Perempuan dan Anak Muda Gayo: Wajah Baru Kopi Nusantara
Tulisan dari Ratna Kusuma Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kopi arabika Gayo sudah lama akrab di lidah penikmat kopi Eropa dan Amerika. Karakternya kuat, tubuhnya penuh, keasamannya matang, dan aromanya bertahan lama. Tetapi yang biasanya sampai ke telinga dunia hanya soal rasa. Tangan yang memetik dari pagi buta, kaki yang menuruni lereng terjal, kepala keluarga yang berhitung untung rugi di ujung musim, semua itu jarang masuk cerita. Padahal, kalau kita amati lebih dekat, justru di sanalah letak pergeseran yang sedang terjadi di dataran tinggi Gayo hari ini. Ada dua kelompok yang mulai naik ke permukaan, yaitu perempuan dan anak-anak muda.
Sekilas, angka produksi Gayo terlihat baik-baik saja. Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah (2022) mencatat panen sekitar 37.008 ton dari lahan seluas 50.034 hektare, dengan 38.189 kepala keluarga yang menyandarkan hidup pada tanaman ini. Namun angka besar kerap menutupi hal-hal rumit di baliknya. Di banyak komunitas kopi di Indonesia, perempuan mengerjakan sampai 70 persen tahapan produksi, dari kebun sampai penjemuran, tanpa nama mereka tercatat resmi di mana pun. Anak muda punya soal lain lagi. Minat mereka pada pertanian terus turun. Malik dan kawan-kawan (2024) dalam Journal of Agrosociology and Sustainability menyebut krisis regenerasi petani ini sebagai ancaman serius bagi masa depan pertanian Indonesia, dan sentra kopi seperti Gayo tidak kebal dari ancaman itu.
Melalui Proyek Food Systems, Land Use, and Restoration (FOLUR) yang berjalan di Aceh Tengah sejak 2022, dua belas desa dijadikan lokasi pembelajaran bersama. Proyek ini diinisiasi Pemerintah Indonesia, didanai Global Environment Facility (GEF), dan difasilitasi UNDP serta FAO. Yang tidak banyak diduga di awal, mesin penggerak perubahan di lapangan ternyata datang dari dua kelompok yang paling sering dilewati dalam program-program pertanian, yakni kelompok wanita tani dan kelompok petani muda.
Perempuan di Balik Cangkir Kopi Anda
Sudah lama perempuan Gayo bekerja tanpa banyak disebut. Merekalah yang memetik buah kopi yang benar-benar merah, sambil sekaligus munyerlak, istilah setempat untuk membersihkan cabang yang tidak lagi produktif. Ketelatenan itu berbuah. Panen yang terbuang jadi sedikit, dan tingkat kematangan buah lebih seragam sehingga mutu di cangkir ikut terjaga. Sayangnya, kerja telaten seperti ini nyaris tak pernah masuk hitungan kelembagaan. Reski dan kawan-kawan (2026) dalam Jurnal Wasian menemukan pola yang sama di sentra kopi lain, bahwa perempuan sangat dominan di tahap pemanenan dan pascapanen, tetapi suara mereka nyaris tak terdengar saat keputusan penting diambil di tingkat kelompok tani.
Kokowagayo mematahkan pola itu. Koperasi Kopi Wanita Gayo ini dijalankan perempuan dari hulu ke hilir, dari petani, pemetik, pengolah, sampai urusan ekspor. Mereka bahkan berhubungan langsung dengan pembeli di Eropa dan Amerika Utara, memangkas rantai perantara yang selama bertahun-tahun menggerus pendapatan petani. Menariknya, keberhasilan itu tidak lahir dari perlawanan terhadap laki-laki, melainkan dari kerja sama di dalam rumah tangga. Banyak suami yang justru mengambil alih urusan logistik dan administrasi, lalu membiarkan istri memimpin negosiasi dagang. Di masyarakat yang tadinya patriarkal, pergeseran peran semacam ini bukan hal kecil.
Ada peringatan penting dari Vicol dan kawan-kawan (2018) di jurnal World Development. Menurut mereka, intervensi rantai nilai kopi di Indonesia gampang tergelincir jadi keuntungan segelintir elite lokal kalau tidak dirancang inklusif sejak awal. Gayo agaknya sedang mencoba menghindari jebakan itu. Ketika perempuan benar-benar duduk setara di meja pengambilan keputusan koperasi, yang bertambah bukan cuma pemasukan rumah tangga. Mutu produk lebih terjaga, kepercayaan pembeli tumbuh, dan tekanan untuk membuka kebun baru pun mereda. Logikanya sederhana. Keluarga yang sudah cukup dari kebun yang ada tidak punya alasan mendesak untuk menebang hutan.
Anak Muda: Antara Merek dan Warisan
Persoalan anak muda Gayo berbeda, meski akarnya bertaut. Bagi mereka, hidup terasa seperti persimpangan. Bertahan di kebun berarti menerima pekerjaan berat dengan penghasilan yang naik turun mengikuti harga pasar. Merantau ke kota menjanjikan kepastian yang lebih besar, meski belum tentu terbukti. Sensus Pertanian 2023 memperlihatkan kecenderungan yang perlu diwaspadai, yakni makin sedikit anak muda yang mau menekuni profesi petani. Bila dibiarkan, Gayo bisa saja kehabisan penerus dalam satu atau dua dekade ke depan.
