Pengaruh Alkohol dan Risiko Keselamatan bagi Kalangan Remaja Harus Diperhatikan

seorang siswi SMA Trinitas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Valensha Callista Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini di media sosial sering diramaikan dengan berita dan video yang memperlihatkan perilaku atau aksi yang tidak biasa dan berbahaya di tempat umum. Salah satu kasus yang sempat viral adalah kasus seorang pria yang nekat bergelantungan di gerbong KRL. Ada juga kasus di mana seorang pria menganiaya teman minumnya karena merasa tersinggung saat dalam kondisi mabuk, serta ada kasus seorang pemuda yang tertidur pulas di atas jalan tol setelah mengkonsumsi minuman keras. Beberapa peristiwa ini dapat menimbulkan kekhawatiran besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar karena secara langsung dapat membahayakan keselamatan, baik keselamatan pelaku sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Kasus-kasus tersebut bukanlah kejadian yang terjadi secara kebetulan begitu saja. Jika dicari tau lebih tau lebih jauh, perilaku-perilaku berbahaya ini umumnya dipengaruhi oleh satu faktor yang sama, yaitu konsumsi alkohol secara berlebihan. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat dan remaja untuk memahami bagaimana cara alkohol dapat mengubah perilaku seseorang hingga membahayakan keselamatan dirinya sendiri maupun orang lain, khususnya di ruang publik dan transportasi umum. Tindakan atau aksi berbahaya yang dilakukan seseorang di tempat umum sesungguhnya tidak pernah bisa dibenarkan, apalagi mempertaruhkan nyawa. Kasus pria yang bergelantungan di luar gerbong KRL, misalnya direkam dan disebarkan melalui akun Instagram @jakut.info, dan menjadi bukti nyata bahwa perilaku nekat seperti ini benar-benar terjadi, bukan sekadar masalah di media sosial.
Fenomena ini juga didukung oleh data dari penelitian ilmiah. Sebuah penelitian yang mencakup 1.000 mahasiswa menemukan bahwa lebih dari dua pertiga responden sekitar 66,4%, mengatakan pernah mengalami gangguan kesadaran akibat blackout yang dipicu oleh pengaruh alkohol. Fakta ini diperkuat oleh pandangan ahli dari British Journal of Clinical Pharmacology. Prof. Dag Jacobsen dan Dr. Knut Erik Hovda menyatakan bahwa etanol memiliki efek toksik yang dapat membahayakan sel saraf apabila konsumsi alkohol dilakukan secara berulang dan berlebihan. Dapat dikatakan bahwa kerusakan yang terjadi bukan hanya bersifat sesaat, melainkan dapat berdampak pada fungsi otak dalam jangka panjang.
Dampak alkohol bagi keselamatan juga terbukti dan terdapat dalam skala global. Menurut Laporan dari Status Global mengenai Alkohol dan Kesehatan tahun 2011 yang dikeluarkan oleh WHO, lebih dari 320.000 orang berusia 15–29 tahun meninggal setiap tahunnya karena berbagai penyebab yang terkait dengan alkohol. Selain itu, di Amerika Serikat, alkohol juga terbukti bertanggung jawab atas sekitar 100.000 kasus kanker dan 20.000 kematian akibat kanker setiap tahunnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahaya alkohol tidak hanya mengakibatkan kecelakaan atau tindakan berbahaya sesaat, tetapi juga risiko kesehatan jangka panjang yang serius.
Masalah ini tidak hanya menyangkut paut dunia global saja tetapi dalam studi kasus di Indonesia juga. Penelitian yang dilakukan kepada korban yang meninggal akibat pengaruh alkohol yang diotopsi di RSUP oleh Dr. Sardjito, Yogyakarta, pada tahun 2013–2018 menemukan bahwa dari seluruh korban, sebanyak 91,89% berjenis kelamin laki-laki, dan kelompok usia terbanyak yang meninggal justru berada pada remaja akhir, yaitu usia 17–25 tahun, dengan 35 kasus atau 47,30% dari total korban. Hasil penelitian yang sama juga ditemukan dalam studi kasus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado, periode 2014–2017, mencatat 17 kasus kematian akibat dari efek alkohol, dengan penyebab kematian terbanyak berupa tindak kekerasan menggunakan senjata tajam (sebanyak 88,2% kasus) dan seluruh korban berjenis kelamin laki-laki. Kedua studi kasus ini dapat memperkuat fakta bahwa remaja dan dewasa muda di Indonesia merupakan kelompok yang paling rentan dan diwaspadai menjadi korban, baik karena kecelakaan maupun kekerasan yang dipicu oleh pengaruh alkohol, sehingga harus ditegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar isu yang terjadi di luar negeri, tapi juga ancaman nyata yang mendesak keselamatan generasi muda Indonesia sendiri.
