Perdamaian Sebagai Sains

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelakar di Nuremberg
Navi Pillay baru saja diumumkan sebagai peraih Nobel Perdamaian 2026. Ia berdiri di Nuremberg dan disambut tepuk tangan panjang. Lalu ia bercanda. Kalau tepuk tangannya lebih meriah lagi, katanya, mungkin hadiah ini akan ia bagi dengan Trump.
Hadirin tertawa. Semua paham konteksnya. Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump terang-terangan menginginkan Nobel Perdamaian. Peraih Nobel Perdamaian 2025, Maria Corina Machado, bahkan menyerahkan medalinya kepada Trump.
Pillay kini berusia 85 tahun. Ia pernah memimpin pengadilan genosida Rwanda. Tahun lalu ia memimpin komisi penyelidikan PBB yang menyimpulkan genosida terjadi di Gaza. Menurut laporan detikcom, ia kini hakim Mahkamah Internasional dalam perkara genosida Myanmar.
Tempat kelakar itu juga bermakna. Di Nuremberg, para penjahat perang Nazi diadili pada 1945. Di kota itulah hukum pidana internasional modern lahir.
Kelakar itu lucu. Tapi ada pertanyaan serius di baliknya. Siapa yang layak disebut pembawa damai? Orang yang paling keras mengklaimnya, atau orang yang paling tekun membuktikannya?
Klaim atau Bukti
Ada dua cara memandang perdamaian. Cara pertama memperlakukannya sebagai klaim. Seorang pemimpin menyatakan perang selesai. Ia menandatangani dokumen, berfoto, lalu menyebut dirinya juru damai.
Cara kedua memperlakukan perdamaian sebagai hipotesis. Apakah kekerasan benar-benar turun? Berapa korban setelah gencatan senjata? Apakah damainya bertahan lima tahun, atau runtuh dalam lima bulan?
Karl Popper tentu memilih cara kedua. Klaim ilmiah harus bisa diuji, bahkan bisa dibantah. Perdamaian pun begitu. Ia layak disebut damai karena lolos pengujian data, tidak karena diumumkan dengan lantang.
Pillay sendiri berpikir dengan cara kedua. Saat mendengar kabar Nobel, ia mengira itu lelucon. Sebagai pengacara dan hakim, katanya, ia ingin memastikan dulu. Itu refleks seorang ilmuwan. Klaim diverifikasi sebelum dipercaya.
Richardson Menghitung Perang
Gagasan perdamaian sebagai sains punya perintis yang jarang disebut. Namanya Lewis Fry Richardson (1881–1953). Ia fisikawan dan ahli meteorologi Inggris. Ia juga seorang Quaker yang menolak memanggul senjata. Pada Perang Dunia I ia menjadi sopir ambulans di Prancis.
Di sela tugas itu ia mencoba meramal cuaca dengan persamaan diferensial. Hitungannya meleset. Tapi idenya kelak menjadi dasar prakiraan cuaca numerik modern. Setelah perang, ia memakai alat yang sama untuk soal yang lebih pahit: mengapa bangsa-bangsa berperang.
Richardson membuat model perlombaan senjata. Belanja militer satu negara naik karena takut pada belanja negara lain. Ia menuliskannya dalam dua persamaan:
dx/dt = a·y − m·x + g
dy/dt = b·x − n·y + h
Artinya, x dan y adalah belanja senjata dua negara. Suku a·y adalah rasa takut pada lawan. Suku m·x adalah rem karena biaya. Suku g adalah dendam lama yang tetap ada apa pun yang dilakukan lawan. Kalau rasa takut lebih kuat daripada rem, sistemnya tidak stabil. Belanja senjata terus naik sampai perang pecah.
Richardson juga mengumpulkan data ratusan "pertikaian mematikan" dari 1820 sampai 1945. Hasilnya terbit setelah ia wafat, dalam Statistics of Deadly Quarrels (1960). Perang kecil jumlahnya sangat banyak. Perang besar sedikit. Sebarannya mengikuti hukum pangkat, mirip sebaran gempa bumi. Saat pecahnya perang pun tampak acak, seperti proses Poisson. Perang ternyata punya pola yang bisa dipelajari.
Damai Negatif, Damai Positif
Pada 1950-an, gagasan Richardson menemukan rumah. Kenneth Boulding, ekonom Quaker, ikut mendirikan Journal of Conflict Resolution di Universitas Michigan pada 1957. Di Oslo, Johan Galtung mendirikan Peace Research Institute Oslo (PRIO) pada 1959. Lima tahun kemudian ia meluncurkan Journal of Peace Research.
Galtung memberi pembedaan yang sangat berguna. Damai negatif adalah tidak adanya perang. Damai positif adalah hadirnya keadilan. Di antara keduanya ada kekerasan struktural. Contohnya anak yang mati karena gizi buruk di negeri yang lumbungnya penuh. Tak ada peluru, tapi ada korban.
Pembedaan ini membantu membaca kelakar Pillay. Gencatan senjata bisa menghasilkan damai negatif dalam semalam. Damai positif butuh hukum, lembaga, dan waktu panjang. Pillay menghabiskan hidupnya di jalur kedua.
