Konten dari Pengguna

Pariwisata: Sektor Andalan yang Harus Dibangun Lebih Kokoh

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Francissco Oktorio Susanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/search/?q=ekonomi%20indonesia

Pariwisata: Sektor Andalan yang Harus Dibangun Lebih Kokoh

1. Mengapa Pariwisata Menjadi Sektor Andalan?

Pariwisata bukan sekadar soal tempat liburan — ia adalah salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Negeri ini memiliki keistimewaan yang sulit ditandingi negara lain: lebih dari 17.000 pulau, pantai yang indah, pegunungan yang memukau, serta ratusan suku dan budaya yang hidup berdampingan. Semua ini adalah kekayaan yang tak bisa dibeli dengan uang.

Kontribusinya nyata:

Pendapatan Nasional: Kontribusi PDB pariwisata diproyeksikan mencapai 3,97%–4,80% atau setara Rp946–1.143 triliun pada tahun 2025. Sebelum pandemi, angka ini mencapai 5,5% dari PDB nasional.

Devisa: Pada tahun 2019, devisa pariwisata mencapai USD 16,91 miliar, meningkat pesat dibandingkan tahun 2011.

Lapangan Kerja: Sekitar 25,91 juta orang bergantung pada sektor ini — bukan hanya pemandu atau pengelola tempat wisata, melainkan pengrajin, pelaku kuliner, pengangkutan, akomodasi, hingga perdagangan kerajinan tangan.

Pemerataan Pembangunan: Pariwisata mengangkat daerah yang sebelumnya terasing — dari Danau Toba di Sumatera, Raja Ampat di Papua, hingga Labuan Bajo di Nusa Tenggara — menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Berbeda dengan sumber daya alam yang suatu hari akan habis, pariwisata — jika dikelola dengan baik — dapat terus memberi manfaat dari generasi ke generasi.

2. Potensi yang Belum Sepenuhnya Terjamah

Meski kaya, Indonesia belum sepenuhnya menjadi tujuan utama dunia. Jumlah wisatawan asing yang datang masih jauh di bawah negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Padahal kekayaan alam dan budaya kita tidak kalah menarik. Mengapa hal ini terjadi?

a. Infrastruktur dan Akses yang Belum Memadai

Banyak destinasi indah yang sulit dijangkau. Jalan menuju lokasi belum baik, koneksi penerbangan terbatas, harga tiket masih mahal, serta fasilitas umum — seperti kebersihan, keamanan, dan kenyamanan — belum seragam di seluruh daerah. Wisatawan enggan datang kembali jika perjalanan melelahkan dan biaya menjadi terlalu tinggi.

b. Kualitas Layanan dan SDM yang Belum Setara

Keramahan masyarakat Indonesia memang terkenal, tetapi keterampilan pelayanan, penguasaan bahasa asing, serta pemahaman tentang standar internasional masih beragam. Banyak daerah belum memiliki tenaga kerja yang terlatih, sehingga potensi wisata besar belum dikelola secara profesional.

c. Produk Wisata yang Masih Sederhana

Sebagian besar daya tarik masih berfokus pada "pemandangan indah" — wisata alam pasif. Padahal wisatawan masa kini mencari pengalaman lebih: budaya yang bisa dipelajari, keterampilan yang bisa dipraktikkan, kuliner khas, serta perjalanan yang bermakna dan berkelanjutan. Jika hanya melihat pemandangan, lama tinggal wisatawan menjadi singkat dan pengeluarannya terbatas.

d. Pemasaran dan Promosi yang Belum Terintegrasi

Banyak orang luar negeri belum mengetahui keindahan tempat-tempat di Indonesia selain Bali. Promosi sering terpecah-pecah, tidak membentuk satu citra yang kuat dan mudah diingat di mata dunia.

e. Ketergantungan pada Satu Tujuan Utama

Bali masih menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisatawan asing. Jika ada peristiwa yang memengaruhi Bali, seluruh sektor ikut terguncang. Padahal ada banyak destinasi lain yang siap dikembangkan, tetapi belum mendapat perhatian yang seimbang.

3. Tantangan yang Menguji Ketahanan

a. Kerentanan Terhadap Guncangan Luar

Pandemi menunjukkan betapa rapuhnya sektor ini — dalam sekejap, kunjungan berhenti jutaan orang dan jutaan orang kehilangan penghasilan. Ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta perubahan nilai tukar langsung memengaruhi kedatangan wisatawan.

b. Kerusakan Lingkungan dan Budaya

Peningkatan kunjungan tanpa pengelolaan yang ketat membawa risiko: sampah menumpuk di pantai, terumbu karang rusak, hutan terganggu, serta budaya lokal yang perlahan berubah demi selera pasar. Jika daya tarik utama rusak, wisatawan pun akan pergi.

c. Manfaat yang Belum Merata

Pendapatan besar sering kali dinikmati oleh pihak dari luar daerah — pemilik hotel besar, jaringan restoran, atau perusahaan transportasi — sementara warga lokal hanya mendapat bagian kecil sebagai tenaga kerja berupah rendah. Keterlibatan masyarakat setempat dalam perencanaan dan pengelolaan masih terbatas.

d. Kesenjangan Antar Daerah

Destinasi yang sudah dikenal berkembang pesat, sementara daerah baru masih kesulitan menarik wisatawan meskipun potensinya sama indahnya. Pembangunan belum merata, sehingga potensi yang tersebar di ribuan pulau belum dimanfaatkan secara maksimal.

4. Membangun Pariwisata yang Lebih Kokoh dan Berkelanjutan

Agar pariwisata benar-benar menjadi penyangga ekonomi yang kuat, diperlukan perubahan menyeluruh, bukan sekadar memperbaiki sebagian:

a. Membangun Konektivitas dan Sarana Pendukung

Jalan, bandara, pelabuhan, serta akses transportasi antar-destinasi harus diperbaiki dan diperluas. Harga perjalanan harus terjangkau, dan fasilitas umum — tempat istirahat, kebersihan, informasi — harus memenuhi standar yang sama di mana pun.

b. Mengembangkan Produk Wisata yang Beragam dan Bernilai Tinggi

Selain wisata alam, dikembangkanlah wisata budaya, kuliner, pendidikan, kesehatan, olahraga, serta ekowisata yang melibatkan warga lokal. Wisatawan tidak sekadar "datang dan melihat", tetapi tinggal lebih lama, berinteraksi, dan membawa pulang pengalaman yang bermakna. Sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas — Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Danau Toba, Labuan Bajo, Raja Ampat, dan lainnya — harus dikembangkan secara terpadu dan saling melengkapi, bukan bersaing.

c. Meningkatkan Kualitas SDM dan Pelayanan

Pendidikan dan pelatihan pariwisata harus menjangkau warga di daerah tujuan, bukan hanya di kota besar. Penguasaan bahasa, keramahan, pengetahuan tentang daerah sendiri, serta kemampuan mengelola usaha kecil harus ditanamkan agar warga lokal menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.

d. Menjaga Alam dan Budaya Sebagai Aset Utama

Pembangunan tidak boleh mengorbankan keindahan yang menjadi daya tarik. Aturan pembatasan jumlah kunjungan, pengelolaan sampah, pelestarian alam, serta perlindungan kearifan lokal harus ditegakkan. Wisata yang merusak bukanlah kemajuan — ia adalah kerugian jangka panjang.

e. Memastikan Manfaat Dirasakan Masyarakat Lokal

UMKM, pengrajin, petani, dan pelaku usaha kecil harus menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata. Bahan makanan, kerajinan, jasa pemandu, hingga penginapan skala rumah tangga diprioritaskan dari warga sekitar. Ketika warga sejahtera, mereka ikut menjaga dan melindungi destinasi tersebut.

f. Memperkuat Promosi dan Kerja Sama Nasional

Satu citra Indonesia yang kuat dibangun dan dipromosikan secara terpadu ke seluruh dunia. Kerja sama antar-kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dipererat agar tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri.

5. Kesimpulan

Pariwisata bukan sekadar sektor pelengkap — ia adalah salah satu harapan terbesar bangsa ini untuk menyejahterakan rakyat secara merata. Kekayaan alam dan budaya yang kita miliki adalah anugerah yang tidak dimiliki banyak negara. Namun anugerah itu tidak akan berguna jika tidak dirawat, dikelola, dan dikembangkan dengan serius.

Membangun pariwisata yang kokoh berarti membangun fondasi yang tidak mudah goyah: infrastruktur yang baik, layanan yang ramah dan profesional, lingkungan yang terjaga, serta masyarakat yang ikut menikmati hasilnya. Bukan untuk sesaat, tetapi untuk puluhan tahun ke depan.

Ketika setiap daerah memiliki tempat wisata yang dibanggakan, setiap keluarga merasakan manfaatnya, dan setiap wisatawan pulang dengan kenangan indah — saat itulah pariwisata benar-benar menjadi kekuatan yang mengangkat derajat bangsa. Dan itu tidak akan datang sendiri; ia harus dibangun bersama, mulai sekarang.