Paradoks Rinjani: Antara Warisan Spiritual dan Industri Wisata Lombok

Dosen Fakultas Tarbiyah IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yogi Sopian Haris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

رنجاني وما أدراك ما رنجاني
“Rinjānī, wa mā adrāka mā Rinjānī”
Terjemahan: “Rinjani, tahukah kamu apakah Rinjani itu?”
Berdasarkan keterangan dari Prof. Dr. T.G.H. Fahrurrozi Dahlan, Q.H., M.A., Guru Besar UIN Mataram, ungkapan ini sering diucapkan oleh Maulanassyaikh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, seorang ulama terkemuka dari Lombok sekaligus sebagai pendiri organisasi terbesar Nusa Tenggara Barat, Nahdlatul Wathan. Ungkapan ini mengandung makna simbolik yang mendalam, yakni bahwa Rinjanit idak semata-mata dipahami sebagai entitas geografis berupa gunung biasa. Ia adalah simbol ketinggian, kemuliaan, dan misteri yang melampaui batas pemahaman manusia.
Sebuah syair yang dikutip dari buku “Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru” Maulanassyaikh T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengekspresikan refleksi spiritualitasnya yang berbunyi:
"Pulau Sasak kecil sekali
Tapi gunungnya besar dan tinggi
Kalau-lah orang pandai mengkaji
Pastilah sujud seribu kali"
Ketinggian Rinjani seharusnya melahirkan kesadaran spiritual bahwa manusia itu kecil di hadapan Tuhan. Dalam kerangka ini, Rinjani adalah warisan spiritual, bukan sekadar objek geografis. Ia adalah ruang tafakkur, tempat manusia belajar tunduk, bukan sekadar menikmati.
Namun, realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sepanjang tahun 2025, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 25.926.691.000, menjadikannya salah satu kontributor penting dalam sektor pariwisata alam. Jumlah kunjungan mencapai 132.322 orang, terdiri dari 80.214 pendaki dan 52.108 pengunjung non-pendaki. Bahkan, jumlah wisatawan mancanegara yang mendaki (43.236 orang) melampaui wisatawan nusantara (36.978 orang), menandakan bahwa Rinjani telah masuk dalam peta pariwisata global.
Di titik ini, Rinjani tidak lagi hanya berdiri sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai industri pariwisata yang aktif, produktif, dan menguntungkan. Namun, di sinilah paradoks itu muncul. Di satu sisi, Rinjani dimuliakan sebagai ruang sakral. Di sisi lain, ia diperlakukan sebagai komoditas. Ia dimuliakan dalam narasi, tetapi dieksploitasi dalam praktik. Konsekuensi dari paradoks ini mulai terlihat nyata. Aktivitas wisata yang tinggi menghasilkan tekanan ekologis yang signifikan.
Jika dibaca melalui data TNGR tahun 2025, tercatat 30.359,52 kilogram sampah dari aktivitas pendakian, serta 1.197,82 kilogram dari non-pendakian. Angka ini bukan sekadar data, tetapi representasi dari cara manusia memperlakukan alam. Semakin banyak yang datang, semakin besar pula beban yang ditanggung Rinjani.
Apabila dianalisis secara mendalam, konsep daya dukung lingkungan (carrying capacity) menunjukkan bahwa Rinjani sedang berada dalam tekanan serius. Setiap ekosistem memiliki batas, dan ketika batas itu dilampaui, kerusakan menjadi tak terhindarkan. Jalur pendakian tererosi, vegetasi terganggu, dan keseimbangan ekosistem perlahan terancam. Sementara itu, dalam perspektif sosial-budaya, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep komodifikasi alam.
Rinjani yang dahulu dimaknai sebagai ruang sakral kini semakin dilihat sebagai objek wisata. Nilai spiritual tidak sepenuhnya hilang, tetapi mulai tergeser oleh nilai ekonomi. Gunung menjadi destinasi, pengalaman menjadi produk, dan keindahan menjadi konsumsi. Inilah yang disebut sebagai desakralisasi ruang ketika sesuatu yang suci kehilangan makna karena tekanan modernitas.
Selain itu, paradoks ini juga mencerminkan krisis moral dan spiritual. Banyak yang datang ke Rinjani dengan rasa kagum, tetapi tidak semua datang dengan kesadaran. Sampah yang tertinggal bukan hanya persoalan teknis, tetapi cerminan dari hilangnya adab. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah penjaga bumi. Namun ketika alam dirusak, maka yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga nilai amanah itu sendiri.
Karena itu, pengelolaan Rinjani ke depan perlu diarahkan pada model eco spiritual tourism yang tidak hanya menekankan aspek konservasi, tetapi juga kesadaran nilai. Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dapat menerapkan kebijakan berbasis daya dukung yang lebih ketat melalui pembatasan kuota harian yang adaptif, sistem reservasi berlapis, serta kewajiban zero waste trekking dengan mekanisme deposit sampah bagi pendaki.
Selain itu, setiap pendaki perlu dibekali edukasi wajib sebelum pendakian, tidak hanya terkait keselamatan, tetapi juga etika spiritual dalam berinteraksi dengan alam. Pelibatan masyarakat lokal dan tokoh agama dalam penyampaian nilai-nilai ini menjadi penting agar Rinjani tidak hanya dijaga secara ekologis, tetapi juga dimuliakan secara kultural dan spiritual.
T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid itu sendiri pernah mengijazahkan do’a yang terkait dengan Rinjani.
“السر الرباني برنجاني الأنفناني”
“As-sirru ar-rabbānī bi Rinjānī al-Anfanānī”
Terjemahan : “Rahasia Tuhan bagi Rinjani Al-Anfenaany”
Dikutip dari tulisan Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, Q.H., M.A. Beliau menjelaskan maksud dari doa ini adalah sebagai berikit:
Pertama, Rinjani merupakan simbol ketinggian dan kemuliaan, sebagaimana dalam Al-Qur’an disebutkan wal-jibāla awtādā gunung sebagai penegak bumi. Ketinggian Rinjani tidak hanya fisik, tetapi juga mengandung pesan tentang keagungan ciptaan Tuhan. Kedua, Rinjani dimaknai sebagai representasi diri Maulanassyaikh, yang mencerminkan ketinggian ilmu dan spiritualitas, sekaligus sikap tawadhu’ (rendah hati). Penyebutan “Al-Anfenaany” dalam berbagai karya beliau menegaskan kedalaman makna tersebut. Ketiga, dalam setiap fenomena alam Rinjani, Maulanassyaikh selalu mengajak untuk melihat hikmah di baliknya. Letusan, abu, dan gejala alam bukan sekadar peristiwa, tetapi teguran dan pengingat agar manusia kembali sadar.
Oleh karena itu, Rinjani bukan sekadar objek fisik, tetapi ruang yang mengandung rahasia ketuhanan. Ia tidak cukup dipahami dengan logika, melainkan harus didekati dengan kesadaran dan adab. Merujuk penjelasan tersebut, paradoks Rinjani bukan sekadar persoalan antara konservasi dan pariwisata, tetapi lebih dalam dari itu, melainkan sebuah pertarungan yang menentukan masa depan Rinjani itu sendiri.
Jika tidak dikelola dengan baik, maka yang terjadi bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga akan kehilangan makna eksistensial dari Rinjani. Jika suatu saat keindahannya terlihat memudar dan berubah, itu dikarenakan manusia gagal menjaga ekosistem lingkungan dan memaknai warisan spiritual dari Rinjani itu sendiri.
Pada akhirnya, Rinjani tidak membutuhkan pengakuan manusia untuk menjadi mulia. Ia telah mulia sejak diciptakan. Justru manusialah yang membutuhkan Rinjani untuk belajar rendah hati, mengenal batas dirinya, dan kembali kepada Tuhannya. Namun demikian, Rinjani tetap membutuhkan penjagaan dan perlindungan dari manusia agar warisan ekologis dan makna spiritualnya tetap terjaga.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
