investasi maupun konsumsi ramah lingkungan. Pada pelajar SMA, kendala anggaran tampaknya jauh lebih mengikat sehingga niat baik kerap terbentur realitas dompet.

Meski begitu, secara bersama-sama kedua variabel literasi green finance dan uang saku tetap terbukti berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian (nilai F=4,850; signifikansi 0,001). Hanya saja, kontribusi keduanya terhadap variasi keputusan pembelian ternyata kecil, sekitar 10,8 persen. Sisanya, sekitar 89 persen, dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian ini. Bisa jadi harga produk, ketersediaan barang, kebiasaan, hingga pengaruh teman sebaya, seperti yang disarankan peneliti untuk digali lebih lanjut. Sementara itu, faktor usia dan jenis kelamin, yang dimasukkan sebagai variabel kontrol, terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.

Rekomendasi bagi Sekolah dan Pembuat Kebijakan

Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan agar sekolah mulai menyisipkan materi green finance dan konsumsi berkelanjutan ke dalam pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler, mengingat pengenalan istilah tersebut di kalangan pelajar masih tergolong rendah. Bagi pemangku kebijakan seperti Otoritas Jasa Keuangan dan dinas pendidikan, hasil riset ini disebut bisa menjadi masukan untuk merancang program edukasi keuangan berkelanjutan yang lebih menyasar jenjang SMA bukan hanya mahasiswa atau kalangan dewasa muda yang sudah punya penghasilan sendiri.

Riset ini menjadi salah satu contoh bagaimana pelajar Indonesia mulai mengangkat isu keuangan berkelanjutan dari sudut pandang yang jarang disentuh: bukan dari sisi investor atau korporasi, melainkan dari kantong sendiri uang jajan harian yang, ternyata, punya peran lebih besar dari sekadar pemahaman soal lingkungan.