Kasus dan permasalahan ini juga terlihat dalam data di Indonesia. Sebuah studi kasus di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, menganalisis korban meninggal akibat kecelakaan sepeda motor, dan menemukan bahwa dari kasus-kasus yang dinyatakan positif mengandung alkohol, kelompok usia remaja akhir mencapai hingga 75% dari total kasus tersebut. Hasil penelitian yang serupa juga terlihat dalam studi lain di wilayah Yogyakarta periode 2013–2018 mengenai kematian akibat pengaruh alkohol, di mana kelompok usia remaja akhir (17–25 tahun) menjadi kelompok dengan jumlah kematian terbanyak, yaitu 35 dari total kasus yang tercatat, atau sekitar 47,3%. Data-data ini menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda di Indonesia merupakan kelompok yang paling diwaspadai menjadi korban akibat kombinasi antara alkohol dan aktivitas di jalan maupun transportasi.
Secara ilmiah, alkohol terbukti dapat mempengaruhi bagian otak yang mengatur perilaku. Thomas Denson dari School of Psychology, University of New South Wales (UNSW), dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa alkohol menurunkan fungsi pada bagian prefrontal cortex otak, yaitu daerah yang berperan mengatur perilaku dan agresivitas seseorang. Penurunan fungsi inilah yang menjadi alasan mengapa seseorang yang mabuk cenderung lebih mudah bertindak nekat, agresif, bahkan membahayakan diri sendiri dan orang lain tanpa mempertimbangkan risikonya.
Menjaga etika dan ucapan sangat penting agar tidak merugikan atau menyinggung pihak lain di mana pun berada. Namun, ketika kesadaran seseorang sedang dipengaruhi oleh alkohol, kemampuan untuk menjaga etika tersebut ikut menurun. Oleh sebab itu, setiap orang yang melakukan aksi berbahaya di tempat umum sudah seharusnya diberikan sanksi tegas untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bersama. Selain itu, konsumsi alkohol harus dikurangi agar tidak mempengaruhi kesadaran dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Masalah ini menjadi bukti pentingnya pencegahan sejak dini. Aturan mengenai konsumsi alkohol di usia dini perlu diperketat agar mengurangi jumlah konsumsi alkohol pada remaja, mengingat kelompok usia muda merupakan salah satu yang paling diwaspadai terhadap dampak buruk alkohol, yang ditunjukkan oleh data kematian usia 15–29 tahun di atas. Selain itu masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi yang memadai tentang bahaya alkohol terhadap lingkungan dan kesehatan sejak usia dini, sehingga kesadaran untuk menghindari konsumsi berlebihan dapat tertanam sebelum kebiasaan tersebut terlanjur terbentuk.
Berdasarkan berbagai kasus dan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa berbagai tindakan berbahaya yang terjadi di tempat umum termasuk di lingkungan transportasi umum sering kali dipicu oleh pengaruh konsumsi alkohol dalam jumlah besar. Apabila kebiasaan ini terus dibiarkan maka dampaknya bukan hanya membahayakan keselamatan secara langsung, tetapi juga dapat merusak kesehatan secara sehingga berujung pada kematian. Oleh karena itu upaya pencegahan risiko ini bisa dimulai dari kesadaran diri sendiri maupun masyarakat secara luas untuk mengurangi konsumsi alkohol secara berlebihan. Pentingnya edukasi tentang bahaya alkohol sejak usia dini, disertai dengan penegakan aturan yang tegas diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya bagi generasi muda, sehingga kejadian-kejadian membahayakan seperti yang telah dibahas dapat dicegah sedini mungkin.
