Pembinaan Warga Binaan, Kesempatan Kedua Bagi Mereka yang Berbenah dan Bertaubat
Tulisan dari udik fajar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keadilan menuntut kita bekerja untuk memulihkan mereka yang terluka - Howard Zehr
Berbicara tentang pelanggar hukum dan kriminalitas, erat kaitannya dengan Pemasyarakatan. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022, tersurat bahwa Pemasyarakatan adalah subsistem peradilan pidana yang menyelenggarakan penegakan hukum serta pembinaan terhadap tahanan, anak, dan warga binaan. Pemasyarakatan kian tumbuh menjadi institusi strategis yang bukan hanya corong akhir peradilan pidana, melainkan juga wadah membina dan memberdayakan mereka yang salah jalan. Dalam kerangka tersebut, peran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) menjadi krusial, terutama dalam membangun atmosfer sistem Pemasyarakatan yang mengedepankan rehabilitatif dan reintegratif.
Tantangan yang dihadapi Pemasyarakatan dalam mewujudkan cita-cita transformasi tidaklah mudah. Tanpa disadari, masyarakat masih memandang Pemasyarakatan menggunakan kacamata stigma yang memungkiri bahwa penjahat layak mendapatkan kesempatan kedua dan bertaubat. Pemikiran masyarakat terpengaruh kental oleh penjara masa kolonial. Berbagai film tentang seramnya aura di dalam penjara turut menjelma ke dalam substansi kognitif yang tersedimentasi di alam bawah sadar masyarakat. Narapidana seolah-olah menjadi entitas yang tersemat dengan lekat seumur hidup. Mantan narapidana menjadi ras khusus yang harus menghadapi berbagai penolakan masyarakat. Sulit mendapatkan pekerjaan, sulit mendapatkan teman pergaulan, dan sulit mendapatkan penghidupan layak. Tak sedikit dari mereka yang akhirnya kembali pada lingkungan pertemanan lama yang menjerumuskan, maupun kembali melakukan tindak pidana karena tidak mempunyai banyak pilihan.
Kemenimipas menyadari hal tersebut seutuhnya. Melalui 15 Program Aksi, Pemasyarakatan dirancang untuk membangun program pembinaan warga binaan yang didasarkan pada keterampilan dan kemandirian. Warga Binaan didorong untuk aktif mengasah skill dan mengembangkan keahlian yang dimiliki. Mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, garmen, kerajinan tangan, tata boga, hingga kesenian menjadi bidang yang disiapkan untuk mewadahi potensi narapidana. Pemasyarakatan semakin mempertegas transformasinya sebagai institusi kewirausahaan mandiri yang menyediakan berbagai sarana dalam membangun keterampilan baru, bagi mereka yang salah jalan dan benar-benar ingin membenahi diri.
Pada Jumat (17/7/2026) misalnya, Lapas Perempuan Bandung sukses menyelenggarakan pagelaran Drama Kolosal “Ciung Wanara: Takdir yang Kembali”. Pagelaran tersebut mengangkat kisah tentang cerita legenda sunda Ciung Wanara, yang menjadi bagian dari program pembinaan melalui seni dan budaya. Dalam pertunjukannya, drama kolosal tersebut melibatkan kurang lebih 400 orang yang merupakan warga binaan, petugas pemasyarakatan, seniman, budayawan, hingga relawan. Semangatnya adalah setara, apapun statusnya semua berada dalam satu visi, menyukseskan pagelaran. Hal tersebut menjadi contoh bagaimana Pemasyarakatan ingin mendorong warga binaan untuk kembali ke jalan yang benar dan membaur seutuhnya kepada masyarakat pasca bebas nanti. Pagelaran kolosal tersebut bahkan sukses memecahkan Rekor MURI sebagai kolaborasi drama kolosal terbesar yang melibatkan warga binaan di lingkungan Pemasyarakatan Indonesia. Masih terdapat banyak kisah humanis lainnya yang merupakan buah transformasi pemasyarakatan yang lebih rehabilitatif dan reintegratif.
Hasil Nyata Pembinaan Warga Binaan: Insan yang Menata Ulang Kehidupannya
Pada suatu kesempatan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Warungkiara, saya menyempatkan diri berbincang dengan seorang warga binaan yang sedang bekerja di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Saya terkejut karena mendapati orang tersebut sudah selesai menjalani masa pidananya. Ia seharusnya sudah bisa bebas dan kembali ke lingkungan keluarganya. Akan tetapi ia memilih tetap bekerja di Lapas dan serius mempelajari ilmu pertanian. Terlebih, bekerja di SAE milik Lapas juga mendapatkan upah/premi. Hal tersebut mendorong mantan narapidana menjadikan Lapas sebagai tempat ternyaman dalam memperbaiki kehidupannya.
Hal serupa pernah saya temui di Lapas Nirbaya Nusakambangan. Lapas tersebut memiliki beragam sarana pemberdayaan warga binaan yang meliputi peternakan sapi, peternakan bebek, peternakan ayam, hingga pertanian singkong. Lapas tersebut juga membangun pabrik garmen yang memproduksi pakaian. Uniknya, terdapat instruktur garmen di tempat tersebut yang merupakan warga binaan. Awalnya, ia tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang garmen. Akan tetapi, ia tertarik dan mulai belajar dengan serius hingga kini mampu mengajarkan ilmunya kepada warga binaan yang lain. Bahkan, ia memiliki rencana pasca-bebas nanti untuk membuka usaha garmen miliknya sendiri.
Saya merasa bahwa manusia memang selalu memiliki kesempatan kedua untuk bertaubat dan berbenah diri. Dalam salah satu liputan saya dalam kegiatan Pelayanan Paspor dalam gelaran Car Free Day (CFD), saya menemukan salah satu stand yang memasarkan produk-produk warga binaan. Namun, yang unik pada saat itu adalah mantan warga binaan terjun langsung mempromosikan produknya sendiri. Jamaludin (45) merupakan mantan warga binaan kasus terorisme Lapas khusus Kelas IIA Gunung Sindur. Ia pada saat ini masih menjalani masa pembebasan bersyarat di bawah pengawasan Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Timur-Utara. Kini, ia sukses membangun 50 outlet cabang olahan ayam berlabel “Chicken Jepun”. Ia mengaku ide tersebut lahir pada saat menjalani pembinaan kemandirian berupa pengolahan nugget. Ilmu selama berada di Lapas tersebut ia kembangkan hingga sukses memberdayakan 23 orang sebagai karyawannya saat ini.
Melepaskan stigma negatif dalam kehidupan narapidana memang tidaklah mudah. Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa jika mata dibalas mata, maka seluruh dunia akan buta. Kejahatan memang tidak bisa dibenarkan dan korban akan selalu berbekas luka yang mungkin saja tidak akan pernah sembuh. Maka dari itu, pembinaan yang menyadarkan pelaku, mendorong pelaku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi merupakan balasan terbaik.
#LombaASNmenulis2026 #ASNMenulis #ASNation

