Paus Leo XIV Serukan Perlawanan kepada Kekerasan Seksual oleh Rohaniwan Katolik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Paus Leo merayakan Misa Minggu di padang rumput di Tempat Suci Bunda Maria dari Lourdes, sebagai bagian dari perjalanan apostolik empat harinya ke Prancis, di Lourdes, Prancis, Minggu (27/9/2026). Foto: Stephane Mahe/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Paus Leo merayakan Misa Minggu di padang rumput di Tempat Suci Bunda Maria dari Lourdes, sebagai bagian dari perjalanan apostolik empat harinya ke Prancis, di Lourdes, Prancis, Minggu (27/9/2026). Foto: Stephane Mahe/REUTERS

Paus Leo XIV mengunjungi tempat ziarah Lourdes, Prancis pada Minggu (27/9). Pada kunjungan ini, ia menyerukan soal perlawanan seksual yang dilakukan oleh para rohaniwan gereja.

Ini berkaitan dengan tudingan terhadap sejumlah rohaniwan Katolik, yang terlibat kasus kekerasan seksual dalam beberapa tahun terakhir.

"Kalian telah menghadapi dengan tekad wabah menyakitkan berupa kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh anggota rohaniwan atau dalam lingkungan gerejawi," kata Paus Leo XIV kepada mereka dalam pertemuan tertutup di kota ziarah Lourdes, menurut salinan pidatonya yang dirilis kepada media, dilansir AFP.

"Penting untuk terus bertekun di jalan yang telah kalian mulai, dengan mempertahankan kewaspadaan setinggi mungkin," ujarnya.

Setelah penyampaian pesan ini, Paus Leo XIV juga dijadwalkan akan bertemu secara tertutup dengan para korban pelecehan seksual di Lourdes pada Minggu sore. Pertemuan itu dilakukan setelah dia berjanji untuk meningkatkan upaya reformasi Gereja sebagai respons terhadap skandal kekerasan seksual yang terjadi secara global.

Mereka termasuk seorang mantan siswa berusia 80 tahun dari institusi Notre-Dame de Betharram, sebuah sekolah asrama di dekat Lourdes yang menjadi pusat berbagai tuduhan kekerasan fisik dan seksual selama beberapa dekade.

Sementara itu, sebuah penyelidikan pada 2021 menemukan bahwa sekitar 330 ribu orang menjadi korban kekerasan ketika masih di bawah umur yang dilakukan oleh anggota rohaniwan atau pekerja awam Gereja di Prancis selama 70 tahun.