Pekerja 35 Tahun: Terancam Pensiun Melarat?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayang-bayang masa tua yang suram kini mengintai banyak pekerja muda yang memasuki kepala tiga. Sebabnya, karena tidak punya perencanaan finansial yang matang. Saat memasuki usia 35 tahun—yang seharusnya menjadi momen pematangan finansial—tidak sedikit pekerja atau individu yang justru tanpa sadar sedang menyusun skenario masa tua yang horor. Kebiasaan finansial yang buruk sejak awal karier menumpuk menjadi beban berat, mengubah gerbang menuju usia dewasa menjadi ancaman krisis keuangan jangka panjang di masa depan.
Realita horor ini sering kali diawali dari jebakan 1) utang konsumtif demi menjaga gengsi sosial. Banyak pekerja berusia 35 tahun yang sibuk memamerkan aset semu—seperti mencicil gadget terbaru, membeli baju bermerek lewat paylater, hingga kredit mobil—padahal barang-barang tersebut pada hakikatnya masih milik bank. Kondisi ini diperparah oleh akumulasi 2) kebocoran halus gaya hidup harian, seperti kebiasaan membeli kopi susu harian, jajan online saat bosan, hingga berlangganan lima aplikasi streaming yang jarang ditonton, yang tanpa disadari menguras dana hingga Rp1.300.000 setiap bulannya.
Skenario finansial kian memburuk akibat keputusan 3) investasi yang didorong oleh rasa takut ketinggalan tren (FOMO). Tanpa pemahaman yang cukup dan melakukan riset mendalam (riset = 0), tidak sedikit pekerja menempatkan dana pada saham gorengan, crypto yang tidak jelas, atau bisnis teman yang berujung kerugian dan memicu kecemasan setiap malam, alih-alih membuat uang bekerja dengan tenang. Ketika krisis atau kondisi darurat datang, ketiadaan dana darurat pribadi terpaksa 4) mengandalkan pinjaman kepada saudara, padahal di usia 35 tahun setiap anggota keluarga sudah menanggung beban dapur masing-masing.
Dosa finansial yang paling fatal dalam skenario hari tua yang horor adalah sikap 5) menyepelekan persiapan dana pensiun. Banyak pekerja beranggapan bahwa tabungan masa tua baru perlu dipikirkan saat menginjak usia 50 tahun karena merasa masih muda. Padahal, laju inflasi yang terus berjalan tidak akan pernah menunggu kesiapan finansial seseorang, sehingga menunda perencanaan pensiun sejak dini secara langsung mengikis kepastian hidup layak di hari tua. Hidup sehari-hari terlihat keren tapi tidak punya tabungan untuk masa pensiun. Tidak punya dana pensiun seperti DPLK sebagai persiapan hari tua agar tetap berdaya di hari tua.
Fenomena pekerja di usia 35 tahunan ini banyak terjadi. Dan menjadi teguran reflektif bagi setiap pekerja untuk segera mengevaluasi dan merombak pola pengelolaan uang atau gaji sendiri. Usia 35 tahun harus dimaknai sebagai momentum kritis untuk menghapus kebiasaan finansial yang merugikan dan menggantinya dengan perencanaan yang realistis. Sebelum waktu terus berjalan dan penyesalan datang di hari tua, menghentikan kebocoran anggaran dan mulai membangun fondasi mandiri adalah satu-satunya cara agar masa depan tidak berujung menjadi skenario finansial yang menakutkan.
Pekerja di usia 35 tahun itu terkadang aneh. Masih merasa muda, tapi badan sering dikeluhkan Lelah. Masih punya banyak mimpi, tapi tagihan juga makin banyak. Masih pengen hidup enak tapi tidak mau memperbaiki kesalahan finansial yang jadi kebiasaan buruk. Bila begitu terus, pekerja di usia 35 tahun bisa jadi sedang menyusun skenario masa tua yang horror untuk dirinya sendiri. #EdukasiDPLK #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM
