Pendidikan Khas Kejogjaan Diluncurkan Mei, Ajarkan Cara Permisi-Berterima Kasih
·waktu baca 6 menit

Pendidikan di Yogyakarta bersiap memasuki arah baru. Bukan sekadar soal capaian akademik, tetapi bagaimana siswa bersikap, berbicara, dan membawa dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai Mei mendatang, Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) akan diluncurkan sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis budaya di semua jenjang pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dari PAUD hingga perguruan tinggi.
”Akan diluncurkan 4 Mei oleh Bapak Gubernur (Sultan HB X). Akan diterapkan di semua lembaga pendidikan di DIY dari tingkat PAUD, sekolah dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi,” ujar Ketua Dewan Pendidikan DIY sebagai inisiator PKJ, Sutrisna Wibawa, saat dihubungi Pandangan Jogja, Kamis (23/4).
Sutrisna Wibawa menjelaskan bahwa pendekatan yang ditawarkan dalam PKJ tidak dimulai dari konsep besar yang abstrak, melainkan dari hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian.
Cara meminta izin, mengucapkan terima kasih, hingga bagaimana menghormati orang lain menjadi pintu masuk. Hal-hal sederhana itu justru dipandang sebagai fondasi utama pembentukan karakter, bukan sekadar etika tambahan yang diajarkan sesekali.
”Dalam PKJ, hal itu diajarkan dalam konsep “Ngajeni”, yaitu Ngapurancang, Jempol, Nuwun Sewu/Ndherek Langkung, Matur Nuwun, Mangga, dan Injih,” jelasnya.
Meski baru akan diluncurkan bulan depan, namun PKJ sudah diujicobakan di hampir 100 lebih lembaga pendidikan di DIY, dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi.
”Ada empat buku tentang PKJ yang sudah kami buat sebagai pedoman penerapan PKJ di sekolah maupun kampus, dan semua buku ini sudah ada e-booknya dan bisa diunduh gratis,” ujar Sutrisna Wibawa.
3 Filosofi, 5 Nilai
Menurut Sutrisna, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi. Ia harus tumbuh melalui pembiasaan. Dalam PKJ, siswa tidak hanya diperkenalkan pada nilai, tetapi diajak untuk menerima, menanggapi, hingga menginternalisasikannya dalam perilaku sehari-hari.
Ada tiga filosofi yang menjadi jiwa Pendidikan Khas Kejogjaan, yakni Hamemayu-hayuning Bawana yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, Sangkan-paraning Dumadi yang mengajak manusia memahami asal-usul dan tujuan hidupnya, dan Manunggaling Kawula-Gusti.
Tiga filosofi ini lalu dijabarkan menjadi lima nilai utama, yakni Hamengku, Hamangku Hamengkoni; Mangasah-mingising budi; Memasuh-malaning bumi; Sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh; Pamenthangin gandhewa, pamenthenging cipta; dan Golong gilig.
”PKJ berparadigma karyenak tyasaning sasama, yang berarti harmoni dengan tujuan membentuk jalma kang utama, yakni manusia utama, insan-insan yang cerdas namun memiliki kepribadian budaya Ngayogyakarta Hadiningrat,” jelas Sutrisna Wibawa.
PKJ juga tidak hadir sebagai mata pelajaran baru yang berdiri sendiri. Ia dirancang sebagai penguat dari sistem pendidikan yang sudah ada.
“Nantinya PKJ ini bisa diajarkan melalui mata pelajaran intrakurikuler maupun ekstrakurikuler,” jelasnya.
Belajar dari Jepang dan China
Sutrisna Wibawa menjelaskan bahwa penyusunan PKJ juga belajar dari praktik di sejumlah negara maju seperti Jepang dan China. Di dua negara tersebut, pendidikan tentang kearifan lokal menurutnya sudah diterapkan sejak usia dini sehingga membentuk manusia-manusia yang tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki karakter yang kuat.
”Kita lihat di Jepang dan China, mereka kan luar biasa budaya menghormati orang lainnya misalnya. Jadi pendidikan mereka tidak hanya menciptakan manusia yang cerdas, begitu juga dengan Pendidikan Khas Kejogjaan ini,” ujar Sutrisna Wibawa.
Nantinya, kurikulum nasional tetap berjalan, namun akan diperkaya dengan konteks budaya Yogyakarta. Dalam panduan PKJ disebutkan bahwa pendidikan di DIY merupakan “Pendidikan Nasional Plus”, yakni pendidikan nasional yang dipadukan dengan nilai-nilai budaya lokal.
Ada banyak cara menerapkan PKJ di sekolah, misalnya dengan menerapkan konsep “Ngajeni”, memasang petuah-petuah dan atribut tentang Jogja di ruang sekolah, hingga pembelajaran luar kelas seperti tur di Sumbu Filosofi Jogja.
Dengan cara ini, proses belajar tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi.
“Harapannya, siapa pun yang pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membawa nilai dan cara hidup yang khas. Nilai-nilai itu diharapkan tetap melekat, bahkan ketika mereka berada di luar Yogyakarta,” jelasnya.
Penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan di Sekolah
Tahun ini, PKJ sudah mulai diujicobakan di 100 lembaga pendidikan, salah satunya di SD Negeri Jetisharjo, Kota Yogyakarta, yang memanfaatkan ruang kosong menjadi ruangan berisi wayang dan kelirnya, dolanan anak-anak, hingga kerajinan topeng yang mendukung keberlangsungan PKJ.
Setiap hari sebelum pembelajaran dimulai, para siswa akan diajarkan tembang-tembang khas Jogja hingga mengenal dolanan anak-anak.
Koordinator PKJ SD Negeri Jetisharjo, Ardika Adiputra Ramadhansyah, mengatakan bahwa PKJ hampir sama dengan Bahasa Jawa atau muatan lokal mata pelajaran reguler, namun PKJ menekankan nilai filosofi dari ilmu pengetahuan itu sendiri.
“Di PKJ tidak ada aksara jawa, di kurikulum (muatan lokal atau mapel bahasa jawa) ada. Di PKJ tidak ada wayang, tapi yang diajarkan filosofi wayangnya,” kata Ardika ditemui Pandangan Jogja di kantornya, Jumat (24/4).
Siswa juga diajarkan sopan santun dalam bertindak seperti, membungkukkan badan jika melewati orang yang lebih tua, menunjuk sesuatu menggunakan jempol, hingga menggunakan bahasa krama alus.
Salah satu guru yang telah menerapkan PKJ ini, Sri Anjarningsih, mengatakan PKJ menjadi sarana pembelajaran menyenangkan. Selama 3 tahun lebih PKJ ini diterapkan, adab para siswa kian berubah.
“Sekarang anak-anak kalau jalan mendahului itu sungkan. Kalau ada guru atau orang yang lebih tua duduk, mau lari mereka ditahan dulu, mereka menunduk dulu. Kemudian kalau ada tamu meskipun dia enggak kenal itu salam, salim,” katanya.
Senada dengan SD Negeri Jetisharjo, Kepala TK Negeri 2 Yogyakarta, Kitri Sawitri, mengatakan bahwa PKJ ini selalu diajarkan kepada siswa setiap 30 menit sebelum pembelajaran reguler dimulai.
Para siswa mendapatkan materi mengenai lagu-lagu Jawa, dolanan (mainan), hingga seputar adat istiadat Yogyakarta. Rencananya, ia juga akan kembali mengaktifkan pembelajaran menabuh gamelan.
“Setiap 30 menit pra pembelajaran itu kota ada pembelajaran outdoor, khas Kejogjaan kita masukkan di situ. Permainan seperti cublak-cublak suweng kita ajarkan. Setiap jumat kita harus menggunakan bahasa Jawa,” kata Kitri ditemui di kantornya, Jumat (24/4).
“Gamelan kita sudah punya, insyaallah tahun depan akan kita kenalkan lagi untuk nabuh,” ujarnya.
Apa Indikator Keberhasilan Pendidikan Khas Kejogjaan?
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Disdikpora DIY, R Suci Rohmadi, menjelaskan bahwa ada beberapa indikator keberhasilan PKJ, indikator pertama terkait perilaku siswa.
”Ketika perilaku siswanya nanti menjadi lebih santun, etikanya bagus, kemudian terjadi penurunan kasus bullying, tidak ada kekerasan yang terjadi di satuan pendidikan, itu satu hal yang menunjukkan bahwa PKJ ini sukses,” ujar Suci Rohmadi dalam diskusi Rembag Kaistimewan yang digelar Paniradya Kaistimewan, Jumat (24/4).
Indikator kedua adalah tentang terbentuknya lingkungan sekolah yang berbudaya sesuai dengan yang diajarkan dalam PKJ.
”Indikator lingkungan sekolah adalah kolaborasi. PKJ tidak mungkin akan sukses kalau tidak ada kolaborasi antara sekolah, masyarakat, orang tua, tokoh masyarakat, dan yang lainnya. Semua harus saling mendukung, tidak hanya bisa diserahkan kepada satuan pendidikan saja,” ujar Suci Rohmadi.
Pelaksanaan Pendidikan Khas Kejogjaan selama ini didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY.
Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY, Nugraha Wahyu Winarna, menjelaskan bahwa dukungan Danais untuk PKJ sudah dimulai sejak 2022 untuk menyusun empat buku tentang PKJ.
”Secara berturut-turut buku itu juga dicetak dari Dana Keistimewaan. Saat ini semua sekolah di DIY sudah memiliki buku Pendidikan Khas Kejogjaan,” ujar Nugraha
Selain pembuatan buku, berbagai pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) juga telah dilaksanakan untuk para guru dari tingkat dasar hingga menengah atas.
“Dan launching yang Insyaallah akan dilaksanakan pada 4 Mei juga dari Dana Keistimewaan akan ikut support. Dan selanjutnya nanti kami juga akan selalu melaksanakan monev, kita evaluasi, kita monitoring, kebutuhan apa yang masih dibuhkan,” pungkasnya.
