Pemulihan Trauma Anak Korban Kekerasan Daycare Butuh Deteksi Dini dan Peran Ortu
ยทwaktu baca 3 menit

Dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta mengejutkan puluhan orang tua yang menitipkan buah hati mereka di tempat penitipan yang berlokasi di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta itu. Setelah ramai-ramai mendatangi Polresta Yogyakarta pada Sabtu (25/4), para orang tua kini menghadapi pertanyaan yang tidak mudah dijawab: bagaimana mengetahui apa yang sesungguhnya dialami anak, ketika anak itu sendiri belum bisa mengatakannya?
Ketua Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, mengatakan bahwa ketidakmampuan anak mengungkapkan pengalaman traumatis lewat kata-kata bukan berarti tidak ada tanda yang bisa dibaca. Orang tua, menurutnya, perlu belajar mengenali bahasa lain yang dipakai tubuh dan perilaku anak.
Menurut Andhita, salah satu tanda yang paling sering muncul adalah regresi, yakni kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai anak.
"Misalnya anak yang sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, atau yang sebelumnya lancar berbicara menjadi kesulitan berkomunikasi," kata Andhita, Kamis (30/4).
Selain itu, gangguan tidur seperti mimpi buruk, teriak saat tidur, hingga kesulitan beristirahat juga patut diwaspadai. Begitu pula perilaku menarik diri, agresi, atau pengulangan tema kekerasan dalam permainan. Reaksi ketakutan berlebihan saat berpisah dengan orang tua atau pengasuh terdekat di rumah juga menjadi indikator penting.
"Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional," tegas Andhita.
Namun, meski anak tak menunjukkan gejala trauma, orang tua bisa tetap membantu proses pemulihan anak. Andhita menganjurkan pendekatan melalui media ekspresi non-verbal. Bukan dengan mengajukan pertanyaan langsung, melainkan dengan mengajak anak menggambar, bermain peran dengan boneka, atau bercerita lewat permainan.
"Anak-anak belum tentu bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, jadi kita bantu lewat cara lain. Dari gambar, misalnya, kita bisa melihat indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap atau merah yang dominan," jelasnya.
Di sinilah respons orang tua menjadi krusial. Andhita mengingatkan agar orang tua memvalidasi emosi anak alih-alih meremehkannya, sebab hal itu justru bisa memperburuk keadaan.
"Jangan bilang 'jangan lebay' atau 'tidak apa-apa'. Sebaliknya, akui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan 'kamu takut ya, tidak nyaman ya, tidak apa-apa, ada ibu di sini'. Jadi pola pikir orang tua digeser, bukan kenapa anak ini jadi susah diatur, rewel, tapi menjadi apa yang sudah terjadi pada anak ini, kok begini," ujarnya.
Kehadiran fisik pun tidak kalah penting. Pelukan, usapan, dan kehangatan orang tua bekerja lebih dalam dari yang terlihat. Dalam teori kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman menjadi kunci regulasi emosi anak.
Sementara itu, untuk membantu anak keluar dari rasa tidak berdaya akibat pengalaman kekerasan, Andhita menyarankan hal-hal sederhana seperti meminta anak memilih pakaian atau makanan yang diinginkannya sebagai cara memulihkan kepercayaan diri mereka.
Dampak yang ditimbulkan memang tidak selalu langsung terlihat. Dalam jangka pendek, perubahan perilaku dan emosi menjadi gejala yang paling tampak. Namun, Andhita mengingatkan bahwa dampak jangka panjang bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk gangguan psikologis.
"Trauma itu bukan tentang melupakan kejadian, tapi bagaimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa yang terjadi dulu itu tidak benar, dan yang benar adalah perlakuan aman yang dia terima sekarang," jelasnya.
Proses ini tidak bisa instan. Dan di tengah panjangnya jalan pemulihan anak, Andhita mengingatkan bahwa orang tua pun perlu dijaga kondisi mentalnya. UNISA Yogyakarta membuka layanan pendampingan tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua yang menanggung tekanan mental, rasa bersalah, hingga stres akibat kejadian ini.
"Kita tidak perlu saling menyalahkan. Orang tua juga butuh ruang aman. Jika mental mereka sudah jatuh, akan sulit mendampingi anak. Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri, tapi bagaimana orang tua pulih dan siap mendampingi anak agar bisa kembali percaya diri dan merasa berdaya," pungkasnya.