Namun di Desa Telege Sari dan Gegarang, ada yang mulai bergerak. Sekelompok petani muda menemukan celah dari tempat yang tak terduga: kopi Leles. Ini kopi dari buah-buah yang gugur atau tertinggal usai panen utama, yang dulu dipandang sebelah mata dan sering dibuang begitu saja. Di tangan anak-anak muda ini, Leles diperlakukan lain. Dengan pengolahan pascapanen yang cermat, ia menjelma jadi produk khas yang punya kisah tersendiri. Apa yang tadinya dianggap ampas kini bernilai jual. Lebih dari sekadar akal-akalan produk, ini menyangkut cara memandang ulang apa yang pantas disebut kopi bermutu.
Merek Alas Linge, yang lahir dari tangan kelompok petani muda Telege Sari, menunjukkan perpaduan yang menjanjikan. Sekitar 40 persen anggotanya perempuan. Mereka mengawinkan tiga hal yang jarang bertemu dalam satu orang: penguasaan teknik budidaya, kepekaan pada tradisi setempat, dan kelincahan memasarkan lewat kanal digital. Generasi sebelumnya sulit menjangkau ketiganya sekaligus tanpa akses ke media sosial. Di situlah perempuan dan anak muda saling melengkapi, bukan sekadar dua kotak sasaran dalam proposal proyek, melainkan dua kekuatan yang benar-benar bekerja bersama di lapangan.
Kopi Naungan sebagai Fondasi Ekologis
Semua terobosan tadi berpijak pada satu warisan lama petani Gayo, yaitu menanam kopi di bawah naungan. Kopi arabika di sini tumbuh di rindang pohon pinus atau lamtoro. Daun-daun yang gugur menyuburkan tanah, kelembapan terjaga, dan tanah tidak gampang tergerus air hujan. Lamtoro bahkan punya bonus tersendiri, sebab bintil akarnya menyumbang nitrogen alami yang menekan kebutuhan pupuk kimia. Ulya dan kawan-kawan (2023) dalam AIMS Agriculture and Food menegaskan bahwa agroforestri kopi termasuk jalan paling menjanjikan bagi ekonomi hijau di Indonesia, karena sekaligus menekan emisi dan membuka pintu ke pasar premium.
Klaim itu bukan sekadar teori. Lewat Analisis Skenario Terarah atau Targeted Scenario Analysis (TSA), FOLUR di Aceh Tengah membandingkan beberapa model budidaya kopi, dan hasilnya konsisten menunjuk ke arah yang sama: kopi naungan lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Sebanyak 2.160 anggota kelompok tani di dua belas desa percontohan sudah dilatih soal jarak tanam, pemangkasan, pengelolaan pohon pelindung, sampai pengendalian hama terpadu. Mereka pun belajar menyulap sisa kulit kopi menjadi pupuk organik, langkah sederhana yang ternyata besar dampaknya bagi kesehatan tanah.
Ketika Kopi Menjadi Jalan Kesetaraan
Pemerintah Aceh tidak tinggal diam melihat arah ini. Peraturan Gubernur Nomor 32 Tahun 2022 terbit khusus untuk mendukung kopi berkelanjutan, dan dokumen perencanaan daerah, baik yang jangka panjang 2025-2045 maupun jangka menengah 2025-2029, menaruh kopi berkelanjutan sebagai prioritas. Artinya, apa yang dikerjakan perempuan dan anak muda di kebun-kebun Gayo tidak berjalan sendirian. Ia menyatu dengan kerangka kebijakan yang lebih besar, bagian dari arus panjang pembenahan sektor kopi Aceh.
Tren ini juga sejalan dengan selera pasar. Konsumen di Eropa dan Amerika kian rewel soal jejak sosial dan lingkungan di balik apa yang mereka minum. Kopi Gayo, dengan sertifikasi Indikasi Geografis dan Fair Trade yang sudah dikantongi sejak 2010, punya modal kuat untuk masuk pasar premium. Modal itu kini bisa diperkaya dengan cerita baru, tentang perempuan yang memimpin koperasi dan anak muda yang membangun merek dari kopi yang dulu dibuang.
Tentu jalan di depan masih panjang. Koperasi perempuan perlu terus ditempa kapasitasnya. Anak muda butuh akses pembiayaan, pelatihan digital, dan yang tak kalah penting, penghargaan sosial atas pilihan mereka untuk bertani. Pendampingan lintas sektor, dari kementerian, pemerintah daerah, swasta, sampai lembaga donor, mesti berkelanjutan. Namun arahnya sudah cukup jelas terbaca. Ketika perempuan dan anak muda diberi ruang, kopi Gayo berhenti menjadi sekadar komoditas ekspor mahal dan berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Di balik secangkir kopi Gayo yang harum pagi ini, ada tangan-tangan yang lebih setara mengurus lanskap, dan ada anak-anak muda yang, untuk sekali ini, memilih pulang ke kampung.
Tim FOLUR