Kini ilmu perdamaian punya laboratorium data. Uppsala Conflict Data Program mencatat konflik bersenjata di seluruh dunia sejak 1946. Proyek Correlates of War mencatat perang sejak 1816. Dengan data seperti ini, klaim "saya sudah menghentikan perang" bisa diuji. Caranya mirip menguji klaim obat lewat uji klinis.
Apa yang Sudah Ditemukan
Beberapa temuan sudah cukup kokoh. Erica Chenoweth dan Maria Stephan meneliti lebih dari 300 kampanye perlawanan antara 1900 dan 2006. Kampanye tanpa kekerasan berhasil sekitar 53 persen. Kampanye bersenjata hanya sekitar 26 persen. Jalan damai ternyata juga jalan yang lebih efektif.
Ada pula hipotesis perdamaian demokratis. Negara demokrasi jarang berperang satu sama lain. Data banyak mendukungnya. Penyebabnya masih diperdebatkan.
Tapi sains juga mengajarkan rendah hati. Steven Pinker berpendapat kekerasan dunia menurun dalam jangka panjang. Pasquale Cirillo dan Nassim Taleb (2016) membantahnya. Korban perang mengikuti distribusi berekor gemuk. Satu perang raksasa bisa menghapus tren damai puluhan tahun.
Richardson sudah memberi isyarat ke arah itu. Masa damai yang panjang belum tentu bukti dunia makin damai. Bisa jadi kita hanya belum tiba di ekor kurva. Ini peringatan bagi siapa pun yang buru-buru mengklaim damai. Data beberapa bulan terlalu pendek untuk membuktikan apa pun.
Suara dari Timur
Ilmu perdamaian sering dikisahkan sebagai cerita Barat. Padahal akarnya lebih tua dan lebih luas. Galtung sendiri banyak belajar dari Gandhi. Autobiografi Gandhi berjudul The Story of My Experiments with Truth. Gandhi memperlakukan antikekerasan sebagai eksperimen yang diuji dalam hidup nyata.
Di Tiongkok abad ke-5 SM, Mozi menulis bab "Menentang Perang Agresi". Argumennya mirip akuntansi. Hitung biaya, korban, dan ladang yang terbengkalai. Bandingkan dengan hasilnya. Perang agresi selalu rugi. Pengikut Mozi juga ahli teknik pertahanan benteng. Mereka datang membantu kota kecil yang diserang.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah (1377) membaca naik-turunnya dinasti sebagai pola yang bisa dipelajari. Ia menamai ilmunya 'ilm al-'umran, ilmu tentang peradaban. Salah satu judul babnya tegas: kezaliman menandai runtuhnya peradaban. Ini ilmu sosial berbasis pengamatan, enam abad sebelum Galtung.
Dalam Islam, kata salam dan Islam berbagi akar yang sama. As-Salam adalah salah satu nama Allah. Tapi Al-Qur'an mengikat damai dengan keadilan. "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa" (QS Al-Ma'idah: 8). Di titik ini, tradisi Islam dan damai positif Galtung bertemu.
Berani Menyebut Fakta
Kembali ke Pillay. Ia mengaku heran ketika laporannya tentang Gaza dipuji sebagai keberanian. Mengapa orang perlu berani untuk menyampaikan kebenaran, tanyanya.
Pertanyaan itu menyentuh inti sains. Sains berdiri di atas kesediaan melaporkan data apa adanya. Termasuk data yang tidak disukai pihak berkuasa. Ilmuwan yang memoles data demi menyenangkan penyandang dana sedang meninggalkan sains. Juru damai yang menutupi kejahatan perang juga sedang meninggalkan perdamaian.
Komite Nobel menilai Pillay berjasa memastikan kejahatan perang, kejahatan kemanusiaan, dan genosida diadili. Itulah damai positif dalam praktik. Lambat, sunyi, dan jarang masuk foto.
Di situlah kelakar Pillay menemukan maknanya. Nobel bisa dibagi sebagai lelucon. Perdamaian tidak bisa. Ia hanya bisa diuji, hari demi hari, oleh data dan oleh nurani.
Saya menyebut perpaduan ini Rasio Romantik. Angka yang jujur tentang korban. Lalu rasa yang peduli pada setiap nyawa di balik angka itu. Perdamaian sebagai sains butuh keduanya. (**)
Sumber
* Novi Christiastuti. "Kelakar Hakim Afsel Dapat Nobel Perdamaian: Mungkin Saya Bagi ke Trump." detikNews, 9 Oktober 2026. https://news.detik.com/internasional/d-8700047/kelakar-hakim-afsel-dapat-nobel-perdamaian-mungkin-saya-bagi-ke-trump
* Richardson, L. F. (1960). Statistics of Deadly Quarrels. Pittsburgh: Boxwood Press.
* Galtung, J. (1969). Violence, Peace, and Peace Research. Journal of Peace Research, 6(3), 167–191.
* Chenoweth, E., & Stephan, M. J. (2011). Why Civil Resistance Works. New York: Columbia University Press.
* Cirillo, P., & Taleb, N. N. (2016). On the statistical properties and tail risk of violent conflicts. Physica A, 452, 29–45.
* Ibnu Khaldun. Muqaddimah.
